Oleh: Zahwa Asma Fathiyyah
(Mahasiswi STIU Darul Hikmah)
Jagat negeri ini gempar dengan peristiwa pengemudi ojek online yang menerima pesanan mengirimkan barang ke sebuah rumah dekat Masjid. Namun, saat tiba di lokasi, pengemudi ojol merasa curiga karena tidak ada yang mengenal nama penerima. Ia pun memutuskan membuka tas tersebut. Di dalamnya, ia menemukan jasad bayi terbungkus selimut hijau, disertai sajadah berwarna biru.
Beberapa hari setelahnya polisi menangkap dua orang pelaku yang ternyata merupakan kakak beradik, Reynaldi (25) dan Najma (21). Keduanya diamankan oleh tim dari Polrestabes Medan pada Jumat (9/5/2025) pagi, di sebuah kamar kos di kawasan Medan Belawan. Kapolrestabes Medan, Kombes Gidion Arif Setyawan, mengungkapkan bahwa Najma melahirkan bayinya secara mandiri pada Sabtu (3/5/2025).
Tak kalah menggemparkan, terkuaknya grup fanspage Fantasi Sedarah yang beranggotakan lebih dari 32 ribu orang cukup membuat mata kita terbelalak. Bagaimana bisa ada segerombolan manusia yang punya orientasi seksual menyimpang, membincangkan soal hobi menjijikkan yaitu memenuhi hasrat seksualnya kepada keluarga sedarah (inses), bahkan masih balita yang merupakan darah dagingnya.
*Fenomena Gunung Es*
Kasus hubungan sedarah memang bukan hal baru. Masih banyak deretan kasus inses terjadi di negeri ini. Apa yang belum terungkap jauh lebih parah dan lebih besar. Ini baru yang ada di dunia maya, di dunia nyata jumlahnya pun tak sedikit. Jejaring mereka, yang tadinya sedikit, perlahan tapi pasti, masuk ke dalam ruang kehidupan masyarakat hingga masyarakat pun nyaris menganggap hal tersebut adalah sesuatu yang biasa. Tak lagi merasa jijik dan muak.
Degradasi moral yang sedang terjadi di masyarakat kita sudah sedemikian parahnya. Semua ini akhirnya berdampak pada hilangnya fungsi keluarga, bahkan menghancurkan leburkan bangunannya.
Bagaimana tidak, hubungan mulia antara anak dan orang tua, adik dan kakak, terkikis oleh dorongan syahwat dan fantasi liar yang kian tidak bisa dikendalikan. Jika dibiarkan, bukan hanya bangunan keluarga yang hancur lebur, melainkan bangunan masyarakat, negara, bahkan peradaban manusia akan runtuh digantikan peradaban binatang yang hidup tanpa aturan.
*Akibat Paham Kapitalis Sekuler*
Mengapa kasus inses bisa terjadi? Tak lain akibat paham kapitalis sekuler yang diadopsi negeri ini. Dimana manusia bebas memenuhi kebutuhan semau hatinya. Akibatnya, mereka tidak lagi berpikir pada siapa mereka menyalurkan syahwatnya, entah pada ibu atau ayah, adik atau kakak, anak atau saudara, yang penting hasratnya terpenuhi.
Mereka merasa tidak memerlukan agama sebagai pedoman hidup dan merasa cukup dengan akal dan hawa nafsu semata. Hasilnya, perbuatan mereka bagaikan hewan, bahkan lebih parah lagi.
*Merusak Fungsi Keluarga*
Sungguh, inses merupakan kejahatan yang luar biasa. Fungsi keluarga tidak berjalan sebagaimana mestinya. Diantaranya:
Pertama, fungsi reproduksi. Keluarga merupakan pintu bagi pasangan untuk menghalalkan hubungan. Dalam fungsi ini, keluarga akan mendapatkan anak. Namun, inses membuat fungsi ini tidak berjalan. Nasab orang tua dan anak menjadi tidak jelas dan rusak.
