Banjir, Imbas Pembangunan ala Kapitalis


Oleh : Ummu Nazba


Dilansir dari AKURAT.CO, UPDATE HARI INI Banjir Pantura Demak-Kudus, Sudah Mulai Surut tapi Belum Bisa Dilewati Kendaraan, CEK Jalur Alternatif

Pada pukul 07.00 WIB hari ini Rabu 14 Februari 2024, Jalan Pantura yang menghubungkan Kudus dan Demak dilaporkan mulai mengalami pemulihan setelah terkena dampak banjir.

Meskipun air mulai surut, akses jalan masih terhambat karena beberapa titik masih tergenang.

Situasi ini menjadi fokus utama bagi warga sekitar dan pihak terkait untuk memulihkan aksesibilitas dan meminimalkan dampak yang ditimbulkan oleh bencana alam ini.


Banjir Kembali terjadi di berbagai wilayah.  Penyebabnya bermacam-macam, di antaranya karena curah hujan yang tinggi. Penyebab lain yang banyak terjadi adalah alih fungsi lahan yang merupakan dampak kebijkan Pembangunan.


Faktor curah hujan sebagai bagian dari perubahan musim memang tidak bisa kita hindari. Namun, faktor penurunan permukaan tanah di kawasan Pantura Jateng ini juga tidak bisa kita abaikan. Terkait hal ini, Badan Geologi Kementerian ESDM mencatat, kawasan Pantura Timur Jateng ini memiliki karakteristik penurunan muka tanah akibat pengambilan air tanah berlebihan dan pengaruh karakteristik tanah lunak di kawasan pesisir.


Parahnya banjir di Pantura Timur Jateng tidak terlepas dari terjadinya abrasi di daerah pesisir tersebut. Hal ini adalah akibat perubahan iklim, kerusakan ekosistem mangrove, dan penurunan permukaan tanah. Selain itu, wilayah pesisir Pantura Timur Jateng juga paling banyak menanggung dampak lingkungan dari aktivitas ekonomi manusia di hulu hingga hilir.

Dengan kata lain, masyarakat yang tinggal di hilir, seperti kawasan pesisir pantai ini merasakan dampak negatif paling besar dari aktivitas pembangunan besar-besaran di kawasan hulu. Hal ini memang tidak dirasakan oleh mereka yang tinggal di hulu. Sayangnya, tidak banyak yang sadar akan ancaman serius yang dihadapi masyarakat pesisir akibat aktivitas perekonomian di hulu.

Asal tahu saja, keberadaan ekosistem pantai sangat penting. Tidak saja mencegah interusi air laut, mengikat sedimen dan biofilter alami untuk melindungi kawasan pesisir dari abrasi dan tsunami, tetapi juga mampu menyerap emisi karbon. Ini sejatinya bisa menjadi langkah strategis untuk menjaga kelestarian dan keseimbangan alam di kawasan Pantura Timur Jateng.


Sayangnya, visi strategis untuk lingkungan dan ekosistem ini absen dari kacamata kapitalis. Gencarnya pembangunan sejumlah kawasan industri baru justru terjadi dengan dalih memacu pertumbuhan ekonomi di Jawa Tengah.

Kawasan jalur Pantura Jateng pun disebut masih menjadi magnet bagi investor karena faktor kesiapan infrastruktur, terutama jalur transportasi dan logistik. Kawasan industri yang terintegrasi di Pantura Jateng akan menarik investor menanamkan modal. Di wilayah itu telah tersedia jaringan jalan tol dan akses menuju pelabuhan.

Untuk itu, kawasan Pantura yang membentang dari Brebes hingga Semarang, serta kawasan Jateng bagian tengah yang terakses oleh jalan tol, yakni Solo dan sekitarnya, memiliki kapasitas untuk mengembangkan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru berupa kawasan industri.

Namun sebaliknya, wilayah Pantura Jateng bagian timur, yakni Demak, Kudus, Pati, hingga Rembang, sejatinya lumbung padi di Jateng. Kendati keberadaannya diharapkan tidak bertentangan dengan rencana pengembangan kawasan industri, tetapi ada baiknya tetap dipertahankan sebagai area pertanian, mengingat pentingnya kebutuhan sumber air yang juga kelangsungannya perlu dijaga.


Pembangunan kapitalistik sering abai pada dampak pada kehidupan manusia maupun keseimbangan alam.


Mirisnya, kepentingan kapitalis itu begitu brutal dan jorjoran. Dengan dukungan jalan tol Trans-Jawa, kawasan Pantura Timur Jateng pun seolah halal untuk begitu saja disulap menjadi kawasan industri. Terlebih, biaya produksi di kawasan industri Pantura Jabar seperti Bekasi dan Karawang juga mulai meningkat. Hal ini seiring dengan makin sempitnya lahan yang juga bisa dieksploitasi di sana. Tidak heran, biaya hidup yang lebih rendah di Jateng, turut dianggap bisa menurunkan biaya produksi untuk dunia industri.



Islam mewajibkan negara untuk mengurus rakyatnya termasuk dalam mencegah terjadinya musibah yang dapat dikendalikan. 

Islam memiliki kebijakan Pembangunan yang ramah lingkungan dan menjaga keselamatan dan ketentraman hidup.

Islam juga memiliki mekanisme yang mengatur kepemilikan lahan, alih fungsi lahan sehingga pengelolaannya tepat dan membawa manfaat untuk umat.


Islam tidak anti pembangunan. Hanya saja, pembangunan menurut kacamata Islam jelas pembangunan yang berdampak positif bagi rakyat. Banyaknya pembangunan di dalam sejarah peradaban Islam telah terbukti tidak ugal-ugalan sebagaimana dalam kapitalisme.

Pembangunan dalam Islam justru tidak mempertandingkan faktor ekonomi dengan faktor ekologi. Hal ini karena ada visi ibadah di sana bahwa pembangunan harus bisa menunjang visi penghambaan kepada Allah Taala. Untuk itu, jika suatu proyek pembangunan bertentangan dengan aturan Allah ataupun berdampak pada terzalimi nya hamba Allah, maka pembangunan itu tidak boleh dilanjutkan.

Rasulullah saw. bersabda, “Barang siapa mengambil sejengkal tanah dengan zalim, maka Allah akan mengalungkannya pada hari kiamat setebal tujuh lapis bumi.” (HR Muslim).

Kita juga patut memperhatikan firman Allah Taala dalam ayat, “Allah, Dialah yang mengirim angin, lalu angin itu menggerakkan awan dan Allah membentangkannya di langit menurut yang dikehendaki-Nya, dan menjadikannya bergumpal-gumpal; lalu kamu lihat hujan keluar dari celah-celahnya, maka apabila hujan itu turun mengenai hamba-hamba-Nya yang dikehendaki-Nya, tiba-tiba mereka menjadi gembira.” (QS Ar-Ruum [30]: 48).

Sedemikian teliti Allah menggambarkan proses terjadinya hujan. Sedemikian seimbang pula semestinya fungsi ekologis hujan tersebut bagi suatu kawasan. Jika ada aspek keserakahan ekonomi yang melampaui fungsi ekologis tersebut, tentu ada ketimpangan ekologis berupa bencana alam. Musibah banjir pun niscaya, bahkan menjadi bencana tahunan yang sudah terjadi puluhan tahun sebagaimana di Pantura Jateng.


Wallahualam bissawab.

Post a Comment

Previous Post Next Post