Hanya Islam yang Mampu Mewujudkan Keharmonisan Pembangunan dan Kelestarian Alam

Oleh Ummu Syifa

Aktivis Muslimah


Memasuki awal tahun baru 2024 di sebagian besar wilayah Indonesia sudah memasuki musim hujan. Namun, kegembiraan kita dengan datangnya musim hujan seringkali dibarengi dengan kekhawatiran tentang adanya kemungkinan banjir menimpa kita. Betapa tidak, banjir telah banyak menimbulkan kerugian dan dampak yang sangat luas bagi masyarakat.


Baru-baru ini, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Riau telah mencatat kurang lebih 6.000 orang di beberapa daerah di provinsi tersebut mengungsi akibat lahan, tempat tinggal dan tempat usaha mereka terdampak banjir sejak beberapa pekan terakhir ini. (cnnindonesia.com, 13/01/2024). 


Selain itu, banjir pun merendam ribuan rumah warga di kawasan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung diakibatkan sungai Citarum dan jebolnya anak sungai Cikapundung. (beritasatu.com, 14/01/2024).


Jika kita cermati, semua bencana banjir di berbagai wilayah di Indonesia sangat erat kaitannya dengan pembangunan wilayah yang tidak terencanakan secara komprehensif dan mendalam.  Pembangunan yang dilakukan dengan asas sistem kapitalis yang saat ini diterapkan hanya mengutamakan keuntungan dan abai terhadap dampak lingkungan. Terkadang ada proyek pembangunan yang tidak matang dikaji terlebih dahulu tentang bagaimana dampaknya terhadap lingkungan atau tidak sesuai Amdal (analisis mengenai dampak lingkungan) termasuk tata kota secara keseluruhan dalam berbagai bentuk, sehingga banyak pembangunan yang dilaksanakan menimbulkan kebahayaan bagi alam sekitar seperti alih fungsi hutan, pembangunan dilakukan dengan menggerus lahan-lahan hijau, pembangunan daerah tujuan wisata, pembangunan di daerah-daerah resapan air, drainase yang tidak diatur dengan baik, dan lain sebagainya.


Hujan yang seharusnya menjadi anugerah dari Allah Swt. kepada manusia di dalam kehidupannya, kini menjadi sesuatu yang menakutkan, tatkala manusia telah melakukan pengrusakan terhadap alam dan tidak menjaga kelestariannya. Sistem kapitalis menjadikan manusia serakah di dalam mengelola alam ini tanpa mempedulikan dampak jangka panjangnya bagi keselamatan hidup umat manusia. Sudah saatnya kita campakkan sistem kapitalis ini yang telah terbukti membawa kesengsaraan dan bencana bagi manusia.


Sungguh sangat berbeda dengan Islam. Islam telah menentukan bahwa kebijakan pembangunan harus mempertimbangkan kemaslahatan masyarakat dan menjaga lingkungan alam agar tetap dalam keharmonisan dan kelestariannya. Di dalam Islam, tidak akan pernah dibiarkan seorangpun merusak tatanan lingkungan yang benar. Para pemegang kebijakan (penguasa) hanya akan melaksanakan pembangunan apapun demi kepentingan umat dalam rangka memudahkan umat di dalam memenuhi segala bentuk kemaslahatannya. Penguasa dalam Islam hanya akan menjalankan kebijakan berdasarkan aturan Allah dan Rasul-Nya. Tidak akan pernah ada dalam Islam penguasa yang akan memberikan izin kepada sesorang atau kelompok tertentu untuk melakukan pembangunan yang membahayakan bagi orang lain dan alam sekitarnya.


Sudah saatnya kita kembali kepada Islam. Hanya Islam yang mampu mengatur kemaslahatan manusia dan melindungi manusia dari bahaya. Penerapan Islam secara kafah akan mampu mewujudkan keharmonisan antara  pembangunan dan kelestarian alam.


Wallahu a'lam bishshawwab.

Post a Comment

Previous Post Next Post