> Palestina, Tanah Barokah Penuh Dengan Darah - NusantaraNews

Latest News

Palestina, Tanah Barokah Penuh Dengan Darah


Oleh : Bunda An Nadira


Genosida yang dilakukan zionis Yahudi telah memakan ribuan korban jiwa, usai rudal yang diluncurkan Zionis Yahudi menghantam rumah sakit dan gereja tertua, Saint Porphyrius, yang terletak di Jalur Gaza Sabtu (7/10) lalu.

Jumlah bom yg dijatuhkan kaum agresor yahudi mencapai 6 ribu bom total berat 4 ribu ton. Militer israel juga menggunakan bom fosfor putih. Bom tersebut sesungguhnya telah dilarang penggunaanya dimedan perang karena efek merusaknya yg dasyat pada korban. 


Kementerian Kesehatan Gaza melaporkan, jumlah korban tewas di Jalur Gaza mencapai 4.137 orang. Sementara itu, 13.162 orang mengalami luka-luka. Kondisi kehidupan warga Palestina di Jalur Gaza pun bertambah menderita Hal itu karena Zionis Yahudi sudah memberlakukan blokade total terhadap wilayah tersebut. Pasokan barang-barang esensial, seperti makanan, obat-obatan, termasuk listrik dan air, dihentikan. Gaza bak “penjara terbuka paling besar di dunia”. Ngeri!


Penjajahan Zionis Yahudi Israel sudah berlangsung 75 tahun sejak 1948. Persoalan Palestina tidak lepas dari konteks negara kafir penjajah yaitu Inggris dan Amerika Serikat.  Semenjak pendudukan Zionis Israel di Palestina, mereka mengusir sekitar 1 juta warga. Lalu merampas hak milik warga Palestina, mencaplok puluhan kota dan ratusan desa-desa. Aktivitas terror itu sama dengan terorisme karena ada pembantaian di mana-mana. Gaza telah menjadi penjara hidup terbesar di dunia dengan delapan pintu masuknya. Satu pintu Rafah menuju Mesir dan tujuh pintu lainnya menuju Israel. Jalur Gaza ini dibangun dinding yang memanjang sekitar 10 sampai 11 KM. Dinding cukup tebal tertanam sampai sekitar 18 m di bawah permukaan tanah dan dinding itu adalah dinding logam yang dibuat di Amerika Serikat.


Sejarah Pendudukan Israel atas Palestina

Dalam buku Jejak-Jejak Juang Palestina karya Musthafa Abd Rahman dijelaskan, dua peristiwa sejarah yang menjadi fondasi perampokan tanah Palestina itu berkisar pada 1900-an. Pertama, peristiwa Perjanjian Sykes-Picot pada 1916 antara Inggris dan Prancis. Inggris dan Prancis membagi peninggalan Dinasti Ottoman di wilayah Arab. Pada perjanjian tersebut ditegaskan bahwa Prancis mendapat wilayah jajahan Suriah dan Lebanon, sedangkan Inggris memperoleh wilayah jajahan Irak dan Yordania. Sementara itu, Palestina dijadikan status wilayahnya sebagai wilayah internasional.


Kedua, peristiwa sejarah Deklarasi Balfour pada 1917. Perjanjian ini menjanjikan sebuah negara Yahudi di tanah Palestina pada gerakan zionisme. Di bawah payung legitimasi Perjanjian Sykes-Picot dan Deklarasi Balfour tersebut, warga Yahudi di Eropa mulai bermigrasi ke Palestina pada 1918. Pada awal 1930-an, gerakan Zionis di Palestina berhasil mendapat persetujuan pemerintah protektorat Inggris untuk memasukkan imigran Yahudi ke Palestina secara besar-besaran. Reaksi rakyat Palestina saat itu tegas. Mereka akhirnya melakukan mogok total pada 1936.


