Oleh Feni Rosfiani
Aktivis Dakwah
Pembatasan akses medsos bagi para remaja
memang sedang digaungkan oleh negara-negara di dunia. Salah satu negara yang
sudah menerapkan kebijakan ini adalah Australia dan Malaysia. Indonesia
sebenarnya sudah terlebih dahulu menetapkan kebijakan ini sejak Bulan Maret
2025, tetapi masih dalam tahap percobaan dan persiapan. Sehingga belum terasa
dampaknya di masyarakat.
Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid, mengatakan bahwa diharapkan selama setahun ini yaitu tepatnya pada Bulan Maret 2026, kebijakan pembatasan medsos untuk kalangan remaja di bawah umur 16 tahun bisa segera terlaksana. (kompas.com, 12/12/2025)
Pada pelaksanaannya, ternyata kebijakan di Negara Australia ini tidak efektif, karena hanya sosmed saja yang dibatasi penggunaannya. Sementara game online masih bisa diakses oleh para remaja. Bukankah game online juga adalah faktor penyebab generasi muda menjadi kecanduan. Bahkan Badan Kesehatan Dunia (WHO) juga sudah menyatakan bahwa game online itu sebagai diagnosis.
Maka dapat disimpulkan bahwa yang menjadi akar masalahnya adalah karena penerapan sistem Kapitalis sekuler, yakni memisahkan agama dari kehidupan. Adapun Tolok ukur dalam perbuatannya bukan halal atau haram. Sehingga pengaksesan medsos dan digital yang tanpa batasan ini semata-mata karena hanya demi mengambil keuntungan materi sebanyak-banyaknya, bahkan di semua platform digital. Padahal dampaknya begitu dahsyat terutama bagi para remaja yang menjadikan sosmed sebagai “trend center” dalam hal apapun, tanpa melihat apakah perbuatan itu baik atau buruk, halal atau haram.
Berbeda dengan negara di bawah naungan Sistem Islam. Seluruh masyarakat dilindungi dari segala macam hal yang dapat membuat rusak akal dan jiwa. Teknologi digital yang semakin berkembang justru makin membuat keimanan dan ketakwaan kepada Allah semakin kuat, karena negara akan senantiasa memantau dan mengatur apa saja yang bisa diakses di media sosial.
Dalam Islam, konten-konten dan aplikasi yang sekiranya hanya akan memberikan kemudharatan rakyat, akan diblokir seluruhnya tanpa terkecuali. Begitupun game-game online akan ditutup permanen. Sehingga yang muncul di algoritma masyarakat itu hanya tentang dakwah Islam dan Islam kaffah.
Maka para remaja pun akan semakin tercerahkan dengan berbagai macam tsaqafah Islam. Peran serta orang tua, masyarakat, juga negara yang senantiasa melindungi para remaja juga tak kalah penting. Alhasil akan terbentuklah generasi penerus yang mustanir, calon pemimpin peradaban Islam yang akan datang. Semua keniscayaan ini hanya akan terwujud hanya dengan menerapkan sistem Daulah Islam di seluruh dunia.
Wallahuualam bissawwab

No comments:
Post a Comment