Kedua, fungsi edukasi. Sudah seharusnya keluarga menjadi tempat awal untuk pendidikan pada anak. Misalnya, memahami cara menghormati, menghargai, dan menyayangi sesama atau yang lebih tua. Inses membuat fungsi ini menjadi tidak berjalan. Mereka tidak lagi berhubungan karena rasa hormat atau kasih sayang yang benar, melainkan sebatas nafsu seksual laki-laki dan perempuan.
Ketiga, fungsi protektif. Keluarga adalah tempat berlindung bagi anak-anak dan anggota lainnya. Akibat inses, anak justru menjadi sasaran kejahatan orang tuanya hingga mereka tidak berdaya untuk meminta pertolongan kepada selainnya.
Keempat, fungsi rekreatif. Keluarga memiliki kemampuan menumbuhkan rasa bahagia bagi setiap anggotanya. Suasana keluarga yang sakinah, mawadah, dan rahmah menjadi obat pelipur lara bagi anggotanya. Namun, inses merusak semua itu. Pelaku dan korban menjadi tidak tenang, bahkan bisa saja mengalami depresi. Tidak ada lagi ketenangan dan kebahagiaan, yang ada hanya rasa bersalah dan ketakutan.
Kelima, fungsi religius. Keluarga harusnya mampu mengondisikan seluruh anggota keluarga menjadi orang-orang yang dekat dengan agama. Namun, inses membuktikan mereka sama sekali tidak paham akan agama.
*Perlu Peran Negara*
Perilaku inses jelas haram di dalam Islam. Al-Qur’an menyatakan, “Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu; anak-anakmu yang perempuan; saudara-saudaramu yang perempuan; saudara-saudara bapakmu yang perempuan; saudara-saudara ibumu yang perempuan; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan; ibu-ibumu yang menyusui kamu; saudara perempuan sesusuan; ibu-ibu istrimu (mertua); anak-anak istrimu yang dalam pemeliharaanmu dari istri yang telah kamu campuri, tetapi jika kamu belum campur dengan istrimu itu (dan sudah kamu ceraikan), maka tidak berdosa kamu mengawininya; (dan diharamkan bagimu) istri-istri anak kandungmu (menantu); dan menghimpunkan (dalam perkawinan) dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang telah terjadi pada masa lampau. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS An-Nisa: 23).
Inses juga merupakan salah satu bentuk zina. Pelakunya wajib dikenai hukuman rajam (apabila sudah menikah) dan dera (cambuk 100 kali).
Firman-Nya, “Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah (cambuklah) tiap-tiap seorang dari keduanya seratus kali dera (cambuk).” (QS An-Nur: 2).
“Tidak halal darah seorang muslim, kecuali karena salah satu dari tiga hal, yaitu orang yang berzina, orang yang membunuh, dan orang yang murtad.” (HR Bukhari dan Muslim).
Jika diterapkan, hukum Islam ini memiliki dua fungsi. Pertama, jawabir, artinya penerapan hukum Islam dapat menghapus dosa pelaku. Kedua, zawajir, artinya penerapan hukum Islam dapat mencegah orang lain melakukan kejahatan yang sama. Inilah kemuliaan sanksi Islam, dapat meminimalkan, bahkan menihilkan tindak kriminal, termasuk inses.
Walhasil, negara wajib menerapkan aturan ini jika ingin masalah inses selesai dan tidak menjadi fenomena gunung es. Negara juga wajib menanamkan dan menjaga keimanan setiap warganya. Penjagaan tersebut berbentuk penerapan syariat Islam secara kaffah dalam setiap sendi kehidupan.
Penerapan Islam yang sempurna inilah yang dapat membuat fungsi keluarga berjalan. Alhasil, terbentuk keluarga Islam yang sakinah, mawadah, dan rahmah. Sistem Islam yang menyeluruh akan menjaga masyarakat (termasuk keluarga) dari kejahatan apa saja.
Hanya saja, negara tidak dapat menerapkan semua ini jika masih ada di dalam cengkeraman kapitalisme. Sebagai seorang muslim, tentu kita berharap negara akan mencampakkan sistem kapitalis dan mengambil Islam sebagai landasan aturannya. Insyaallah, dengan diterapkannya sistem Islam, kasus inses dapat sirna hingga ke akarnya. Wallahu a'lam bishshawab

No comments:
Post a Comment