Judi Online Semakin Marak, Generasi Makin Rusak


Oleh : Sukey

Aktivis muslimah ngaji


Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyoroti peningkatan risiko keterlibatan anak-anak dalam judi online, khususnya pelajar SMP/Madrasah Tsanawiyah dan SMA/Madrasah Aliyah yang aktif menggunakan internet, berisiko tinggi terpapar judi online melalui media sosial dan game online. Temuan Persatuan Guru Seluruh Indonesia (PGSI) Kabupaten Demak yang mengklaim ada sekitar 2.000 siswa di Demak yang terpapar judi online.


Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) menyebutkan, ada lebih dari Rp 500 transaksi judi online sepanjang 2017 hingga 2023. Kepala Pusat Teknologi PPATK Achmad Sukroni menyampaikan, dari total nilai transaksi judi online tersebut, sepanjang 2022 hingga 2023 sebanyak 3,29 juta orang terlibat di dalamnya. Laporan terbaru PPATK menemukan 2,7 juta orang Indonesia terlibat judi online – sebanyak 2,1 juta di antaranya adalah ibu rumah tangga dan pelajar – dengan penghasilan di bawah Rp100.000 (PijarNews; 10/12/2023).

Sebagaimana penjelasan sebelumnya, dalam waktu setahun, kenaikan perputaran uang untuk perjudian hampir mendekati 50%. Ini bisa mengindikasikan bahwa masyarakat negeri ini suka dengan judi. Padahal, perjudian adalah aktivitas yang dilarang. Beberapa aturan mengenai perjudian pun dibuat, seperti Pasal 303 dan Pasal 303 bis KUHP. Ada lagi, hukum judi online secara khusus dalam Pasal 27 ayat (2) UU ITE dan perubahannya.


Ahli kesehatan mengatakan bahwa orang-orang yang tenggelam dalam perjudian tidak dapat menghentikan diri mereka sendiri walaupun ada konsekuensi negatif. Di antara konsekuensi negatif, yakni pertama, kecanduan. Kedua, tingkat ekonomi menurun. Ketiga, kesehatan mental terganggu karena membuat pemainnya menjadi lebih emosional dan stres akibat kecanduan dan kalah dalam permainan.


Keempat, meningkatnya tingkat kriminalitas. Seseorang yang kalah ketika bermain, akan menghalalkan berbagai cara untuk mendapatkan uang agar bisa bermain lagi. Kelima, pencurian data. Data yang digunakan untuk mendaftar dipakai untuk kepentingan yang tidak semestinya. Kemudian, bagaimana dampak kerusakan akibat judi online pada anak? Dampak judi online pada anak, yakni merusak konsentrasi belajar. Ketika anak masih dalam bangku sekolah gagal fokus pada pelajaran, hasil belajar menjadi menurun.

Kesehatan mental pada anak juga anak terganggu. Kecanduan judi menyebabkan depresi dan perasaan tertekan. Bayangkan, jika generasi mengalami kerusakan karena judi online, generasi emas yang didambakan bangsa adalah omong kosong belaka. Bisa dipastikan bangsa ini kehilangan masa depan terbaik karena generasi telah rusak secara sistemis.


Menjamurnya judi online tidak lain karena mereka ingin mendapatkan keuntungan yang banyak dalam waktu singkat. Judi online ibarat candu, permainannya bisa melenakan. Jika kalah, si pelaku akan mencoba bermain lagi karena diiming-imingi uang banyak jika menang.


Ini sejalan dengan sifat generasi kini yang maunya serba instan. Ingin mendapatkan sesuatu, tetapi tidak ingin bersusah payah. Sikap tersebut didukung dengan fasilitas yang makin memudahkan Selain itu, yang berperan membentuk para pemuda demikian adalah sistem. Lingkungan sekuler membuat mereka tidak lagi dekat agama. 


Kemajuan teknologi dalam kehidupan kapitalistik terbukti membawa banyak dampak negatif. Terutama bagi anak-anak yang masih belum dewasa dan belum mampu menggunakan teknologi secara bertanggung jawab. Teknologi HP, harusnya digunakan untuk mempermudah komunikasi dan media pembelajaran bagi pelajar. Pada zaman sekarang ini, justru banyak digunakan untuk judi online.


Ponsel yang seharusnya digunakan untuk mempermudah komunikasi dan media pembelajaran bagi pelajar, pada zaman sekarang ini justru banyak digunakan untuk judi online, seperti yang dilakukan oleh para pelajar yang terlibat aktivitas haram tersebut.


Judi online menjadi berkembang pesat dikarenakan cara memainkannya yang sangat sederhana dengan keuntungan yang besar secara cepat. Keuntungan adalah salah satu alasan utama para pelajar tertarik sehingga terlibat langsung dalam permainan judi online tanpa perlu melakukan usaha berat dan melelahkan. Keuntungan yang ditawarkan dalam permainan judi online memang sangat menarik dan beraneka ragam. Ini karena pada perhitungannya terdapat kelipatan ganda yang sangat besar dari jumlah taruhan yang dipasang jika bisa menang. Jika kalah pun, si pelaku akan mencoba bermain lagi karena diiming-imingi uang banyak jika menang.


