Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Perundungan, Makin ditanggulangi Makin Menyala

Monday, July 07, 2025 | Monday, July 07, 2025 WIB
Perundungan, Makin ditanggulangi Makin Menyala


Bullying atau perundungan merupakan istilah yang sudah sering didengar bahkan familiar di telinga masyarakatIndonesia. Tidak lain disebabkan banyaknya berita kasus perundungan yang hampir setiap hari berseliweran di media sosial. Baik perundungan fisik, verbal, pelecehan seksual, dan lain sebagainya.


Di Bandung, Jawa Barat, seorang remaja SMP berusia 13 tahun  mengalami perundungan yang cukup mengerikan. Korban dimasukkan ke sumur oleh tiga orang temannya karna menolak untuk minum tuak dan merokok (detiknews.com, 27/06/2025). Beruntung kejadian ini tidak sampai merenggut nyawa tapi tentu saja menimbulkan trauma berat pada diri korban. Kemudian di Jakarta,  seorang anak berusia 8 tahun menjadi korban perundungan  teman sekolahnya. Bocah tersebut diduga mengalami kekerasan hingga meninggal dunia pada 26 Mei 2025 lalu akibat luka pada ususnya. 


Dua kasus diatas hanyalah secuil fakta dari kasus perundungan yang terjadi, belum lagi kasus kasus yang lolos dari pemberitaan media, tentunya jauh lebih banyak lagi. Kondisi ini tentu saja menggelitik nurani. Para orang tidak bisa lagi merasa aman ketika melepas anaknya ke dunia luar. Bahkan di tempat yang dinilai aman sekalipun, seperti sekolah, tidak ada jaminan anak-anak terhindar dari bullying. 


Perundungan bukan lagi sesuatu yang bisa diabaikan. Perlu solusi tuntas demi melindungi masa depan generasi bangsa. Salah satu penyebab maraknya bullying adalah era kebebasan informasi tanpa filter. Anak-anak saat ini pada umumnya tidak bisa lepas dari gadget. Disisi lain, jarang sekali orang tua mampu mengawasi dan menyaring tontonan anak-anak mereka. Tidak dapat dipungkiri bahwa kebobrokan perilaku masyarakat banyak timbul karna mencontoh perilaku tidak baik di medsos seperti kekerasan dan gaya hidup bebas. 


Menuntaskan persoalan bullying ini tentu bukan hal yang mudah. Butuh peran serta berbagai pihak diantaranya orang tua, guru, serta masyarakat lingkungan sekitar. Pemerintah pun pasalnya sudah melakukan berbagai cara untuk mengatasi hal ini. Himbauan dan pelatihan anti bullying digaungkan dimana-mana. Mirisnya, bukannya tuntas atau berkurang, kasus perundungan makin hari makin meningkat.


Jika demikian tentu ada yang salah dari penanganannya. Apa kesalahannya? Kesalahannya adalah penanganan yang tidak tepat sasaran. Ibarat orang sakit kepala yang diobati bukan sakit kepalanya melainkan bagian yang lain yang diobati. Mengapa bisa dikatakan demikian? Ya, karna dalam penanganan kasus bullying ini bukan hanya butuh sekedar solusi yang pasif saja tapi harus juga di berantas dari akarnya. Disamping itu, tampak tidak ada keseriusan pemerintah dalam memberantas hal tersebut. Penanganan setengah hati dari pemerintah dapat dilihat  salah satunya dari tidak adanya pembatasan terhadap konten yang tidak patut seperti kekerasan dan pornografi.


Inilah yang wajar terjadi dalam negara bersistem kapitalis sekuler. Semua kebijakan ditetapkan atas dasar keuntungan materi tanpa melihat dampak baik buruknya bagi rakyat. Banyak situs media sosial yang meresahkan namun dibiarkan eksis karena menyumbang devisa yang lumayan besar untuk negara. Bersamaan dengan itu, aturan agama telah ditinggalkan. Praktis, dalam negara bersistem kapitalis sekuler bullying tidak akan pernah tuntas.


 Berbeda dengan sistem islam dibawah kepemimpinan seorang Khalifah. Kasus perundungan tidak akan pernah terjadi. Kalaupun terjadi mungkin hanya persentase kecil saja. Mengapa demikian? Karena sistem islam menjadikan aqidah atau iman dan takwa sebagai landasan berfikir bukan yang lain.


Islam memiliki pendekatan yang komprehensif dalam mencegah dan mengatasi kasus perundungan. Islam menekankan pendidikan akhlak sejak dini sebagai fondasi karakter. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW,

"Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia."

(HR. Ahmad).

Generasi islam dibentuk agar menjauhi  bahkan melarang tegas segala bentuk kezaliman, termasuk mengejek, mencela, atau merendahkan orang lain. Selain itu, masyarakat islam adalah masyarakat yang saling melindungi dan menolong. Bukan masyarakat individualistis. Apabila terjadi, sanksi bagi pelaku perundunganpun sangat tegas sehingga membuat pelaku sadar dan orang lain tidak berfikir untuk melakukan perbuatan yang sama.


Terpenting, sebuah negara bersistem islam juga adalah negara yang berdaulat. Dari segi ekonomi, negara islam mampu mengelola dan membiayai kebutuhan rakyat dan negara dari berbagai sumber pendapatan. Memblokir konten-konten negatif bukan hal yang sulit dan pasti dilakukan. Tidak ada pertimbangan perolehan keuntungan materi sedikitpun. memfilter hal hal yang dapat merusak moral dan kepribadian islam. Tidak akan ada pengaruh budaya dari luar yang meracuni generasi penerus bangsa. Sistem islam adalah satu-satunya sistem yang dapat memberi solusi bagi perundungan dan semua persoalan umat manusia di dunia. Wallahu A'lam bishsawab.


Penulis: Felinawati

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update