Oleh: Atika Nur
(Aktivis Muslimah)
Dilansir dari FOKUSSATU.ID (Sabtu, 25/04/2026) Bupati Bandung, Dadang Supriatna mengapresiasi pelaksanaan pelatihan standarisasi imam dan khatib yang diselenggarakan oleh Dewan Masjid Indonesia (DMI) Kabupaten Bandung. Kegiatan tersebut digelar di Aula SLRT Dinas Sosial Kabupaten Bandung.
Dalam keterangannya, Dadang mengungkapkan, masih ditemukan sejumlah khatib yang belum memenuhi standar, baik dari sisi materi khutbah maupun pemahaman keagamaan. Bahkan menurutnya, masih ada khutbah Jumat yang bernuansa provokatif dan tidak menyejukkan.
"Masih ada khatib yang menyampaikan hal-hal yang kurang tepat, bahkan cenderung menjelekkan pemerintah. Ada juga imam yang belum memahami secara mendalam sarat sah dan batasnya salat," katanya.
Karena itu, ia menekankan pentingnya peningkatan kapasitas keilmuan dan ketakwaan bagi para imam dan khatib, pelatihan semacam itu dapat dilakukan secara rutin dan berkelanjutan.
Sebenarnya ada apa dengan standarisasi di atas? Jika berbicara untuk meningkatkan kapasitas keilmuan dan ketakwaan, tentu kita setuju-setuju saja bahkan patut diacungkan jempol. Tapi kalau ada embel-embel menjelekkan pemerintah, inilah yang harus kita kritisi.
Sebab yang dikhawatirkan adalah bahwa standarisasi merupakan upaya penyeragaman materi khutbah Jumat agar sejalan dengan kepentingan pemerintah.
Yang mesti dipahami juga oleh pemerintah bahwa standarisasi haruslah ditujukan semata-mata untuk penguatan kualitas ( kompetensi) dan standarnya harus mengacu kepada al-Quran dan as-Sunnah
Standarisasi juga tidak cukup hanya pada tataran ritual, seperti sarat sah dan tatacara shalat, demikian juga pada masalah ekonomi, sosial, pemerintahan, politik luar negeri dan yang lainnya. Sebab yang namanya paham agama adalah menjadikan al-Quran dan as-Sunnah sebagai tuntunan kehidupan baik dalam beribadah maupun bermuamalah.
Fakta hari ini, walaupun Indonesia mayoritas muslim, tapi al-Quran maupun as-Sunnah belum menjadi pijakan dalam berbagai pengaturan. Yang menjadi acuan justru kapitalisme sekular. Makin hari kehidupan masyarakat makin dijauhkan dari Islam akibat sekularisme. Sedangkan kapitalisme menciptakan kesenjangan ekonomi kian lebar.
Maka khutbah Jumat semestinya menyeru siapapun mereka baik individu masyarakat maupun jajaran pemangku kebijakan untuk kembali kepada aturan Islam yang akan menyelamatkan negeri ini.
Wallahu 'alam bi assawab
No comments:
Post a Comment