Pinjaman Khusus UKT, Potret Buram Sistem Pendidikan

 


Oleh : Nina Kania


Pinjaman tidak hanya mengintai lingkungan masyarakat. Saat ini, mahasiswa pun jadi incarannya. Biaya pendidikan yang mahal menjadi ladang para pebisnis untuk memanfaatkan para mahasiswa. Mahasiswa yang tidak mampu bayar uang kuliah tunggal (UKT) dapat mengajukan pinjaman dengan bunga rendah. Nominalnya tidak main main, mencapai Rp 15 juta.


Disisi lain, kesempatan tersebut juga di sambut oleh beberapa kampus di Indonesia. Mereka memberikan  penawaran khusus pada mahasiswa berupa fasilitas kartu kredit hingga pinjaman online untuk membayar UKT, salah satu kampus ternama di jawa barat sudah mengakui hal tersebut.


Bagi lembaga keuangan seperti platform keuangan digital atau perbankan merupakan sasaran empuk. Meskipun tidak semua mahasiswa berpenghasilan, lembaga keuangan itu selalu pintar mencari celah.


Sedangkan kampus yang kini berubah menjadi perguruan tinggi berbadan hukum di haruskan pintar mengelola keuangan. Perguruan tinggi tidak bisa memberi kan keleluasaan pembayaran bagi seluruh mahasiswa. Hal ini karena tidak mungkin bagi perguruan tinggi untuk membantu semua mahasiswa. Perguruan tinggi didirikan sebagai lembaga pendidikan, bukan lembaga sosial. Jadi, perguruan tinggi mencoba mencari jalan lain yang di nilai dapat meringankan mahasiswa. Hal ini bertujuan agar pembayaran UKT tepat waktu dan disisi lain mahasiswa juga bisa melanjutkan kuliah.


Namun sangat disayangkan, kebijakan yang dinilai membantu mahasiswa ini ternyata malah memberatkan mereka. Meski kelihatannya mereka bisa membayar cicilan murah per bulan, kenyataannya pinjaman tersebut justru berbunga. Dari sini saja terlihat bahwa keberadaan mahasiswa justru menjadi target empuk meraih keuntungan. Artinya, kampus justru menjerumuskan mahasiswanya terlibat pinjol, padahal beberapa waktu lalu ratusan mahasiswa terjerat pinjol. Keputusan perguruan tinggi yang terkesan pragmatis ini menuai kontra dari berbagai pihak. Biaya kuliah yang mahal sampai mengakibatkan mahasiswa terpaksa menggunakan pinjaman riba menunjukan bahwa untuk mendapatkan pendidikan yang layak saat ini sangat sulit, hanya orang orang kaya yang bisa kuliah di kampus- kampus ternama. Tingginya pembiayaan kuliah ini juga menyebabkan generasi muda saat ini memilih bekerja. Mereka berpikir buat apa kuliah susah dan mahal jika tidak menjamin langsung dapat kerja.


Sistem pendidikan semacam ini merupakan sistem pendidikan yang mengadopsi barat. Sistem pendidikan ini bersifat kapitalistik dan mengambil sekularisme sebagai asasnya. Sekularisme mengakibatkan setiap kebijakan yang lahir hanya atas pertimbangan untung rugi. Agama tidak sekalipun menjadi rujukan dalam mengambil keputusan.


Sebenarnya, selain sistem pendidikan sekularisme, ada sistem pendidikan lain di dunia ini, yaitu sistem pendidikan islam. Sistem ini lahir dari ideologi Islam, setiap kebijakan yang ada, landasannya adalah hukum syara. Misalnya visi misi pendidikan dalam islam itu membentuk generasi yang berkepribadian islam, memiliki pola pikir islam dan pola sikap islam. Generasi yang seperti itu akan mampu membedakan antara yang benar dan salah atas dasar pandangan islam.


Islam memiliki pengelolaan keuangan yang cukup untuk membiayai kebutuhan dasar masyarakat, termasuk pendidikan. Oleh karena itu dalam Islam, pendidikan itu akan di berikan secara merata, negara tidak memandang kaya atau miskin, setiap masyarakat akan mendapat pendidikan secara gratis. Mereka tidak perlu berpikir dari mana memperoleh uang untuk membayar UKT. Mereka dapat konsentrasi menuntut ilmu dan menyiapkan diri untuk mengamalkan ilmunya. Dengan demikian, perguruan tinggi akan menjalankan tugasnya dengan baik. Lembaga pendidikan tidak perlu mencari uang untuk membiayai kebutuhan pendidikan, bahkan kampus tidak perlu menyuruh mahasiswanya untuk mengambil pinjaman karena islam mengharamkan riba. Jadi, aktivitas apa pun yang berbau riba meski tujuannya baik tetap haram hukumnya. Terakhir jika  kaum muslim menginginkan pendidikan sebagaimana konsep Islam, maka penerapan ideologi Islam lah jawabannya. Wallahu'alam bish ash shawab

Post a Comment

Previous Post Next Post