Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Tren Freestyle Merenggut Nyawa, Alarm Keras Bagi Pendidikan Anak

Thursday, May 14, 2026 | Thursday, May 14, 2026 WIB
Tren Freestyle Merenggut Nyawa, Alarm Keras Bagi Pendidikan Anak

Yuliana S.Sos 
(Pemerhati Sosial dan Generasi)


Dunia pendidikan anak kembali berduka, 2 orang anak yang masih duduk di jenjang sekolah TK dan SD di lombok Timur meninggal dunia akibat cedera leher setelah meniru aksi freestyle yang viral di media sosial dan game online.


Aksi freestyle tersebut diduga terinspirasi dari game online populer seperti Garena Free Fire yang menampilkan gerakan ekstrem. Sehingga membuat rasa penasaran dan mencoba untuk melakukannya oleh sebagian anak yang aktif di game ini. 


Adanya kejadian ini  menjadi perhatian dari Pihak Kepolisian, Sekolah, Dinas Pendidikan, Psikologi Anak hingga KPAI memberi himbauan kepada orang tua untuk lebih mengawasi penggunaan HP, media sosial serta tontonan anak-anak. 


Jika dikembalikan kepada fitrah anak, dimana nalar anak yang belum sempurna memungkinkan mereka mengikuti begitu saja apa yang dianggap menarik dan viral di game online dan sosial media. Ditambah dengan kurangnya perhatian dan pendampingan orang tua terhadap anak sehingga membuat mereka dengan mudah mendapat akses informasi dan tayangan yang berpotensi merusak dan berbahaya bagi pemikiran dan tingkah laku mereka. 


Ketika keluarga sudah memberikan pengabaian terhadap anak, ini diperparah dengan lemahnya kontrol lingkungan, sehingga anak-anak dibiarkan bermain sendiri tanpa pengawasan. Lingkungan sibuk dengan urusan masing-masing. Bahkan, lingkungan cukup memberikan pengaruh yang besar untuk menjaga generasi. Harusnya lingkungan ikut mengawasi. Dengan sistem kehidupan hari ini berhasil membentuk masyarakat yang cuek, tidak mau mencampuri kehidupan orang lain, meskipun itupun akan membahayakan kehidupan semua. 


Peran negara dalam pembatasan akses terhadap konten online juga masih belum efektif. Negara memiliki peran besar untuk memilih konten-konten online yang itu akan memberikan dampak yang buruk bagi rakyat terkhusus hari ini anak-anak generasi. Banyaknya muatan konten hari ini terutama untuk generasi dirasa memberikan dampak negatif. Sehingga tugas negara bisa memfilter konten tersebut bahkan menstop untuk tidak diakses, bukan masih diberikan kesempatan dan ruang hanya untuk mendapatkan keuntungan. Padahal konten yang ada justru mencetak generasi yang rusak.


Maka jika di telisik lebih dalam, akar persoalan sebenarnya adalah penerapan sistem sekularisme kapitalisme dalam kehidupan. Sistem ini memberikan kebebasan tanpa batas kepada manusia untuk berbuat apapun, menghalalkan segala cara untuk meraih keuntungan secara materi. 


Ketika sosial media hadir di tengah-tengah kehidupan generasi saat ini. Kapitalisme memandang, sosmed sebagai komoditas untuk mendatangkan cuan. Banyak konten-konten yang melanggar hukum-hukum Syara’.


Ketika dikembalikan kepada solusi Islam, maka dalam Islam anak-anak yang belum baligh tidak dikenai taklif hukum karena akalnya belum sempurna. Sehingga perlu pendampingan dari orang dewasa baik orang tua maupun lingkungan untuk mengarahkan mereka kepada kebaikan. Orang tua/wali punya tanggung jawab mendidik dan mengasuh mereka serta melindungi dari segala bentuk bahaya.


Pendidikan dalam Islam bertumpu pada 3 pilar utama yakni peran orang tua, lingkungan serta negara. Ideologi yang di pakai adalah ideologi Islam, landasannya pun akidah Islam. Maka, sosial media dianggap sebagai madaniyah, atau benda yang dihasilkan dari perkembangan IPTEK. Artinya sosmed boleh di gunakan dengan semestinya karena ada hukum Syara’ yang membentengi. Sehingga, sebelum PP Tunas lahir, sebenernya Allah SWT sebagai pembuat hukum Syara’ telah memberikan pencegahan berupa aturan-aturan agar konten-konten yang di larang agama tidak beredar, sehingga generasi tidak terjerumus pada perbuatan-perbuatan yang merusak seperti sekarang.


Maka dari itu, solusi agar anak-anak dapat terlindungi dari segala macam kejahatan baik di dunia nyata maupun dunia maya, yakni dengan mengganti sistem sekularisme kapitalisme yang di anut saat ini ke dalam sistem Islam. Karena, Islam memiliki sistem pendidikan yang mumpuni dalam melahirkan generasi-generasi yang berkepribadian Islam. Sehingga, generasi mempunyai benteng keimanan yang kokoh dan mampu bersikap dengan adanya sistem pendidikan yang berlandaskan Islam. Mereka mampu menyaring apa yang di bolehkan dan tidak di bolehkan oleh Syara’.


Bukan hanya dalam pendidikan saja, negara yang menganut sistem Islam akan menerapkan syariat Islam dalam seluruh aspek kehidupan sehingga mampu mewujudkan kondisi ideal untuk membentuk generasi taat dan tangguh. Maka untuk mewujudkan ini semua, dibutuhkan peran seluruh generasi untuk sama-sama memahami dan memperjuangkan penerapan Islam.


Wallahu a’lam bishowab

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update