Namun, negara-negara Arab, atas permintaan Inggris, membujuk pemimpin spiritual Palestina, Muhammad Amien Huseini, agar menginstruksikan kepada rakyat Palestina mengakhiri aksi mogoknya. Sewaktu itu, pemerintah protektorat Inggris menjanjikan bakal menyelesaikan masalah Palestina bila Amien bersedia menggunakan pengaruhnya terhadap rakyat Palestina.

Dengan jaminan Inggris dan atas nama solidaritas negara Arab, Amien Huseini pun memenuhi permintaan dan aksi mogok pun berakhir. Kemudian, Pemerintah Inggris bersama delegasi Palestina mengadakan kongres pada 1946-1947. Namun, sayangnya, kongres tersebut tidak menghasilkan keputusan apa-apa tentang Palestina. Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) kemudian membentuk komite khusus untuk mencari penyelesaian masalah Palestina. Berdasarkan hasil pengumpulan data dan studi lapangan, komite tersebut mengajukan dua usulan. 


Pertama, membagi dua tanah Palestina untuk Yahudi dan Arab, tetapi dengan adanya kesatuan sistem ekonomi. 

Kedua, membentuk negara federal antara Yahudi dan Arab. PBB yang tentunya atas desakan Amerika Serikat menolak dua usulan dari komite itu. Mereka kemudian melempar masalah Palestina ke forum sidang Majelis Umum PBB pada 29 November 1947 (republika.co.id; 29/5/2020).


Selama 1517-1917, Kekaisaran Ottoman memerintah sebagain besar wilayah itu. Ketika Perang Dunia I berakhir pada 1918, Inggris mengambil kendali atas Palestina. Liga Bangsa-bangsa mengeluarkan mandat, berupa dokumen yang memberi Inggris tanggung jawab membangun tanah air bangsa Yahudi di Palestina yang mulai berlaku pada 1923. 

Pada 1947, PBB mengajukan rencana membagi dua Palestina, yaitu wilayah independen Yahudi dan wilayah independen Arab dengan Yerusalem sebagai wilayah internasional. Yahudi menerima rencana itu tetapi kebanyakan orang Palestina dan Arab menolak. Mereka mulai membentuk pasukan sukarela di seluruh Palestina. Pada Mei 1948, kurang dari setahun setelah Partition of Palestine (Pemisahan Palestina) dikemukakan, Inggris menarik diri dari Palestina dan Israel menjadi negara merdeka. Sekitar 700.000-900.000 warga Palestina melarikan diri atau terpaksa meninggalkan rumah (kompas.com;17/7/2020).


Jalur Gaza adalah wilayah dengan panjang 41 km dan lebar 10 km yang terletak di antara Yahudi, Mesir, dan Laut Mediterania. Kawasan ini adalah rumah bagi sekitar 2,3 juta muslim Palestina dan kepadatan penduduknya merupakan salah satu yang tertinggi di dunia. Namun, jauh sebelum huru-hara antara Yahudi dan Palestina, Jalur Gaza punya sejarah panjang. Kawasan ini beberapa kali dikepung dan diduduki oleh beragam pihak sejak 4.000 tahun lampau.


Hingga kini israel masih terus berusaha ingin merampas tanah palestina, 

Tidak sampai disitu saja setelah mereka membunuhi warga Palestina, terutama kaum Muslim. mereka juga berusaha rapat- rapat menutup kekejaman yg mereka lakukan lalu menyebarkan hoaks kekejaman pasukan HAMAS yang sama sekali tidak terbukti. Diksi teroris seringkali disematkan Barat terhadap para pejuang Hamas karena berhasil melakukan serangan mendadak ke beberapa kota di Israel pada Sabtu lalu. Para pimpinan negara Uni Eropa dari perdana menteri Inggris hingga Austria berikut Presiden Amerika Serikat Joe Biden menjuluki Hamas sebagai kelompok teroris. Terbaru, Prancis, Jerman, Italia, Inggris, dan Amerika Serikat menyatakan dukungan kepada Israel. Kelima negara itu mengecam serangan mengejutkan Hamas yang dimulai pada Sabtu (7/10/2023). 


