Asing Ikut Menyumbang Dana, Benarkah Pemilu Ajang Berburu Kepentingan?

 



Oleh. Farah Friyanti
(Aktivis Muslimah)

Tinggal menghitung hari masyarakat Indonesia akan mengetahui siapa Presiden dan wakil Presiden. Media online dan jagat maya juga ramai memberitakan respons masyarakat. Harapan besar bagi jagoan pilihan mereka bisa membawa perubahan berdasarkan asumsi dan janji para kandidat. Akan tetapi usaha meraih suara rakyat tidak mudah, butuh dana tidak sedikit untuk menjadi penguasa . Pertanyaannya dari mana dana itu mereka peroleh ?

Perlu diketahui bahwa kampanye yang dilakukan partai politik adalah untuk memahamkan pemilih terkait visi, misi, ciri pasangan calon dan program kerja ke depan. Sebagaimana tercantum dalam Pasal 1 angka 20 Peraturan KPU 18/2013 dana kampanye diperoleh dari APBN, Pasangan calon, parpol pengusung dan koalisi parpol serta sumbangan yang sah menurut hukum dari pihak lain. Namun tak bisa dimungkiri ada keterlibatan asing menjadi penyumbang dana kampanye.

Melansir dari CNBCIndonesia (12/01/24), Ketua Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) Ivan Yustiavanda mengatakan ada 21 rekening parpol yang menerima dana dari luar negeri ke rekening  partai politik yang jumlahnya sangat fantastis, tercatat pada tahun 2022 ada 8.270 transaksi dan meningkat di tahun 2023 ada 9.164 transaksi. Ivan juga menemukan transaksi luar negeri yang melibatkan daftar calon legislatif terdaftar (DCT) nilai transaksi penerima sebesar 77 triliun.

Temuan ini memperkuat asumsi bahwa pemilu 2024 tak lepas dari campur tangan asing. Kesempatan ini diambil untuk memperbudak rakyat dan penguasa. Akan tetapi ini terus berulang terjadi seolah tidak ada kemandirian dan ketergantungan pada asing. Keterlibatan asing tak boleh dianggap remeh. Karena sejatinya tidak ada makan siang gratis. Bantuan asing hanyalah strategi mereka untuk mengambil kepercayaan dan kerja sama yang menguntungkan jika paslon yang didukung bisa menang pilpres. Keinginan besar berupa kerja sama yang menguntungkan baik berupa perijinan proyek yang dipermudah, kontrak kerja dengan biaya produksi rendah dan pemodal asing bisa berinvestasi dengan mudah di negara ini.

Sungguh ironis negara dengan kekayaan SDM dan SDA melimpah justru mau diperbudak oleh asing. Partai pengusung seharusnya bisa membaca ini karena jika dibiarkan biasnya bisa berdampak bagi rakyat kecil. Jangan mengambil bantuan tanpa berpikir kenyataan ke depan yang akan ditanggung. Apalagi melihat situasi saat ini negara kita sedang tidak baik-baik saja. Kekayaan alamnya dijarah, pengangguran terus bertambah dan kehidupan masyarakat semakin jauh dari kata sejahtera.

Gen Z dan milenial sebagai mayoritas pemilih harus peka terhadap kondisi perpolitikan saat ini. Jika sistem yang sama di bawah komando orang baik tidak akan mampu membawa perubahan. Perubahan yang dimaksud adalah kemandirian ekonomi, politik, sosial dan keamanan. Berbagai krisis dan problem umat tak sedikit. Umat masih berpikir penyebab utamanya ada kepemimpinan. Namun perlu diingat jika pemimpinnya rusak maka yang dipimpin juga rusak. Karena itu semangat memilih pemimpin masih sangat kuat dirasakan dengan bergantinya pemimpin bisa membawa perubahan. Apakah ini cukup? Belum lagi adanya pihak asing yang berada di belakang untuk membantu.

Politik kepentingan semakin nyata terlihat. Sejumlah dana dari pihak asing akan dijadikan modal untuk kampanye politik yang berbiaya mahal. Pasangan calon yang menggunakan dana politik asing harus menerima konsekuensi pilihannya dari sokongan dana asing. Saat kemenangan itu di dapat maka penguasa akan membagi-bagi jatah kekuasaannya pada pihak yang membantunya ketika pemilu.

Belum lagi money politik juga bermain di sini. Keinginan berkuasa seakan-akan menjadi candu. Bagi mereka yang sudah diberi amanah berkuasa akan berusaha mempertahankan kekuasaan dengan cara apapun. Bisa kita lihat anggota DPR yang sudah terjaring kasus korupsi, tidak malu menyampaikan kerugian materi yang tidak sedikit untuk bisa duduk di kursi DPR. Banyak dari mereka harus mengambil uang rakyat atau korupsi untuk balik modal dan mengumpulkan dana kampanye agar bisa mencalonkan diri lagi di periode berikutnya.

Bukankah Allah Swt telah mengingatkan kita: "Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri" (TQS ar-Ra’du [13]: 11).

Perubahan suatu kaum tak hanya berdasarkan pada pergantian pemimpin. Buktinya saat ini sudah berkali-kali berganti pemimpin tidak memberikan perubahan yang berarti.  Kemaksiatan dan dosa terjadi karena umat Islam jauh dari ketaatan pada Allah Swt. melalaikan yang fardhu dan terbiasa dengan perbuatan haram.

Kaum Muslim harus memahami bahwa Islam adalah solusi setiap persoalan umat. Dengan adanya negara yang berdaulat dan menjadikan Al-Quran sebagai petunjuk kehidupan umat. Allah memberikan petunjuk bahwa persoalan hidup karena mereka mencampakkan syariah-Nya dan mengambil aturan lain yaitu sekular-demokrasi. Sehingga wajar umat masih dalam belenggu kemaksiatan yaitu menjadikan asing (orang kafir) sebagai teman kepercayaan dalam setiap problem di Negeri ini. 

Wallahu a'lam bishawab

Post a Comment

Previous Post Next Post