Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Kadis Kesehatan Limapuluh Kota Akhirnya Buka Suara Soal SPPG MBG

Saturday, October 04, 2025 | Saturday, October 04, 2025 WIB Last Updated 2025-10-04T08:29:02Z

Nusantaranews.net, Lima Puluh Kota – Setelah beberapa waktu bungkam atas pertanyaan publik soal substansi pengawasan lapangan dan keamanan pangan di dapur SPPG (MBG). Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Lima Puluh Kota, Yulia Masna, akhirnya memberikan penjelasan.


Dalam percakapan dengan awak media, Jumat (4/10/2025), Yulia menyebut Dinas Kesehatan memiliki kewenangan untuk mengeluarkan sertifikat laik higiene sanitasi, melatih tenaga penjamah makanan, dan melakukan uji sampel makanan serta sumber air bersih. Ia juga menegaskan koordinasi dilakukan bersama Balai POM untuk pengawasan bahan dan cara pengolahan makanan.


> “Hari ini sudah delapan SPPG, dan sedang berlangsung pelatihan tenaga,” ujarnya.


Lebih lanjut, ia mengungkapkan bahwa sebanyak 40 tenaga penjamah makanan telah mengikuti pelatihan resmi dan memperoleh sertifikat terlatih dari Dinas Kesehatan.


> “Delapan SPPG semua sudah dilatih dan sudah punya sertifikat,” tambahnya.


Namun jawaban ini memunculkan tanda tanya baru: apakah pelatihan tersebut baru dilakukan setelah kasus dugaan keracunan MBG mencuat ke publik?


Saat ditanya hal itu, Yulia menjelaskan bahwa pelatihan sudah dilakukan sejak Mei 2025, dan saat ini SPPG ke-9 tengah dalam proses pelatihan.

> “Kita baru punya delapan dan semua sudah dilatih, hari ini yang ke sembilan,” ujarnya lagi.


Ketika didesak soal mekanisme sanksi atau penindakan administratif terhadap SPPG yang lalai, Yulia tak menjelaskan secara rinci. Ia hanya menyebut bahwa inspeksi kesehatan lingkungan telah dilakukan sebagai bentuk evaluasi.


"Sudah melakukan inspeksi kesehatan lingkungan,” tulisnya singkat. 


Namun, di lapangan, muncul kegelisahan: bagaimana jika dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) tidak diawasi dengan ketat? Bagaimana jika standar higiene dan sanitasi hanya sebatas dokumen tanpa pengawasan rutin?


Masyarakat mulai khawatir. Bila pengawasan lemah, risiko keracunan bisa menjadi bom waktu yang mengancam kesehatan anak-anak setiap hari. Sekali saja bahan makanan tidak segar, air tidak steril, atau tenaga penjamah lalai menjaga kebersihan, dampaknya bisa fatal — bukan hanya gangguan pencernaan, tapi trauma kolektif bagi ribuan keluarga.


“Anak-anak makan dengan percaya, penyedia membagikan dengan bangga. Tapi kami takut kalau dapurnya tidak benar-benar bersih, yang jadi korban justru mereka yang tidak tahu apa-apa,” ungkap salah seorang wali murid di Limapuluh Kota dengan nada cemas. (Rstp)

1 comment:

×
Berita Terbaru Update