GRISELDA Blanco adalah perempuan gaek dalam sejarah karier kejahatan penyelundup narkoba dari Amerika Selatan ke Amerika Utara. Dia adalah pemimpin kelompok kejahatan yang dipenuhi dengan tipu muslihat, kekejaman, dan darah. Dia menjadi salah satu dari sangat sedikit perempuan yang mencapai posisi tertinggi dalam kartel narkoba.
Pengaruh Griselda membuat citra Miami sebagai kota penuh kekerasan terkait narkoba pada 1980-an. Griselda adalah aktor yang dalam teori analisis jaringan sosial disebut hub atau perantara utama antara kelompok supplier di Kolombia dan kelompok konsumen besar di Amerika Serikat. Perempuan yang lahir dua tahun sebelum Indonesia merdeka ini berjuluk La Viuda Negra atau Janda Hitam karena keterlibatannya dalam aksi pembunuhan dengan ketiga suaminya. Satu warisan utama Griselda yang menjadi inspirasi para mafia narkoba adalah perempuan dapat berperan utama dalam jaringan kejahatan narkoba sekaligus menjadi otak atas perekrutan dan pelibatan perempuan dalam aksi-aksi penyelundupan narkoba.
Wanita kelahiran Cartagena, Kolombia ini adalah pelopor pemanfaatan kelebihan feminisme perempuan dalam menyelundupkan kiloan kokain yang disimpan dalam lekukan tubuhnya atau pakain dalam yang desain tempat penyimpanan bubuk kokain. Tidak sedikit kurir perempuan yang hari ini beterbangan di berbagai penjuru dunia yang membawa narkotika dengan modus disembunyikan di berbagai bagian tubuhnya, termasuk di dalam alat vitalnya. Perempuan pengendali kurir narkoba Apa yang dilakukan Griselda mengingatkan saya pada sosok Dewi Astutik alias Dinda. Di antara cerita yang saya peroleh dari rekan kerja di BNN, Dewi Astutik berhasil membujuk seorang pria yang sedang didera masalah.
Pria berinisial AHS adalah warga Medan yang terlantar di Kamboja karena terjebak oleh mafia judi online. AHS yang berhasil keluar dari mulut harimau, kini masuk ke mulut buaya. AHS diperkenalkan dengan Dewi Astutik alias Dinda oleh seseorang dan dilayani oleh Dewi Astutik untuk biaya penginapan, makan, tiket kembali ke Indonesia, dan kebutuhan lainnya. Dengan kemampuan pendekatan dan manipulasi perasaan, Dewi Astutik berhasil menjadikan AHS sebagai kurir narkoba antarpulau.
Tentu saja bukan hanya AHS yang berhasil dijebak oleh Dewi Astutik. Terdapat pria dan perempuan lain yang berhasil direkrut sebagai kurir oleh Dewi Astutik. Para penyidik mengamankan dua orang kurir terbang berinisial DCH dan AHA dengan barang bukti lima kantong sabu yang akan mereka selundupkan ke Jakarta. Tim juga berhasil mengamankan dua orang lainnya di Jakarta yang sudah siap menerima barang selundupan tersebut.
Kedua orang tersebut adalah bagian dari jaringan yang terhubung dengan Dewi Astutik. Begitu juga dengan pengakuan para kurir terbang dari Sumatera Utara ke Jakarta yang menyebutkan barang tersebut milik Dewi Astutik alias Dinda. Operasi intelijen lintas batas Sampai hari ini, Dewi Astutik alias Dinda masih berkeliaran di Phnom Penh, Kamboja. Kamboja tampaknya hari ini menjadi negara yang aman untuk menjadi basecamp atas berbagai jenis kejahatan.
Kamboja adalah jalur transit ideal untuk perdagangan narkoba, terutama sabu dan heroin yang diproduksi di kawasan negara-negara Mekong. Jika tidak, maka Dewi Astutik, pasanganya, dan para mafia narkoba lainnya akan terus berkeliaran di negara seperti Kamboja. Pembunuhan tersebut menjadi takdir yang wajar karena semasa menjadi ratu penyelundupan narkoba, Griselda kerap bertindak serupa. Paling tidak, orang seperti Dewi Astutik harus mengakhiri hidupnya di dalam penjara super maksimum.
Dia harus merasakan getirnya hidup di dalam penjara sebagaimana yang dirasakan orang-orang yang menjadi kurir narkoba atas bujukan Dewi Astutik yang ditangkap petugas.
Inilah potret buram negeri kita, generasi muda jelas-jelas menjadi sasaran empuk peredaran barang haram yang merusak jiwa. Hukum yang ada tidak mampu membuat para pelakunya jera, meski sudah banyak pelaku yang ditindak.
Semua ini akan terus berulang selama sistem kehidupan manusia masih mengadopsi sistem sekularisme. Sistem ini menjadikan pandangan kehidupan manusia jauh dari aturan agama. Menjadikan manfaat dan hawa nafsu sebagai kebutuhan yang harus dipenuhi tanpa melihat halal dan haram.
Sebagai agama yang paripurna, Islam telah memiliki sejumlah mekanisme dalam mengatur kehidupan umat manusia, termasuk memberantas bisnis haram seperti narkoba. Islam menerapkan sistem kehidupan berbasis Akidah, menjadikan ketakwaan sebagai landasan kehidupan manusia dan meraih ridha Allah SWT sebagai tujuan utama kehidupan. Sehingga setiap aktivitas yang dilakukan, akan disandarkan kepada syariat untuk meraih Jannah-Nya.
Islam menjadikan Dakwah sebagai kewajiban bagi seluruh manusia. Menjadikan Amal makruf nahi munkar sebagai penjagaan sesama manusia dilingkungan sekitar. Islam melarang manusia untuk bersikap tidak peduli terhadap apa yang terjadi di sekitarnya.
Negara akan bersungguh-sungguh dalam memberantas narkoba, karena negara akan menerapkan Hukum Islam secara sempurna (Kaffah) dan menerapkan hukum sanksi berdasarkan syariat Islam. Tidak tebang pilih ataupun tajam ke bawah dan tumpul ke atas. Sebab itulah tugasnya Negara, yaitu melindungi umat dari segala macam mara bahaya. Negara wajib memberikan pendidikan Islam gratis untuk membentuk kepribadian yang menjauhi narkoba dan maksiat.
Maka sudah saatnya kita meninggalkan sistem kehidupan sekularisme yang berlandaskan akal manusia semata dan kembali kepada syariat Islam yang datang dari Allah SWT, sang pencipta yang maha mengetahui atas segala sesuatu. Wallahu a’lam bishawab.

No comments:
Post a Comment