Oleh: Rani (Relawan Opini Andoolo, Sulawesi Tenggara)
Anak adalah buah hati kecil yang dititipkan sang ilahi, ia amanah yang harus dijaga dan dilindungi. Jika jasad telah dipanggil yang maha Kuasa maka anak merupakan warisan, harta akan habis tapi anak lekang jika punya tujuan di masa depan yang ingin dicapai. Namun, apa jadinya jika amanah dari Allah lalai dijaga bahkan sampai mengalami tragis dan berujung maut.
Seperti yang dikutip, CNN Indonesia, tiga balita di Kendari, Sulawesi Tenggara, menjadi korban tewas dalam kebakaran sebuah rumah, Senin (6/5) lalu. Sementara satu korban lainnya masih mendapat perawatan intensif di rumah sakit. Empat korban ini adalah kakak beradik yang ditinggal ibunya membeli makan saat peristiwa nahas itu terjadi. Peristiwa kebakaran tersebut terjadi pada saat sang ibu berinisial SK (23) keluar rumah bersama teman prianya inisial AD, untuk mencari makan sekitar pukul 15.30 WITA. Tinggal di rumah tanpa pengawasan orang dewasa, anak-anak ini tak bisa menyelamatkan diri saat kebakaran terjadi. (9/5/2025).
Sungguh dari kejadian tersebut sangat memilukan sebagian orang tua yang membaca berita di atas, naluri seorang ibu siapapun akan sangat sedih membayangkan saja sudah merasa ngeri, anak tersebut ditemukan di lemari yang terbakar sedang berpelukan, apalagi empat orang anak balita ditinggalkan berjam-jam dengan pintu terkunci.
Andaipun keluar rumah untuk menghidupi mencari nafkah dengan bekerja, netizen nggak akan semarah dan dibully, mungkin akan lain cerita. Mengingat dia adalah seorang janda, sebab hidup disistem ini sangat susah apalagi tidak ada jaminan kesejahteraan bagi rakyat.
Dari situ akal kita sudah bertanya-tanya mengapa bisa sampai meninggalkan sampai segitunya belum lagi ke luar bersama pacar?
Apalagi dalam syariat Islam kita sudah tahu bersama hukum pacaran, mengatur interaksi terhadap lawan jenis, Islam sudah memberi aturan yang jelas. Betapa tidak anak balita yang harusnya masih membutuhkan penjagaan yang ketat malah ditinggalkan. Info beredar bahwa wanita berumur 23 tahun telah menikah sebanyak 3 kali dengan anak 5 dari suami yang berbeda.
Jika menganalisis kondisi tersebut, menikah dalam Islam bukan hanya sekedar menikah tapi membutuhkan yang namanya ilmu, dari ilmu tersebut kita menjadi tahu pentingnya peran orang tua seperti apa. Bukan persoalan usia yang masih muda ketika menikah, sebab banyak yang menikah muda tapi karena paham peran menjadi istri dan anak, jadi tidak begitu masalah.
Banyak sekali komentar netizen yang menyalahkan karena pernikahannya yang masih sangat muda, padahal zaman dulu baik-baik saja apalagi jika melihat shohabiyah zaman Rasulullah. Bukan soal nikah mudanya, tapi paham tidak fungsi pernikahan itu apa. Sebab banyak yang mengartikan cinta itu soal urusan sebatas suka terhadap lawan jenis, walhasil mengarungi bahtera rumah tangga tidak berlandaskan syariat dan tanpa arah.
Bukan hanya soal kisah duka, tapi cerminan dari rusaknya sistem yang membiarkan pernikahan dini menjadi tujuan tanpa arah. Pernikahan tanpa bimbingan bukanlah solusi untuk menghadapi persoalan yang lebih besar.
Islam memberi pemahaman bahwa individu mengetahui mana yang baik dan mana yang buruk agar tidak terjerumus, tapi masalahnya dari segi persoalan yang lebih besar harusnya masyarakat dan negara hadir untuk membentengi urusan masalah yang lebih besar lagi.
Semua ini terjadi bukan soal individu tapi bagaimana individu itu terbentuk dari sistem yang rusak. Mengutip postingan dari king shifrun, "Ini adalah hasil budaya yang menormalisasi pernikahan sebagai pelarian, bukan pematangan".
Sistem kapitalis membentuk individu dan masyarakat bahwa kebahagiaan berasaskan dari materi saja, tidak pada yang lainnya. Termasuk urusan pernikahan semua dinilai dari materi, dari pola inilah pemahaman masyarakat jauh dari Islam. Padahal sistem Islam memberikan perlindungan dan hukum yang memanusiakan manusia. Wallahu A'lam

No comments:
Post a Comment