Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

*Malapetaka yang Dibiarkan: Narkoba, Remaja, dan Gagalnya Perlindungan Generasi*

Monday, January 19, 2026 | Monday, January 19, 2026 WIB Last Updated 2026-01-18T22:43:58Z



Oleh: Ayu Rahmah Khoirunnisa


Menyikapi belasan siswa SMP yang dinyatakan positif mengonsumsi narkoba, seharusnya publik tidak berhenti pada rasa kaget dan keprihatinan semata. Peristiwa semacam ini bukan sekadar “kasus”, melainkan peringatan keras bahwa ada sesuatu yang salah secara mendasar dalam cara kita menjaga generasi. Lebih dari itu, ia membuka fakta pahit bahwa kerusakan tidak lagi berada di pinggiran masyarakat, tetapi telah masuk ke ruang paling dasar pendidikan anak.

Kondisi ini menjadi semakin miris ketika peredaran narkoba berlangsung di kawasan yang sudah lama dikenal sebagai sarang transaksi dan pesta barang haram. Artinya, kerusakan ini bukan terjadi secara diam-diam, melainkan tumbuh di depan mata. Jika demikian, maka persoalannya bukan hanya pada remaja yang terjerumus, tetapi pada sistem kehidupan yang membiarkan kejahatan itu hidup dan berkembang.


*Remaja Bukan Pelaku Utama, Melainkan Korban Sistem*

Sering kali remaja yang terjerat narkoba langsung dicap sebagai “nakal”, “bandel”, atau “rusak moral”. Padahal, dalam banyak kasus, mereka justru adalah korban paling awal dari lingkungan yang gagal memberi arah hidup. Remaja berada pada fase pencarian makna, dan ketika makna itu tidak ditemukan dalam keluarga, pendidikan, maupun masyarakat, mereka akan mencarinya di tempat lain, termasuk pada narkoba.

Dalam pandangan Islam, manusia diciptakan bukan tanpa tujuan. Hidup memiliki arah yang jelas: beribadah kepada Allah dan menjalankan amanah sebagai khalifah di muka bumi. Ketika tujuan hidup ini tidak ditanamkan sejak dini, remaja akan tumbuh dalam kekosongan makna. Kekosongan inilah yang kemudian diisi oleh kesenangan semu, pelarian instan, dan kenikmatan palsu yang ditawarkan narkoba.

Masalahnya, sistem kehidupan hari ini tidak menyiapkan remaja untuk mengenal tujuan hidup tersebut. Agama sering direduksi menjadi urusan ritual personal, sementara kehidupan sehari-hari diatur oleh nilai kebebasan tanpa batas. Akibatnya, remaja tahu cara mengejar kesenangan, tetapi tidak tahu bagaimana mengelola kehidupan.

Keberadaan kampung narkoba adalah simbol paling telanjang dari normalisasi kemungkaran. Ketika transaksi narkoba berlangsung berulang, ketika tempatnya dikenal luas, namun tetap dibiarkan, maka yang terjadi bukan sekadar kelalaian, melainkan kegagalan serius dalam menjalankan fungsi perlindungan.


Dalam Islam, negara bukan sekadar regulator administratif, melainkan ra‘in (pengurus) yang bertanggung jawab atas keselamatan rakyatnya. Termasuk di dalamnya menjaga akal, jiwa, dan masa depan generasi. Jika narkoba dibiarkan beredar secara sistemik, maka itu menunjukkan negara gagal menjalankan fungsi ri‘ayah tersebut.


Penindakan yang bersifat reaktif, datang setelah anak-anak menjadi korban, tidak bisa disebut sebagai perlindungan. Islam menuntut pencegahan yang tegas, pemutusan sebab-sebab kemungkaran, serta penutupan total ruang yang mengantarkan pada keharaman. Negara tidak boleh bersikap netral terhadap kejahatan yang secara nyata menghancurkan generasi.


