Oleh: Ros Mindrayani
Bencana yang terjadi berulang harus dicari akar permasalahannya, karena bukan sekadar problem teknis, tetapi sistematis.
Beragam bencana terus menerpa wilayah negeri ini. Baru-baru ini, banjir melanda Jabodetabek, menyebabkan banyak korban, kerusakan rumah-rumah dan sekolah, serta berdampak pada kesehatan, khususnya pada anak-anak.
Berbagai bencana tersebut menunjukkan betapa lemahnya manusia. Betapa manusia membutuhkan pertolongan dari Allah SWT. Betapa tidak pantas bagi manusia untuk membangkang terhadap ketentuan-Nya.
Hal ini tampak jelas dalam kasus musibah banjir. Banjir terjadi ketika neraca air permukaan bernilai positif. Neraca air ditentukan oleh empat faktor: curah hujan; air limpahan dari wilayah sekitar; air yang diserap tanah dan ditampung oleh penampung air; serta air yang dapat dibuang atau dilimpahkan keluar wilayah tersebut.
Dari keempat faktor tersebut, hanya curah hujan yang tidak dapat dikendalikan oleh manusia. Tiga faktor lainnya sangat dipengaruhi oleh perilaku manusia, termasuk kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan oleh para penguasa.
Oleh karena itu, dalam menghadapi bencana banjir, tidak bijak jika menjadikan curah hujan sebagai kambing hitam.
Persoalan tutupan lahan yang terus menyusut, hingga semakin berkurangnya efektivitas sistem drainase dan pengelolaan sumber daya air (SDA), turut menjadi faktor yang memperparah musibah banjir. Akibatnya, saat musim hujan tiba, banjir menjadi sulit dihindari.
Semua ini patut diduga terjadi karena adanya kolusi antara penguasa dan kekuatan oligarki. Akar dari semua ini adalah penerapan sistem kapitalisme yang berlandaskan sekularisme—yakni pemisahan agama dari kehidupan.
Berbagai praktik yang menyebabkan kemaksiatan merupakan konsekuensi dari penerapan sistem kapitalisme-sekularisme. Semua bentuk kemaksiatan itu mengakibatkan kerusakan (fasad) di muka bumi, termasuk bencana alam dan dampaknya.
Apa yang terjadi saat ini baru sebagian dari akibat yang Allah SWT timpakan karena kemaksiatan yang terjadi di tengah-tengah manusia. Tujuannya agar manusia segera sadar dan kembali kepada syariat-Nya.
Allah SWT berfirman:
_"Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah menimpakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan Allah)."_
(TQS Ar-Rum: 41)
Karena itu, kunci untuk mengakhiri berbagai musibah ini adalah dengan mencampakkan akar penyebabnya: ideologi dan sistem sekularisme-kapitalisme. Selanjutnya, menerapkan ideologi dan sistem yang telah Allah SWT turunkan.
Dengan kata lain, kita harus menerapkan syariat Islam secara kaffah dalam seluruh aspek kehidupan, termasuk dalam pengelolaan lahan/tanah, sumber daya alam, dan lingkungan hidup. Wallahu a‘lam bish-shawab
No comments:
Post a Comment