Apalagi sifat hedon sudah mewarnai karakter mereka. Sementara itu, kehidupan ekonomi yang terus mengimpit akibat penerapan sistem kapitalisme juga menjadi media yang menyuburkan mereka untuk mencari keuntungan berlipat secara cepat.

Sebagai generasi yang inginnya serba instan, judi online akhirnya menjadi jalan pintas bagi pelajar yang ingin cepat dapat uang. Apalagi jika sifat hedonistik sudah mewarnai karakter mereka. Kehidupan ekonomi—yang terus mengimpit akibat penerapan sistem kapitalisme—juga menjadi media yang menyuburkan mereka untuk mencari keuntungan berlipat secara cepat. 


Komisioner KPAI Jasra Putra mengatakan industri judi online menjadikan anak-anak sasaran karena banyak hambatan ke orang dewasa. Celah judi online dimanfaatkan dengan memasang gambar figur, artis, kartun, dan isu kekinian. Beginilah wajah lain kapitalisme, memangsa siapa pun yang bisa menghasilkan keuntungan, meski harus merusak generasi bangsa.


Korban judi online terus datang dari kalangan anak-anak. Pemerintah hanya mengatakan kerugian dari sisi materi (uang), tetapi tidak berusaha memberikan tindakan preventif dan kuratif secara sistemis. Kalaupun ada tindakan pemutusan akses, itu dilakukan secara tebang pilih dan beberapa situs judi masih bisa beroperasi. Penyelesaian masalah ini mustahil tuntas dalam sistem demokrasi kapitalisme.


Haramnya judi telah jelas dalam banyak dalil. Keharamannya bukan sekadar karena mendatangkan dampak buruk bagi para pelakunya. Allah Swt. bahkan menyejajarkan judi dan miras dengan penyembahan berhala, lalu menggolongkannya sebagai perbuatan setan.


إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْأَنْصَابُ وَالْأَزْلَامُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ


“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.” (QS Al-Maidah: 90).


Dalam kehidupan sekuler saat ini, bisa jadi banyak para pelajar yang tidak paham keharaman judi. Mereka yang sudah tahu pun cenderung abai karena tidak ada penjagaan serius bagi generasi dari segala perbuatan haram. Pendidikan di sekolah yang jauh dari penanaman akidah dan syariat juga malah memudahkan pelajar tergelincir pada perbuatan yang Allah benci. Kebijakan media yang sangat tidak edukatif bagi pelajar pun makin mudah menyeret pelajar dalam arus kerusakan akhlak.


Oleh karenanya, mengatasi maraknya judi online di kalangan pelajar tidak cukup dengan nasihat dan ceramah kepada mereka. Perlu ada solusi mendasar dan komprehensif.


Pertama, peran orang tua dalam mendidik putra putrinya agar menjadi anak yang saleh shalihah, agar tidak mudah terjerumus dalam aktivitas yang buruk, apalagi melanggar hukum.


Kedua, penerapan sistem pendidikan Islam yang berbasis akidah Islam, yang akan membentuk pola pikir dan pola sikap pelajar sesuai arahan Islam. Dengan demikian, pelajar akan memiliki standar dalam memilih aktivitasnya, bukan sekadar untuk kesenangan materi, tetapi akan menyibukkan diri dengan segala hal yang bisa mendatangkan keridhaan dari Allah.


Ketiga, peran masyarakat yang mendukung terwujudnya pelajar yang cinta ilmu, dekat dengan kebaikan.


Keempat, peran negara dalam mewujudkan sistem yang mendukung terbentuknya kesalehan generasi. Mudah bagi negara sebagai institusi yang memiliki kekuasaan untuk menutup akses judi online bagi segenap masyarakat, termasuk pelajar. Begitu juga konten-konten media yang nonedukatif lainnya.

Penerapan semua kebijakan tersebut akan membuat aktivitas judi hilang sebab suasana keimanan yang dibangun negara membuat orang taat syariat. Hal ini akan menyelamatkan para pemuda dari jerat judi yang menggiurkan. Hanya saja, kebijakan ini tidak bisa diterapkan di sistem sekarang. Jadi, untuk menyelamatkan pemuda dari incaran pebisnis judi, hanyalah dengan penerapan Islam.


Jalan satu-satunya untuk menyelamatkan generasi dari kerusakan akibat judi ialah melalui tegaknya syariat Islam dalam naungan Khilafah. Generasi dalam Islam terbina dengan pemikiran Islam, berakidah dan berkepribadian Islam yang kukuh, serta berprestasi dalam akademik dan bermanfaat di tengah umat.

Post a Comment

Previous Post Next Post