Nusantaranews.net, Payakumbuh — Operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Koto Baru, Kecamatan Payakumbuh Timur, yang dikelola Yayasan Badunsanak Anugrah Barokah di bawah pimpinan Erilia Bonita Yos, menerapkan pengawasan ketat sesuai standar Badan Gizi Nasional (BGN) mulai dari penerimaan bahan baku hingga distribusi makanan ke sekolah-sekolah.
Kepala SPPG Koto Baru, Ihsan, menjelaskan bahwa proses awal dimulai pada pukul 14.00 WIB dengan penerimaan bahan baku. Seluruh bahan pangan yang datang terlebih dahulu melalui pemeriksaan kualitas dan mutu, meliputi kesegaran, kebersihan, serta kelayakan bahan sebelum masuk ke tahap pengolahan. Senin, (26/01)
Dalam proses penerimaan tersebut, petugas diwajibkan menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) sebagai bagian dari penerapan standar higiene dan sanitasi pangan. Selain itu, bahan baku yang diterima juga menjalani uji keamanan pangan (rapid test food) untuk memastikan bebas dari cemaran berbahaya dan aman dikonsumsi.
Bahan pangan yang telah dinyatakan memenuhi standar kemudian disimpan sesuai ketentuan penyimpanan BGN, dengan pemisahan bahan mentah dan bahan siap olah guna mencegah kontaminasi silang. Proses pengolahan dan memasak dimulai pada pukul 02.00 WIB dini hari, mengikuti prinsip keamanan pangan dan pengendalian titik kritis sesuai pedoman BGN.
Seluruh pekerja yang terlibat dalam proses pengolahan telah melalui pemeriksaan kesehatan dan dibekali serta dilindungi BPJS Ketenagakerjaan dalam bekerja di SPPG, sebagai bentuk perlindungan tenaga kerja sekaligus menjamin proses produksi dilakukan oleh tenaga yang sehat dan terlindungi.
Pengawasan terhadap pelaksanaan SPPG juga dilakukan secara berlapis. Koordinator Wilayah (Korwil) Badan Gizi Nasional (BGN) tingkat kabupaten/kota secara rutin melakukan pengawasan untuk memastikan seluruh tahapan berjalan sesuai Standar Operasional Prosedur (SOP) BGN, baik dari sisi kebersihan lingkungan, keamanan pangan, maupun kualitas gizi.
Sebagai bagian dari pengendalian mutu, SPPG Koto Baru menerapkan uji organoleptik terhadap setiap menu sebelum didistribusikan dan diserahkan kepada PIC sekolah. Penilaian dilakukan menggunakan formulir khusus yang mencakup aspek warna, rasa, aroma, tekstur, dan tampilan makanan guna memastikan kualitas tetap terjaga hingga diterima peserta didik.
Distribusi makanan dilakukan ke 29 sekolah dengan total 3.625 murid. Dalam pelaksanaannya, diterapkan perlakuan khusus sesuai standar diet sekolah, terutama bagi sekolah dengan kebutuhan khusus seperti SLB Jendela Hati yang melayani anak-anak autis. Penyesuaian dilakukan pada komposisi menu, porsi, tekstur, serta jenis bahan pangan sesuai kebutuhan gizi peserta didik.
Selain itu, penyajian buah dan sayur juga disesuaikan dengan standar gizi dan karakteristik penerima manfaat. Sisa makanan layak konsumsi dalam ompreng dimanfaatkan oleh masyarakat untuk mendukung usaha ekonomi produktif, tanpa mengabaikan aspek keamanan pangan.
Pimpinan Yayasan Badunsanak Anugrah Barokah, Erilia Bonita Yos, berharap seluruh lapisan masyarakat dapat mendukung keberlanjutan program SPPG di Kota Payakumbuh.
“SPPG ini bukan hanya soal makan, tetapi memiliki multiplier effect bagi masyarakat, mulai dari peningkatan kesehatan anak, penguatan ekonomi lokal, hingga nilai sosial. Makan bersama dengan menu yang sama juga diharapkan dapat menghilangkan perundungan di sekolah,” ujarnya.
Dengan penerapan standar BGN secara konsisten dan pengawasan ketat di setiap tahapan, SPPG Koto Baru Payakumbuh Timur diharapkan menjadi model layanan pemenuhan gizi yang aman, berkualitas, dan berdampak luas bagi masyarakat. (R. Sitepu)


No comments:
Post a Comment