Mencegah Stunting dengan Solusi Islam

 


Oleh. Farah Friyanti

(Aktivis Muslimah)

Anak cerdas dan sehat tentu menjadi dambaan  orang tua. Sebagai generasi penerus bangsa anak sangat diharapkan memiliki tumbuh kembang yang baik. Setiap orang tua akan berusaha memenuhi gizi dengan asupan yang sehat dan baik. Akan tetapi ancaman gizi buruk tak terelakan dari masyarakat saat ini. Kemiskinan dan kelaparan menjadi berita buruk yang mengancam keluarga. Sehingga kasus stunting pun masih menjadi masalah besar di Indonesia. 


Persoalan stunting tidak boleh dianggap sepele. Jika tidak ditangani secara serius maka akan berakibat fatal. Apalagi Indonesia memiliki bonus demografi jika masyarakatnya stunting maka kualitas generasi akan menurun akibat kurang gizi atau gizi buruk. Stunting adalah gagal tumbuh pada anak, sehingga tidak mengalami pertumbuhan sesuai dengan umurnya. Tentunya pemerintah harus memberikan perhatian khusus bagi persoalan ini.


 Masyarakat perlu mengenali fase awal anak mengalami stunting. Menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO), balita pendek mengalami gagal tumbuh pada usia 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Periode ini dimulai dari fase kehamilan (270 hari)  hingga anak berusia dua tahun (720 hari). Jika selama periode ini anak tidak mengalami pertumbuhan dan perkembangan maka anak akan mengalami gagal tumbuh dan ini bersifat permanen tidak bisa diubah lagi.


Ada dua faktor penyebab stunting pada anak yaitu pertama, kesehatan ibu hamil yang kurang baik saat mengandung. Kedua, asupan gizi yang kurang baik saat awal kehidupan dan pola pengasuhan yang tidak tepat pada balita. 


Sungguh miris sekali negara yang kaya akan sumber daya alam dan tanahnya subur masyarakat ternyata hidup dalam kemiskinan. Masyarakat tak mampu memenuhi kebutuhan gizi yang cukup. Ini juga diperparah dengan dana stunting yang dipersiapkan pemerintah tak tepat sasaran dan bahkan diselewengkan. Harapan zero stunting seakan jadi ilusi.


Melansir dari beritasatu (1/12/23) , Menurut Hasbullah Thabrany selaku Guru besar Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia terdapat penyelewengan dana stunting di tingkat daerah. Ini juga disampaikan Presiden Jokowi bahwa dana stunting digunakan untuk keperluan rapat dan perjalanan dinas. Perilaku Korupsi dikalangan pejabat tidak akan bisa menurunkan prevalensi stunting di Indonesia. Hasbullah berharap pemerintah dapat melakukan pengawasan terhadap dana stunting agar pendanaan program stunting dapat maksimal.


Inilah konsekuensi penerapan sistem kapitalisme. Penguasa sebenarnya meriayah rakyat namun mereka malah merampas hak rakyat dan berlaku zalim. Penyelesaian stunting tidak bisa dimulai dari anak usia sekolah atau memberi makan siang gratis. Stunting bisa dicegah dengan mempersiapkan gizi calon ibu yang cukup agar melahirkan anak sehat dan cerdas. Jika asupan gizi ibu dan anak dikontrol dan dipenuhi dengan baik stunting dapat dicegah.


Penyelesaian stunting berkaitan antara pendidikan dan ekonomi. Sebagai calon ibu harus memiliki pendidikan yang baik agar bisa bermanfaat bagi anaknya. Ilmunya berguna untuk memenuhi kebutuhan anak baik dalam hal pemenuhan gizi dan kebutuhan anak. Jika ini disepelekan anak akan dalam pengasuhan yang buruk. Calon ibu harus memiliki pengetahuan yang cukup sebelum masa kehamilan dan setelah melahirkan. 


Kesiapan sistem pendidikan harus disediakan negara secara gratis seperti pada masa khilafah Islamiyah. Berharap pada sistem pendidikan saat ini sarat akan komersialisasi, berbiaya mahal dan mengabaikan pelajaran agama yang menjadi penopang akidah keluarga.


Begitupun sistem ekonomi juga menjadi penunjang kesejahteraan masyarakat. Kenyataan saat ini pemerintah membuka kran impor bagi para investor. Ini mengakibatkan produk lokal kalah bersaing dengan produk impor. Pengurangan subsidi bagi petani menambah derita sehingga harga dan kualitas produk lokal kalah dari produk impor, petani pun merugi. Dampak dari ini semua masyarakat sulit mendapat pangan murah.


Dalam sistem Islam, negara menjamin pangan murah dan terjangkau. Menyediakan lapangan kerja bagi laki-laki agar bisa memperoleh nafkah bagi keluarga, dan memberikan bantuan bagi mereka yang tidak bisa bekerja khususnya orang tua dan orang sakit menahun. Semua ini dilakukan karena amanah yang harus ditunaikan, berbeda dengan potret penguasa saat ini yang zalim terhadap hak rakyat.


Untuk itu solusi masalah stunting adalah peran negara secara terstruktur menjamin pemenuhan kebutuhan dasar ibu dan anak, pendidikan dan kesehatan gratis yang berkualitas. Karena politik adalah mengurusi rakyat, bukan politik kapitalisasi yang sarat akan kepentingan atau keberpihakan pada korporasi. 


Pemimpin Islam adalah pengurus yang bertanggung jawab atas rakyatnya sebagaimana sabda Rasulullah saw. : "Imam (Khalifah) raa’in (pengurus rakyat) dan ia bertanggung jawab terhadap rakyatnya.” (HR Ahmad dan Bukhari).

Semua ini hanya bisa terwujud dengan kembali diterapkannya sistem Islam secara sempurna dalam setiap sendi kehidupan. 


Wallahu a'lam bishawab

Post a Comment

Previous Post Next Post