Oleh: Ummu Haritsa
Penggiat Pendidikan
Kondisi Palestina sampai hari ini masih memprihatinkan. Serangan, pembunuhan, pencaplokan wilayah Palestina oleh Israel terus dilakukan oleh rezim Israel tanpa memperhatikan aspek kemanusiaan, keserakahan telah membutakan matanya.
Situasi kemanusiaan di Gaza, Palestina, terus memburuk dan memprihatinkan. Kondisi ini dikeluarkan dalam pernyataan bersama Inggris, Kanada, dan negara-negara lain pada hari Selasa (30/12/2025) oleh Kementrian Luar Negeri Inggris.
Negara-negara tersebut menyerukan agar Israel mengambil tindakan mendesak. Selain pernyataan keprihatinan, negara-negara tersebut mengatakan agar Israel mengizinkan organisasi non-pemerintah untuk bekerja secara berkelanjutan dan dapat diprediksi dan dapat memastikan PBB bisa melanjutkan pekerjaannya di Palestina. (TRIBUNNEWS.COM, 31 Desember 2025).
Bukan tanpa sebab negara-negara tersebut mengeluarkan pernyataan bersama hal ini dipicu karena Israel melarang beberapa organisasi kemanusiaan beroperasi di Palestina.
Kementrian Luar Negeri dan Ekspatriat Palestina mengutuk keputusan sewenang-wenang Israel untuk membatalkan izin kerja 37 organisasi kemanusian internasional yang beroperasi diwilayah Palestina yang diduduki, khusunya di jalur Gaza. (ANTARA, 31 Desember 2025)
Gaza catat 969 pelanggaran telah dilakukan Israel selama 80 hari gencatan senjata yang dimulai dari tanggal 10 Oktober 2025, telah menewaskan 418 warga Palestina dan melukai 1.141 lainnya, menurut angka yang dirilis oleh kantor media pemerintah (GMO) Ahad (28/12).
Penderitaan rakyat Palestina niscaya akan terus berlangsung selama negara Israel tetap eksis, baik diakui ataupun tidak oleh dunia. Israel akan terus mewujudkan cita-cita mendirikan Israel Raya dan menguasai politik-ekonomi dunia dengan segala cara.
Membiarkan negara Israel tetap eksis sama dengan membiarkan Palestina menderita selamanya. Seperti yang disampaikan Kemenlu menggambarkan tindakan Israel sebagai pembajakan, penindasan, serta pelanggaran terhadap hukum dan norma international termasuk pendapat nasehat Mahkamah Internasional (ICJ) mengenai kewajiban Israel terhadap organisasi-organisasi kemanusiaan.
Berbagai tawaran penyelesaian yang dipimpin AS akan memposisikan Palestina ke dalam jurang penderitaan yang makin dalam. Bagaikan ilusi janji fase kedua oleh negara-negara perantara tak kunjung terwujud. Seperti salah satu pernyataan yang disampaikan oleh kepala layanan informasi Negara Mesir, Diaa Rashwan dalam wawancara dengan stasiun televisi pemerintah Al l-Qahera News pada Kamis, Rashwan menegaskan bahwa terdapat veto yang jelas dari Amerika Serikat terhadap dimulainya kembali perang di Gaza. (Gazamedia.net, 27 Desember 2025)
Mengutuk dan memohon kebaikan Israel membuka bantuan kemanusiaan tak cukup untuk membebaskan penderitaan. karena sebagaimana yang dituduhkan Pemerintah Mesir bahwa Perdana Menteri Netanyahu berusaha menghambat pelaksanaan tahap kedua gencatan senjata di Gaza serta memicu ketegangan regional (Gazamedia.net , 27 Desember 2025). Ini menunjuhkan bahwa tidak ada itikad baik untuk menyudahi pembantaian di Gaza, yang tampak jelas bahwa Israel akan menggunakan segala cara untuk menguasai Palestina.
Memahamkan Umat Urgensi Pembebasan Palestina
Umat harus paham bahwa Palestina bukan sekedar sebuah negara dengan penduduk mayoritas Muslim saja. Dalam upaya membebaskan palestina hari ini, kita harus melihat kembali bagaimana Khalifah Islam berhasil membebaskan tanah suci ini.
