Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Banjir Sumatra: Jejak Kerusakan Lingkungan

Thursday, January 15, 2026 | Thursday, January 15, 2026 WIB Last Updated 2026-01-15T08:53:12Z




Oleh. Ummu Putri


Bencana banjir yang melanda berbagai wilayah di Sumatra sepanjang tahun 2025 hingga awal 2026 menjadi gambaran nyata tentang rapuhnya keseimbangan ekosistem di kawasan tersebut. Intensitas dan daya rusak banjir yang terjadi tidak lagi dapat dianggap sebagai peristiwa alam biasa yang datang secara kebetulan. Berbagai pengamatan lapangan menunjukkan bahwa luapan air di wilayah hilir kini berlangsung lebih cepat dan bersifat jauh lebih destruktif dibandingkan satu atau dua dekade sebelumnya.


Sejumlah lembaga pemantau lingkungan mencatat bahwa perubahan ini berkaitan erat dengan kondisi wilayah hulu yang semakin kehilangan fungsi alaminya. Kawasan yang seharusnya berperan sebagai daerah resapan air dan penyangga ekosistem justru mengalami degradasi akibat pembukaan lahan, penebangan hutan, serta pembangunan yang tidak memperhatikan kaidah hidrologi. Akibatnya, ketika hujan turun dengan intensitas tinggi, air tidak lagi terserap secara optimal, melainkan langsung mengalir deras ke sungai dan kemudian meluap ke permukiman warga.


Data dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana menunjukkan bahwa bencana hidrometeorologi di wilayah Sumatra dan Aceh telah menyebabkan jumlah korban jiwa yang sangat besar. Hingga awal Januari 2026, korban meninggal dunia tercatat mencapai lebih dari seribu orang. Di sisi lain, jumlah pengungsi memang mulai mengalami penurunan secara bertahap, namun masih terdapat ratusan ribu warga yang harus meninggalkan rumah mereka demi keselamatan. Selain itu, ratusan orang dilaporkan hilang dan proses pencarian terus dilakukan oleh tim gabungan.


Pemerintah melalui berbagai kementerian menyatakan telah menyiapkan anggaran yang cukup untuk menangani kondisi darurat hingga tahap pemulihan pascabencana. Wakil Menteri Pertanian, dalam salah satu pernyataannya, menegaskan bahwa negara tidak akan membiarkan masyarakat terdampak menghadapi situasi sulit sendirian. Bantuan logistik, layanan kesehatan, serta upaya rehabilitasi infrastruktur menjadi prioritas agar kehidupan masyarakat dapat kembali berjalan secara bertahap.


Namun, di balik angka-angka statistik tersebut, tersimpan kisah pilu yang dialami warga di lapangan. Muhammad Ali, seorang pria berusia 70 tahun yang tinggal di Maureudu, Kabupaten Pidie Jaya, Aceh, tidak mampu menyembunyikan kesedihannya ketika menceritakan peristiwa banjir yang merendam rumahnya pada akhir November 2025. Ia mengaku sepanjang hidupnya belum pernah menyaksikan banjir sedahsyat itu di kampung halamannya.


Menurut penuturannya, Sungai Meureudu tidak sanggup menahan luapan air hujan yang turun deras dalam waktu bersamaan. Yang lebih mengejutkan, air bah membawa serta tumpukan kayu besar dari wilayah hulu. Potongan kayu tersebut terlihat rapi dengan diameter yang besar, seolah berasal dari aktivitas penebangan, bukan akibat pohon tumbang secara alami. Ia meyakini bahwa peristiwa tersebut bukan semata-mata kehendak alam, melainkan juga akibat dari campur tangan manusia yang merusak hutan tanpa mempertimbangkan dampaknya.


Kesaksian tersebut memperkuat dugaan bahwa banjir besar di Sumatra tidak dapat dilepaskan dari praktik eksploitasi sumber daya alam yang berlebihan. Penebangan liar, pembukaan lahan skala besar, serta pembangunan yang mengabaikan daya dukung lingkungan telah mempercepat rusaknya sistem alami pengendali banjir. Sungai kehilangan kapasitas tampungnya, tanah kehilangan daya serapnya, dan hutan kehilangan perannya sebagai pelindung.


Dalam kondisi seperti ini, bencana bukan hanya peristiwa alam, tetapi juga cerminan dari krisis moral dan tata kelola lingkungan. Ketika manusia memandang alam semata sebagai objek ekonomi, maka keseimbangan ekosistem perlahan runtuh. Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh satu generasi, tetapi juga oleh anak cucu di masa depan.


Islam memandang bencana bukan hanya sebagai ujian fisik, tetapi juga sebagai peringatan spiritual. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan bahwa ketika musibah datang, umat manusia perlu merespons dengan kesabaran, memperbanyak doa, memperkuat ikhtiar, serta menumbuhkan solidaritas sosial. Menolong sesama, meringankan penderitaan korban, dan saling menguatkan menjadi bagian penting dari sikap seorang mukmin.


Namun, Islam juga menekankan pentingnya tindakan nyata dalam mencegah kerusakan. Menjaga alam, melindungi hutan, serta mengelola sumber daya secara adil merupakan bentuk tanggung jawab manusia sebagai khalifah di bumi. Doa dan zikir tidak boleh menggantikan kewajiban untuk memperbaiki sistem yang rusak, menegakkan keadilan lingkungan, dan menghentikan praktik-praktik yang merugikan masyarakat luas.


Banjir besar yang melanda Sumatra seharusnya menjadi momentum refleksi bersama. Upaya penanggulangan darurat memang penting, tetapi pencegahan jangka panjang jauh lebih mendesak. Tanpa pembenahan serius terhadap pengelolaan wilayah hulu, penegakan hukum terhadap perusakan lingkungan, serta perubahan paradigma pembangunan, bencana serupa sangat mungkin terulang dengan skala yang lebih besar.


Pada akhirnya, musibah ini mengajarkan bahwa hubungan manusia dengan alam tidak bisa dibangun di atas keserakahan. Ketika keseimbangan dilanggar, alam akan “menagih” dengan caranya sendiri. Maka, selain menguatkan sisi spiritual melalui doa dan kesabaran, manusia juga dituntut untuk bertanggung jawab secara nyata dalam menjaga bumi sebagai amanah yang harus diwariskan dalam keadaan baik kepada generasi berikutnya.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update