Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Fantasi Sedarah: Bukti Runtuhnya Moral dalam Jeratan Sekulerisme

Wednesday, June 04, 2025 | Wednesday, June 04, 2025 WIB Last Updated 2025-06-04T02:49:55Z
Saat ini tengah beredar berita yang masih hangat diperbincangkan, dimana di aplikasi Facebook terdapat grub yang Bernama Fantasi Sedarah yang berisi 32.000 anggota


Oleh Saqiraz Azzahrah


Saat ini tengah beredar berita yang masih hangat diperbincangkan, dimana di aplikasi Facebook terdapat grub yang Bernama Fantasi Sedarah yang berisi 32.000 anggota. Grub ini diperuntukkan untuk orang-orang yang tertarik secara seksual kepada anggota keluarga yang sedarah dan mengekspresikannya dengan mengupload berbagai postingan vulgar.  Akhirnya Bareskrim Polri dan Penyidik Direktorat Siber Polda Metro Jaya turun tangan mengusut kasus ini dengan menangkap 6 pelaku dari admin hingga anggota grub dan membuat grub tersebut telah terhapus. Namun, mirisnya meski demikian tidak membuat para pelaku ini jera. Sebab, mereka justru membuat grub baru lagi. 

Tindakan penyelesaian yang dilakukan oleh aparat bukanlah solusi tuntas, sebab akan mudah muncul lebih banyak lagi hal seperti ini. Seharusnya, tugas negara menyikapi dan mengawasi media internet dengan serius. Perlu kebijakan yang tegas dalam memfilter konten-konten yang berseliweran bahkan untuk konten iklan yang membangkitkan hawa nafsu. Hawa nafsu termasuk dalam gharizah nau’ atau naluri berkasih sayang. Gharizah nau’ adalah rasa cinta kita kepada ayah, ibu, teman, guru, lawan jenis atau keinginan menjaga keturunan. Gharizah bukan merupakan sesuatu yang wajib dipenuhi dan muncul akibat rangsangan dari luar. Maka, perlu untuk menjaga gharizah ini agar tersalurkan sesuai dengan koridor syari’at.

Namun, dengan kondisi saat ini sulit untuk mencapai kondisi yang ideal. Sebab, paham sekulerisme-memisahkan agama dari kehidupan- telah menggurita. Sekulerisme melahirkan kapitalisme dimana segala sesuatu dipertimbangkan berdasarkan pada materi semata. Kebijakan dibuat untuk meraih keuntungan materi bukan bertujuan untuk meri’ayah (mengurusi) rakyat. Buah dari kerusakan sistem inilah berdampak pada rusaknya pula moral ummat.

Melihat kondisi moral ummat saat ini sungguh menggores hati, bagaimana mungkin keluarga yang seharusnya menjadi orang yang paling kita percayai, justru melakukan hal yang bejat. Bagaimana mungkin memiliki rasa nafsu yang ditujukan pada keluarga kandung sendiri. Sungguh miris, saat ini rasa aman pun tidak bisa kita dapatkan di rumah kita sendiri. Untuk itu, Islam punya aturan yang kompleks untuk kita membangun sebuah keluarga. Dalam menjalankan peran kita di keluarga pun perlu berpedoman pada syari’at, sebagaimana Allah berfirman :

اَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَاَهْلِيْكُمْ نَارًا وَّقُوْدُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلٰۤىِٕكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُوْنَ اللّٰهَ مَآ اَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُوْنَ مَا يُؤْمَرُوْنَ ۝٦

Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu. Penjaganya adalah malaikat-malaikat yang kasar dan keras. Mereka tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepadanya dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan (At-Tahrim : 6).

Islam menegaskan untuk mendidik anak agar sedari kecil mengenal konsep mahrom. Anak harus tahu mana orang-orang yang termasuk sebagai mahrom dan non-mahromnya. Sehingga, selanjutnya perlu pula diajari batasan aurat yang boleh diperlihatkan. Sehingga, akan terbentuk adab untuk menjaga diri sesuai dengan perintah syara’. Mendidik anak untuk melaksanakan syariat bahkan dianjurkan untuk ditegasi dari usia 7 tahun sebagaimana diperintahkannya membiasakan anak untuk sholat. Walaupun memang hukum taklif baru berlaku setelah anak sudah mengalami baligh. Selain itu, Islam bahkan mengatur agar orang tua pun punya Batasan untuk memasuki kamar anaknya setelah mulai beranjak besar dan tidak memasuki kamar anak di waktu-waktu tertentu. 

Sekompleks itulah Islam, aturannya mengatur kita dari bangun tidur hingga tidur lagi. Dari bangun keluarga hingga bangun negara. Hak membuat aturan hanyalah ada di tangan Allah subhana wa ta’ala bukan terletak pada manusia. Sehingga, aturan dibuat untuk menyejahterakan ummat dan tidak akan dibuat untuk kepentingan kelompok tertentu. Beda, dengan sistem sekuler-kapitalis saat ini. Tidak mengatur secara tegas hubungan antara manusia, malah justru diberikan kebebasan tanpa mempertimbangkan hukum agama. Asal dilakukan suka sama suka walaupun kegiatan tersebut termasuk menyimpang. Sedangkan Islam, tidak hanya mengatur bagaimana menyelesaikan masalah saja. Islam bahkan mempunyai solusi preventifnya, seperti larangan khalwat, larangan membuka aurat, perintah menundukkan pandangan dan menjaga pergaulan dengan lawan jenis. 

Islam mengatur semual hal ini secara kaffah (menyeluruh) meliputi semua aspek, dari Pendidikan, media dan hukum pidananya. Anak akan diberikan pendidikan berbasis akidah sejak dini, memfilter seluruh tayangan-tayangan vulgar di media agar informasi yang masyarakat dapatkan tidak merangsang hawa nafsunya. Sehingga, rasa keimanan tetap terjaga secara pribadi, keluarga dan lingkungan sosial. Hal ini hanyalah bisa terwujud jika kita menerapkan syariat Islam secara kaffah.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update