Sering Dianggap Teroris, Hamas sebenarnya Pejuang Palestina, saat ini sedang berjuang habis-habisan melawan zionis Israel yang terus mengganggu tanah Palestina. Serangan yang dilancarkan Hamas pada sabtu (7/10/23) lalu, yang membuat situasi konflik di daerah tersebut semakin memanas, bahkan Israel mengumumkan secara resmi perang terhadap Hamas, palestina. Sementara itu Hamas, tampaknya tak pernah lelah dalam melawan penindasan yang dilakukan oleh Israel.


Ada yang mungkin berpikir bahwa Hamas adalah biang kerok dalam konflik ini, tetapi menurut Ustad Felix, apa yang dilakukan oleh Hamas adalah reaksi yang wajar dari orang yang terjajah.  Bahwa dalam situasi yang serupa, negara manapun yang berada dalam penindasan dan penjajahan pasti akan melawan. Itu adalah reaksi yang alami dan tidak dapat dihindari. Terlebih lagi, tanah mereka telah dirampas, ekonomi mereka telah dijarah, dan agama mereka telah dihina.


Sementara itu, organisasi internasional seperti PBB yang berslogan menjaga perdamaian dan keamanan dunia, nyatanya telah gagal memenuhi tanggung jawabnya usai zioni$ Y4hudi membombardir rumah sakit yang seharusnya menjadi tempat yang aman bagi warga sipil. Organisasi lainnya seperti Organisasi Kerja sama Islam (OKI) juga tak berkutik, hanya sibuk mengecam, tanpa memberikan solusi hakiki atas penderitaan warga Palestina di Gaza. Lantas, siapa dan dengan cara apa agar warga Palestina terlepas dari nestapa dan penjajahan di negerinya sendiri? Alih-alih mengirimkan pasukannya untuk membantu muslim Palestina, para pemimpin muslim malah berjabat tangan dengan penjajah yang banyak menumpahkan darah saudara se-aqidahnya.


Pemerintah Israel menunjukkan kepada Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken dan menteri pertahanan NATO gambar grafis anak-anak dan warga sipil yang tewas pada Kamis (11/10). Mereka “mengadu” kepada para sekutunya bagaimana kelompok Hamas membunuhi anak-anak mereka. Tidak ketinggalan Kantor Perdana Menteri Benjamin Netanyahu juga merilis di media sosial resminya gambar bayi yang mati dalam genangan darah dan tubuh anak-anak yang hangus terbakar. Ini adalah upaya Tel Aviv memicu kemarahan global terhadap kelompok militan Gaza! 

Namun lucunya di saat yang sama, banyak pengguna Instagram pro-Palestina justru terkena “shadow-banned” atas postingan-postingan mereka terkait perang. Bahkan diantara mereka melaporkan akun sosial media mereka diblokir pihak Meta. Meta kemudian membela diri dengan menyebutkan kejadian tersebut sebagai “bug”. Padahal di sisi lain, pengguna IG pro-Zionis justru mendapat keleluasaan memposting kerusakan perang di pihak Israel (channelnewsasia.com, 17/10/2023). Tidak hanya Instagram, aplikasi Facebook yang berada di bawah naungan Meta mulai menampakkan indikasi yang sama.   

Google, pemilik Youtube, dan tentunya Meta secara terang-terangan menyatakan Hamas sebagai organisasi teroris dan orang-orang yang berafiliasi dengannya tidak akan diizinkan untuk memiliki akun, dan tidak ada konten Hamas yang dapat diposting di platform mereka. Bahkan media mainstream tanah air, Kompas, ikut membebek dengan menyematkan sebutan “teroris” kepada kelompok Hamas. Keberpihakan media-media besar yang mengekor Barat tentulah menjadikan mereka cenderung menyuguhkan informasi yang tidak berimbang bahkan terkadang terjadi penghapusan ataupun disinformasi.


