ISLAM SOLUSI PERMASALAHAN STUNTING.



Bapak Bupati Bandung, Dadang Supriatna mengadakan kunjungan dan sosialisasi ke sebuah pondok pesantren di Kecamatan Solokan Jeruk, Majalaya Kabupaten Bandung, pada Minggu tanggal 26 November 2023 yang lalu, terkait program percepatan penurunan angka stunting dan ibu hamil, dengan mengintruksikan kepada para aparatur sipil negara( ASN) untuk menjadi bapak atau ibu asuh. 


Pada tahun 2021, prevalensi stunting di Kabupaten Bandung, mencapai 31 persen, maka pada tahun 2022 turun menjadi 25 persen. Bupati bedas menargetkan pada tahun 2023 hingga 2024, prevalensi stunting bisa ditekan lagi, turun menjadi 16 persen. Jika program bapak- ibu asuh stunting sukses, beliau optimis dapat terjadi penurunan, minimal di sekitar 10 persen, dan apabila lebih fokus lagi, tahun depan akan bisa zero.


Sebagaimana kita ketahui, bahwa ada banyak faktor yang menjadi penyebab terjadinya masalah stunting hingga saat ini, diantaranya adalah anak kekurangan asupan gizi selama 2 tahun awal usianya, ibunya saat hamil kekurangan nutrisi , serta keadaan sanitasi yang buruk, dan semua itu disebabkan oleh faktor  kemiskinan.


Alhasil, dengan adanya program pemkab Bandung yang melibatkan aparatur sipil negara (ASN) menjadi bapak atau ibu asuh untuk anak stunting dan ibu hamil, hanyalah program yang tidak menyentuh akar permasalahan ( pragmatis), yang justru menunjukkan bukti Pemkab telah melimpahkan tanggungjawab kepada pihak ASN yang harus memikul beban masalah stunting ini. Selain itu, faktor masalah kemiskinan pun tidak tersentuh.


Oleh karena itu, walaupun sudah ada 3 program Kemenkes, dalam mencegah stunting, di antaranya dengan pemberian penambah darah, pemeriksaan kehamilan, dan pemberian makanan tambahan berupa makanan empat sehat lima sempurna bagi balita usia 6 bulan hingga 2 tahun,  program- program tersebut,  tidak bisa menyelesaikan permasalahan. 


Masalah kemiskinan merupakan masalah yang disebabkan oleh sistem kehidupan yang diterapkan saat ini, yakni sistem kapitalisme liberalisme, akibat distribusi (penyebaran) harta yang berkumpul di satu pihak, yaitu para pemilik modal (kapitalis). Sementara di sisi yang lain, masyarakat yang mayoritas, kekurangan harta. Bahkan sistem ini telah menimbulkan jurqng yang lebar antara yang kaya dan yang miskin.


Hal tersebut disebabkan oleh peran negara yang sebatas regulator, dan tidak berperan dan bertanggung jawab sebagai pengurus rakyatnya, dan dalam pengelolaan sumber daya alam (SDA) yang justru dikelola oleh swasta (lokal, asing, dan aseng). Maka kemiskinan akan terus ada tanpa bisa terselesaikan, yang berarti masalah kurang gizi pada ibu hamil dan anak yang mengakibatkan stunting, tidak akan terlesaikan.



Mirisnya lagi, keberadaan  UU Omnibus law cipta kerja yang hanya menguntungkan para korporasi,menambah kemiskinan di tengah masyarakat, karena nasib para buruh yang gajinya kecil, semakin menderita. Dengan aturan upah yang baru, yang kenaikannya hanya di bawah 10 persen, sementara harga kebutuhan pokok sehari- hari semakin melambung hingga 20 persen. Buruh (pekerja) banyak dirugikan, sementara para pengusaha (korporasi/kapitalis) lah yang diuntungkan.


Oleh karena itu, penerapan sistem kapitalisme-sekularisme dengan ekonomi liberalnya lah  yang menjadi masalah mendasar. Agar persoalan kemiskinan dapat diselesaikan, maka sistemnya yang harus diganti, dengan sistem yang memberi kebaikan kepada seluruh rakyat, baik miskin maupun kaya. 


Itulah sistem Islam, yang berasal dari Sang Khalik, Allah SWT, yang Maha Tahu apa yang terbaik bagi manusia. Dalam Islam yang diterapkan secara menyeluruh (kaffah), negara akan menerapkan sistem ekonomi Islam yang mengatur kepemilikan dan mengelola sumber daya alam untuk kesejahteraan rakyatnya, karena merupakan kepemilikan umum (rakyat) yang harus dipergunakan untuk kemakmuran rakyat.


Melalui pengelolaan SDA ini, negara akan mendapatkan sumber pendapatan yang besar bagi  baitul mal (kas negara), yang diperuntukkan bagi pembangunan sarana pra-sarana umum, semisal sekolah hingga perguruan tinggi, pusat-pusat kesehatan masyarakat, pasar, jalan, dan infrastruktur lainnya, yang semuanya dipergunakan oleh rakyat secara gratis. 


Lapangan pekerjaan dibuka seluas-luasnya, sehingga rakyat dapat memenuhi kebutuhan primer mereka, baik sandang pangan maupun papan, karena mempunyai penghasilan yang cukup dan tidak perlu memikirkan biaya pendidikan, kesehatan dan keamanan, karena telah dipenuhi oleh negara, sehingga taraf hidupnya sejahtera dan terhindar dari kemiskinan.Sehingga akan mampu mewujudkan para ibu yang sehat dan anak-anak yang bebas dari stunting, menjadi generasi yang kuat.


Keberadaan pemimpin yang beriman dan bertakwa, amanah terhadap urusan rakyat, menjadikan mereka  bersungguh-sungguh mengurusi rakyatnya, dengan penuh tanggung jawab. Karena seorang pemimpin dalam Islam akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya kepada Allah SWT, kelak di pengadilan akhirat.


Rasulullah Saw, bersabda :

"Imam( Khalifah) ra'in (pengurus rakyat), dan dia akan bertanggung jawab terhadap rakyatnya. 

(HR.Ahmad dan Bukhari).


Yuli Ummu Shabira.

Wallahu'allam bish shawwab🙏.

Post a Comment

Previous Post Next Post