Tanah Al-Quds (Yerusalem), dengan Masjid Al-Aqsa sebagai simbolnya merupakan kiblat pertama umat Islam. Sejak masa Nabi Muhammad SAW, umat Islam telah diberi amanah untuk menjaga dan membebaska wilayah ini dari berbagai bentuk penjajahan dan ketidakadilan.
Namun sangat disayangkan justru pengkhianatan datang dari penguasa muslim, yang tidak mau peduli dengan kondisi tanah Palestina, bahkan secara terang-teranga bekerjasama dengan barat menutup perbatasanya. Bukankah Rasulullah SAW telah bersabda “ bahwa kaum muslimin itu bagaikan satu tubuh”. Bagaimana bisa bibir menyanyi tangan menari sementara badan terluka?, seperti itu gambarannya.
Sebagai negeri muslim yang secara historis lebih dekat dengan Baginda Rasulullah sudah seyogyanya ketaatan dan ketegasan di ditegakkan para penguasa muslim dan menghentikan berbagai bentuk penggabaian terhadap Palestina. Umat harus sadar sebagai satu tubuh tidak ada cara lain hanya dengan menyatukan pemikiran, perasaan, aturan dan kepemimpinan umat saja yang akan membebaskan Palestina yaitu adanya seorang Khalifah yang akan membebaskannya dengan dukungan umat sepenuhnya.
Belajar dari Pembebasan Tanah Palestina di Masa Para Khalifah Islam
Lebih dari satu abad Palestina menjadi pusat konflik berkepanjangan. Palestina juga sebagai tanah suci tiga agama besar di dunia, Islam, kristen, dan Yahudi menjadikannya sebagai wilayah yang sarat historis, spiritual dan politik.
Dari presfektif sejarah Islam, Palestin memiliki kedudukan yang sangat istimewa, terutama sebagai bagian wilayah kekuasaan Islam yang pernah dibebaskan oleh Khalifah Islam.
Diantaranya Khalifah Umar bin Khattab RA berhasil membebaskan Yerusalem dari kekuasaan Binzantium pada tahun 638 M.
Berabad-abad kemudian, Palestina jatuh ke tangan tentara salib selama 80 tahun dan berhasil di bebaskan oleh Shalahuddin Al-Ayyubi pada tahun 1.187 M, setelah sebelumnya menyelesaikan konflik internal dan mempersatukan kaum muslim.
Upaya pembebasan yang dilakukan Shalahuddin dalam memperjuangkan tanah Palestina menunjukkan bahwa pembebasan tersebut bukan sekedar urusan militer, memerlukan visi, persatuan umat, kepemimpinan yang adil dan strategis.
Belajar dari sejarah Islam terkait Palestina ada beberapa point penting yang bisa diambil: Pertama, persatuan umat Islam. Dari Umar, Shalahuddin sampai Khalifah Utsmaniyah, semuanya berangkat dari semangat kesatuan.
Kedua, Kepemimpinan Visioner, Pembebasan Palestina oleh para pemimpin Islam, yang bukan hanya menguasai aspek militer, tetapi juga aspek spiritual, moral dan intelektual. Mereka menjungjung tinggi keadilan dan mewujudkan Islam Rahmatan lil ‘alamin.
Ketiga, pendekatan kemanusiaan, dimana pembebasan bukan berarti penjajahan baru tetapi merupakan aktivitas mengakhiri segala bentuk penindasan dan membangun peradaban.
Keempat, perjuangan panjang. Proses pembebasan Palestina bukan sekedar aktivitas dadakan, tetapi dibutuhkan kekonsistenan, kesabaran dan pengorbanan semua pihak.
Dengan mempelajari apa yang dilakukan para Khalifah dalam membebaskan Palestina, bisa dijadikan pedoman dan acuan dalam menyelesaikan permaslahan bahwa kebebasan hanya mungkin terwujud dengan kesatuan umat dalam satu kepemimpinan yaitu seorang Khalifah yang jujur dan menerapkan aturan Islam secara Kaffah dalam sistem Islam
Wallahualam bissawab.
No comments:
Post a Comment