Disinformasi perang Israel-Palestina kemudian terlihat mengarah pada upaya menggencarkan Islamophobia. Disinformasi tersebut tidak hanya dilancarkan media-media Barat, tetapi bahkan sebagian diproduksi dan disebarkan oleh akun-akun sayap kanan yang berbasis di India. BOOM, salah satu layanan pengecekan fakta paling terkenal di India, menemukan beberapa pengguna X India yang terverifikasi memimpin kampanye disinformasi. Para “disinfluencer” ini – para influencer yang secara rutin membagikan disinformasi – kebanyakan menargetkan Palestina secara negatif, atau mendukung Israel (aljazeera.com, 16/10/2023).  Upaya disinformasi dan pencarian dukungan publik oleh Israel tentunya bertujuan untuk menutupi fakta kekerasan Israel dan pembersihan etnis di Palestina selama 75 tahun terakhir.


Dan menanggapi serangan Hamas, Menteri Pertahanan Israel Yoav Gallant segera memerintahkan pengepungan penuh terhadap Gaza dengan memutus akses terhadap semua makanan, air, listrik, dan bantuan bagi penduduknya. Infrastruktur komunikasi pun menjadi sasaran, sehingga membatasi kemampuan warga Gaza untuk berkomunikasi dengan dunia luar. Pada saat yang sama, pemboman udara telah menewaskan lebih dari 2.000 warga Palestina, termasuk lebih dari 700 anak-anak . Sebagian besar kota-kota Gaza telah hancur , menyebabkan sekitar 300.000 warga Gaza kehilangan tempat tinggal (thenation.com, 16/10/2023). 


Inilah wajah asli Zionis Israel, yang menunjukkan wajah tanpa dosa di balik kekejian mereka. Dan telah nyata kebencian dan dendam di hati-hati mereka atas umat Islam. Dimana tatkala mereka tak mampu menghancurkan para (calon) syahid di bumi Palestina, mereka pun melontarkan dusta demi meraih empati dunia. Tapi apa daya, telah terbuka mata dan hati umat kecuali mereka-mereka yang bersama para musuh Allah.  


Urgensi Persatuan Kaum Muslimin dalam Naungan Khilafah


Persoalan Palestina sebagai negeri kaum muslimin sesungguhnya adalah persoalan seluruh kaum muslimin di dunia. Sebab, Baginda Rasulullah telah bersabda: “Perumpamaan orang-orang yang beriman di dalam saling mencintai, saling menyayangi dan mengasihi adalah seperti satu tubuh, bila ada salah satu anggota tubuh mengaduh kesakitan, maka anggota-anggota tubuh yang lain ikut merasakannya, yaitu dengan tidak bisa tidur dan merasa demam.” (HR Bukhari dan Muslim).


Islam adalah agama rahmatan Lil allaamiinn yang mana setiap problematika kehidupan telah diatur didalamnya. Dalam Islam pun selain pengaturan ibadah mahdoh, ekonomi, sosial, budaya, tetapi juga ada pengaturan negara. Konflik Palestina-Israel tak mungkin dapat terselesaikan selama khilafah belum tegak. Karena, akan terus terjadi perbedaan persepsi terkait hak atas tanah Palestina. Dalam Daulah Islamiyah, seorang khalifah juga akan memimpin sekaligus menyerukan pasukan kaum muslim di seluruh dunia secara langsung, dalam rangka membebaskan tanah Palestina dan menyelamatkan kaum Muslim yang ada di sana. Tak hanya itu, Khilafah juga yang akan menyelamatkan kaum Muslim di berbagai negeri di mana mereka ditindas. 


