oleh : Rika Ummu Arfa
(pendidik dan penggiat literasi)
"Jaga kesehatanmu karena itu adalah aset terbaik yang bisa kamu berikan kepada dirimu sendiri." – (Liputan6.com)
Ungkapan ini selaras dengan upaya mewujudkan masyarakat sehat di Kabupaten Bandung. Dalam peringatan Hari Kesehatan Nasional (HKN) ke-61 bertema “Generasi Sehat, Masa Depan Hebat” di Gedung Budaya Soreang, pemerintah daerah memberikan penghargaan kepada para tenaga kesehatan dan fasilitas kesehatan sebagai bentuk apresiasi atas dedikasi mereka meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. (Potensinetwork.com, 18 November 2025)
Wakil Bupati Bandung, Ali Syakieb, menyampaikan terima kasih kepada seluruh insan kesehatan yang telah bekerja tanpa kenal lelah. Pemerintah Kabupaten Bandung terus memperkuat layanan kesehatan melalui beberapa inovasi, salah satunya pemberian BPJS gratis bagi 1.600 guru ngaji beserta keluarganya.
Program ini turut mendorong capaian Universal Health Coverage (UHC) Kabupaten Bandung dari 96,41% pada 2022 menjadi 99,57% pada 2024. Bahkan angka harapan hidup meningkat dari 74,01 tahun menjadi 75,23 tahun — sebuah capaian yang patut diapresiasi.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bandung, Yuli Irnawaty Mosjasari, menegaskan bahwa HKN bukan sekadar seremoni, tetapi momentum memperkuat deteksi dini penyakit tidak menular serta meningkatkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS).
Sepanjang November telah digelar layanan kesehatan gratis seperti pemeriksaan anak sekolah, IVA test, pemeriksaan makanan dan minuman, pemeriksaan kesehatan lingkungan, dan kejar imunisasi dasar.
Meski UHC menunjukkan angka yang hampir sempurna, pertanyaan kritis tetap muncul: apakah tingginya capaian UHC otomatis menjamin masyarakat benar-benar terjamin kesehatannya?
Layanan Kesehatan Belum Merata bagi Seluruh Rakyat
Bagi rakyat, yang terpenting adalah pelayanan kesehatan dapat diakses dengan mudah, tanpa hambatan biaya, birokrasi rumit, atau diskriminasi kemampuan ekonomi.
Realitas di lapangan menunjukkan persoalan kesehatan masih kerap menjadi beban. Tidak sedikit masyarakat menunda berobat karena khawatir biaya, bahkan sebelum mencapai fasilitas kesehatan nyawa bisa melayang.
Kisah pilu terjadi di dunia kesehatan beberapa tahun lalu, cobtohnya : Ibu Vivi Sumiati yang harus menempuh perjalanan jauh demi layanan terjangkau, hingga anaknya meninggal dalam ambulans sebelum tiba di rumah sakit, menunjukkan bahwa akses layanan kesehatan bagi masyarakat kecil masih belum merata. Contoh lain adalah Nenek Fatimah, yang bertahun-tahun menabung untuk biaya operasi katarak namun tabungannya hilang dicuri, memupuskan harapan sembuh. Kisah-kisah seperti ini menggambarkan bahwa kesehatan bagi kalangan tidak mampu masih terasa mahal dan sulit dijangkau.
Kesehatan Dikomersilkan dalam Sistem Kapitalis
Akar persoalannya adalah paradigma layanan kesehatan yang masih berwatak kapitalistik. Negara lebih banyak berperan sebagai regulator, sementara pembiayaan kesehatan bertumpu pada skema asuransi seperti BPJS.
Masyarakat diwajibkan membayar iuran bulanan, bahkan nominalnya beberapa kali mengalami kenaikan. Ketika kemampuan ekonomi menjadi syarat untuk menikmati layanan terbaik, maka muncul jurang layanan — yang kaya mendapatkan pelayanan cepat dan nyaman, sementara masyarakat kecil sering terpinggirkan.
Pelayanan Kesehatan dalam Sistem Islam
Pada titik ini, jaminan kesehatan kerap tampak seperti fatamorgana.
Berbeda dengan sistem kesehatan Islam. Dalam Islam, negara wajib menyediakan pelayanan kesehatan gratis dan berkualitas bagi seluruh rakyat tanpa syarat dan tanpa diskriminasi. Rasulullah saw. memberi teladan ketika menjadikan dokter hadiah Raja Mesir sebagai dokter untuk seluruh rakyat, bukan hanya kalangan pemimpin.
Pada masa Khilafah Utsmaniyah, Sultan Abdul Hamid mendirikan Darulaceze untuk merawat masyarakat miskin, penyandang disabilitas, dan yatim piatu tanpa membedakan agama ataupun kebangsaan. Pembiayaan kesehatan diambil dari Baitul Mal, bukan dari iuran rakyat.
Selain itu yang membedakan dengan kondisi saat ini bahwa terkait administrasi pelayanan publik dalam Islam memiliki tiga ciri utama:
aturan sederhana,
pelayanan cepat,
tenaga kesehatan profesional.
Negara juga bertanggung jawab memenuhi nafkah masyarakat lanjut usia atau tidak mampu jika tidak memiliki keluarga yang dapat menanggungnya.
Sebagaimana hadits Rasulullah saw :
"Syyidul qaumi khadimuhum" yang berarti "Pemimpin suatu kaum adalah pelayan mereka." (HR. Ibnu Majah dan Ibnu Asakir).
Hadis ini menekankan bahwa pemimpin seharusnya melayani dan mengurus kepentingan rakyat, bukan sebaliknya, dengan fokus mewujudkan kemaslahatan dan mengayomi mereka.
Maka, capaian UHC Kabupaten Bandung layak disyukuri. Namun upaya tersebut idealnya tidak berhenti pada angka statistik. Yang paling penting adalah menjamin setiap warga tanpa pengecualian dapat mengakses layanan kesehatan yang layak, mudah, cepat, dan manusiawi.
Masyarakat yang sehat dan kuat akan mampu menjalankan aktivitas, bekerja, belajar, serta beribadah dengan optimal. Pada akhirnya, peradaban hebat lahir dari rakyat yang sehat secara fisik maupun mental. Ini semua bisa terwujud saat Islam diterapkan secara menyeluruh dalam aspek kehidupan sesuai dengan tuntunan Rasulullah Saw.
Wallahu'alam bisshowab
No comments:
Post a Comment