Di sisi lain, keluarga dan dunia pendidikan juga tidak bisa lepas dari kritik. Banyak keluarga terjebak dalam rutinitas ekonomi dan menyerahkan pembentukan nilai anak sepenuhnya kepada sekolah. Sementara sekolah sendiri lebih sibuk mengejar prestasi akademik dan angka kelulusan, tanpa sungguh-sungguh membina kepribadian.

Islam memandang keluarga sebagai madrasah pertama. Artinya, penanaman tauhid, halal-haram, serta tanggung jawab moral tidak bisa ditunda atau dialihkan. Ketika orang tua absen secara nilai, maka lingkungan luar akan mengambil alih peran tersebut, dan sering kali dengan arah yang merusak.


Pendidikan yang tercerabut dari ideologi Islam akan melahirkan generasi yang cerdas secara intelektual, tetapi rapuh secara moral. Mereka mampu berpikir cepat, namun tidak memiliki kompas nilai yang kokoh. Dalam kondisi seperti ini, narkoba bukan lagi dipandang sebagai bahaya, melainkan sebagai eksperimen atau pelarian.


*Islam sebagai Solusi Ideologis, Bukan Tambalan Moral*

Islam tidak sekedar memandang narkoba sebagai pelanggaran hukum, tetapi sebagai bentuk perusakan terhadap akal, salah satu nikmat terbesar yang wajib dijaga. Karena itu, Islam tidak cukup hadir sebagai nasihat moral, melainkan harus menjadi landasan ideologis dalam mengatur kehidupan.


Penguatan iman bukan berarti sekadar memperbanyak slogan religius, tetapi membangun kesadaran bahwa setiap perbuatan akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah. Ketika remaja memahami bahwa hidup bukan bebas nilai, maka mereka akan memiliki kontrol diri yang tidak bergantung pada pengawasan manusia. 


Di tingkat masyarakat, prinsip amar ma’ruf nahi munkar menegaskan bahwa membiarkan kemungkaran adalah dosa kolektif. Sikap masa bodoh terhadap narkoba sama saja dengan membuka pintu kehancuran bersama. Namun, tanggung jawab ini tidak bisa dibebankan kepada individu semata tanpa dukungan sistem dan negara.


Kasus siswa SMP pengguna narkoba seharusnya menyadarkan kita bahwa ini bukan masalah kecil. Ini adalah persoalan arah peradaban. Generasi yang rusak tidak mungkin membangun masa depan yang kokoh. Selama Islam hanya diposisikan sebagai pelengkap, sementara sistem kehidupan berjalan dengan nilai sekuler dan permisif, maka kerusakan generasi akan terus berulang dengan wajah yang berbeda.


Islam menawarkan solusi menyeluruh: individu yang bertakwa, keluarga yang mendidik dengan nilai tauhid, pendidikan yang membentuk kepribadian Islam, masyarakat yang peduli, dan negara yang tegas menjaga kemaslahatan. Tanpa itu semua, perang melawan narkoba hanya akan menjadi slogan yang berulang setiap tahun.


Narkoba di kalangan remaja bukan sekadar penyimpangan perilaku, melainkan cermin dari kegagalan sistem kehidupan dalam menjaga amanah generasi. Selama kemungkaran dibiarkan hidup, selama nilai Islam disingkirkan dari pengaturan kehidupan, maka remaja akan terus menjadi korban.


Sudah saatnya kita berhenti berpura-pura bahwa masalah ini bisa selesai dengan razia sesekali atau imbauan moral yang dangkal. Menyelamatkan generasi menuntut keberanian untuk mengoreksi arah hidup, kembali kepada Islam sebagai pedoman ideologis, dan menolak segala bentuk pembiaran terhadap kerusakan. Karena generasi bukan sekadar milik hari ini, melainkan penentu masa depan umat dan peradaban.


WallahuA'lam bishawab

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update