Inilah pentingnya umat untuk serius dan sungguh-sungguh dalam memperjuangkan kembalinya Khilafah ala minhaj Nubuwwah. Walhasil, hanya Khilafahlah yang mampu mengusir Israel dari bumi Palestina. Karena negara Khilafah meniscayakan sebuah negara harus mampu menjadi negara yang adidaya dalam segala aspek. Oleh karena itu, umat memang membutuhkan seorang khalifah, pemimpin kaum Muslim sedunia. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW :


‎إِنَّمَا الْإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ


“Imam (Khalifah) adalah perisai, di belakangnya kaum muslim berperang dan berlindung.” (HR. Al-Bukhari Muslim). 


Oleh karena itu, persoalan tanah Palestina yang dicaplok Israel hanya bisa diselesaikan secara tuntas dengan tegaknya Khilafah Islamiyyah. Dalam Islam, pemimpin memiliki dua fungsi utama, sebagai raa’in (pengurus umat) dan junnah (perisai) bagi umat. Kedua fungsi ini dijalankan oleh para Khalifah sampai 14 abad masa kegemilangan Islam. Pasang surut kekhilafahan secara sunnatullah memang terjadi, tapi kedua fungsi ini ketika dijalankan sesuai apa yang digariskan syara’, terbukti membawa kesejahteraan dan kejayaan umat Islam.


Pada masa Rasulullah saw., kaum Yahudi di Madinah juga terusir dari Madinah setelah mereka melakukan pengkhianatan terhadap negara Islam dan kaum muslim. Kaum Yahudi Bani Qainuqa diperangi dan diusir oleh Rasulullah saw. setelah mereka melecehkan kehormatan seorang muslimah dan membunuh seorang laki-laki pedagang muslim yang membela muslimah tersebut. Yahudi Bani Quraizhah diperangi oleh kaum muslim setelah mereka bersekongkol dengan kaum musyrik Quraisy untuk membunuh Nabi saw. pada Perang Ahzab.


Khilafah pula yang membentengi Palestina untuk terakhir kali dari tipu daya gembong Yahudi Theodor Herzl yang merayu Khalifah Sultan Abdul Hamid II. Kala itu Herzl mencoba menyogok Khalifah dengan uang yang sangat banyak dan berjanji akan melunasi utang-utang Khilafah Utsmaniyah. Namun, harga diri dan girah Islam Sultan Abdul Hamid II amat tinggi. Ia menolak tawaran itu, bahkan meludahi Herzl.


Jadi, ketika nanti Islam yang mengatur seluruh dunia maka dapat dikatakan bahwa kita telah merdeka, tidak seperti saat ini yang katanya merdeka tetapi tetap gini-gini saja. Hanya Islam yang ada pengaturan negara selain itu tidak ada maka Islam adalah satu-satunya solusi bagi negeri. Solusi tuntas dalam membebaskan Palestina membutuhkan kekuatan besar, yang hanya akan terwujud melalui tegaknya sistem Islam dalam naungan Khilafah. Khilafah akan dipimpin oleh seorang khalifah yang akan menjadi perisai bagi rakyatnya dari berbagai bentuk kezaliman yang ada. 


Jika kita melihat semua permasalahan ini, nyatalah, bahwa satu-satunya solusi bagi kaum muslim termasuk saudara kita di palestina adalah Kembalinya Kepemimpinan Global bagi Kaum Muslim, Kembalinya Islam Kaffah dalam naungan Khilafah. Khilafah-lah yang akan memimpin dan mengkomandoi  kaum muslim di seluruh dunia untuk berjihad. Yang akan melindungi dan mempertahankan seluruh wilayah dan tanah kaum muslim. Ya.. Khilafah dan Jihad!, dua kata untuk mengubur Zionis Yahudi. Inilah satu-satunya solusi yang diberikan Allah dan Rasulnya kepada kita. Wallahualam bissawab.

NusantaraNews Designed by Templateism.com Copyright © 2014

Theme images by Bim. Powered by Blogger.