Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Tak Sekedar Ramah Anak, Masjid Penjamin Generasi Berkualitas

Wednesday, June 04, 2025 | Wednesday, June 04, 2025 WIB Last Updated 2025-06-04T02:07:30Z
Tak Sekedar Ramah Anak, Masjid Penjamin Generasi Berkualitas


Oleh : Nia Umma Zhafran

 (Aktivis Muslimah)


Dalam upaya mewujudkan visi Kabupaten Bandung yang Bangkit, Edukatif, Dinamis, Agamis, dan Sejahtera, Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP2KBP3A) Kabupaten Bandung bersama Dewan Masjid Indonesia (DMI) Kabupaten Bandung terus mendorong terwujudnya masjid ramah anak. 


Program ini bertujuan untuk menyiapkan sumber daya manusia unggul sejak dini melalui pemenuhan hak-hak anak, termasuk menciptakan ruang ibadah yang aman, nyaman, dan mendukung tumbuh kembang anak.


Namun, yang perlu diwaspadai potensi bahaya penyusupan ide liberal sekuler ke dalam program masjid ramah anak. Ada kekhawatiran, program ini berpeluang besar ke arah pemisahan Islam dari kehidupan. Seperti yang sudah terjadi, anak hanya diajarkan Islam tentang ibadah ritual (shalat, doa, hafalan), tapi tidak diajarkan bahwa Islam itu sempurna, Islam itu jika diterapkan secara utuh akan mendatangkan rahmat Allah, dan sebagainya. Ini sesuai dengan ide sekuler, agama cukup di ruang pribadi, tidak perlu mengatur kehidupan negara.


Selain itu,  program ini sangat mungkin akan melemahkan jati diri Islam pada anak. Mungkin akan banyak kegiatan yang “menyenangkan” tapi menghilangkan ruh dakwah, jihad, amar makruf nahi munkar, dan semangat menegakkan syariah. Anak diarahkan mencintai toleransi semu dan peace-loving Islam, bukan Islam yang tegak sebagai aturan hidup yang menyelurih (kafah).


Dan juga sangat mungking pengokohan ide-ide untuk mewaspadai Islam radikal, dan menghapus konsep Khilafah di dalam penyampaian sejarah Islam sehingga anak sejak dini tidak akan mengenal kesempurnaan Islam, sistem pemerintahan Islam, ekonomi Islam, atau hudud syar’i.


Yang berbahaya juga, mengganti keteladanan Rasulullah SAW dengan tokoh yang dianggap netral. Dalam dongeng atau program anak, tokoh-tokoh Islam sangat mungkin diganti dengan karakter universal (tanpa identitas syar’i) seperti pahlawan moral sekuler. Rasulullah SAW dan para sahabat tidak ditampilkan sebagai teladan utama.


Ada kemungkinan program ini akan mengarahkan Masjid pada agenda Non-Gorvenmental Organization (NGO) Barat. Beberapa Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) atau yayasan anak internasional masuk ke masjid untuk "memberdayakan anak", tapi sekaligus menyusupkan ide gender equality, toleransi pluralistik, bahkan hak anak versi liberal (tidak boleh ditegur orang tua, dan lain-lain). Oleh karena itu harus kita pastikan dan terus kita upayakan memantau :

1. Masjid Ramah Anak harus tetap berpijak pada Aqidah Islam.

2. Semua kegiatan harus diarahkan untuk membentuk anak yang cinta Islam secara kaffah dan siap memperjuangkan tegaknya syariat di masa depan.

3. Takmir dan guru ngaji harus paham manhaj dakwah Islam ideologis, bukan sekadar menghibur anak-anak.


Dalam Islam, masjid adalah sentra pemerintahan. Negara mengoptimalkan fungsi masjid menjadi tempat yang penting dalam menjalankan peran strategisnya. Bukan hanya sekedar ramah anak, namun negara menjadikan kurikulum dikembangkan untuk menjamin generasi dan peradaban lebih berkualitas. 


Pondasi dan fungsi masjid pertama dioptimalkan oleh Rasulullah SAW pertama kali adalah masjid Nabawi. Jika kembali pada sistem Islam yg shohih, maka peran dan fungsi masjid akan seiring sejalan dengan visi misi negara. 


WalLaahu a'lam bish-showwab

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update