Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Gen Z Dalam Kapitalisme Demokrasi : Terjerat Gaya Hidup Materialistik

Saturday, October 26, 2024 | Saturday, October 26, 2024 WIB Last Updated 2025-01-21T06:35:59Z

Oleh: Yuli Farida

( Aktivis Dakwah Kampus Jambi)

TERKAIT ”demam” Labubu yang menyerbu masyarakat, sosiolog Universitas Airlangga Nur Syamsiyah SSosio MSc mengatakan, daya tarik produk populer sering kali terletak pada nilai eksklusivitas, keterbatasan produksi, dan keterkaitannya dengan budaya pop yang memiliki basis penggemar.

Sebagaimana diketahui, boneka Labubu menjadi begitu booming setelah idol K-pop Lisa BLACKPINK memamerkannya di media sosial.

”Hal itu menciptakan persepsi bahwa memiliki Labubu berarti turut menjadi bagian dari tren global yang dipopulerkan sosok yang sangat diidolakan. Pembelian produk viral bukan sekadar soal pemenuhan kebutuhan individu. Namun, bagaimana seseorang terlihat relevan di mata lingkungan sosialnya. Dengan begitu, terjadilah fenomena fear of missing out (FOMO). Artinya, seseorang tidak ingin merasa tertinggal dari tren yang sedang populer.

Dalam hal ini, media sosial memainkan peran penting dalam memperkuat narasi tersebut dan mendorong orang lain untuk ikut serta merasakan pengalaman serupa.

Syamsiyah juga menghubungkan fenomena pembelian boneka viral dengan gaya hidup konsumerisme. Konsumerisme mendorong individu untuk mengidentifikasi diri melalui barang yang dibeli. Produk-produk konsumer dapat menjadi simbol status dan tren yang memberikan nilai tambah bagi pemiliknya.

”Sebetulnya, fenomena FOMO juga bisa membawa implikasi positif dari segi ekonomi. Produsen dan kreator berlomba-lomba menarik perhatian orang yang tidak ingin ketinggalan tren sehingga dapat meningkatkan penghasilan,” imbuhnya.

Di sisi lain, FOMO kerap memicu perilaku konsumtif yang kurang sehat sehingga masyarakat belanja melebihi kemampuan finansialnya. ”Tidak jarang, FOMO menambah tekanan sosial untuk ikut tren yang sebenarnya tidak cocok dengan minatnya. Juga menyebabkan kecemasan karena tidak ingin tertinggal tren serta memicu perbandingan sosial.( JawaPos.com 13/10/2024 ).


Buah Sistem Liberal

FOMO adalah istilah yang diperkenalkan pada 2004 dan kemudian digunakan secara luas sejak 2010 untuk menggambarkan fenomena yang diamati di situs jejaring sosial. Istilah ini akhirnya masuk ke dalam kamus Oxford pada 2013. Jauh sebelum kemunculan istilah ini, sebenarnya gejala FOMO itu sudah ada. Hanya saja, fenomena ini kian kompleks karena pengaruh media dengan jejaringnya yang begitu mudah memantik sikap FOMO khususnya di kalangan generasi.

Kita tentu ingat tentang boneka labubu yang mendadak viral hanya karena postingan seorang idol K-Pop. Tidak dinyana, postingan tersebut memicu FOMO di kalangan Gen Z di sejumlah negara. Ya, FOMO merupakan sebuah fenomena global. Perilaku ini nyatanya memberi peluang bagi para pebisnis untuk membuka penawaran satu produk dengan waktu terbatas.

Istilah FOMO marketing merupakan strategi pemasaran yang memanfaatkan rasa takut kehilangan kesempatan untuk mendapatkan sesuatu. Hal ini akan mendorong konsumen melakukan pembelian atau tindakan tertentu dengan segera. Di sisi lain, media memiliki kemampuan untuk menciptakan atmosfer opini yang membuat konsumen merasa cemas dan merasa bahwa mereka mungkin kehilangan kesempatan atau pengalaman yang diinginkan jika tidak bertindak cepat.

Yang bisa menjadi masalah, terungkap bahwa sebanyak 60% milenial memutuskan untuk membeli, menggunakan, atau menyewa sesuatu karena FOMO. Eventbrite—salah satu penyedia layanan tiket dan manajemen acara daring-juga menegaskan bahwa 69% aktivitas remaja saat ini sejatinya dipengaruhi oleh perilaku FOMO.

Fenomena ini tentu memunculkan pertanyaan, “Bagaimana bisa perilaku ini muncul dan menjadi tren di kalangan generasi?” Jawabannya, ini tentu tidak lepas dari sistem sekuler kapitalisme demokrasi yang mendewakan prinsip kebebasan. Dalam sistem ini, fenomena ini mendapat pemakluman. Adanya jaminan kebebasan individu untuk melakukan sesuatu menjadikan segala keputusan personal mereka sebagai privasi yang tidak perlu dipermasalahkan.

Sistem ini juga telah menciptakan berbagai standar-standar sosial yang berorientasi pada kemewahan materi. Kondisi ini telah membuat masyarakat berlomba-lomba untuk mengejar kebahagiaan yang bersifat jasadiah semata. Tujuannya tidak lain untuk mendapat pengakuan di tengah masyarakat. Gaya hidup penuh prestise ala masyarakat kapitalisme ini praktis menciptakan kesenjangan sosial akut sekaligus memicu konsumerisme. Ini pula yang menjadi ruang bagi masuknya bisnis ribawi seperti pinjol dan jenis layanan paylater yang marak saat ini.

Dampaknya, fenomena FOMO berujung pada karut-marutnya sistem finansial. Terus-terusan mengikuti tren memicu membludaknya utang para Gen Z. Sekitar 70% pengguna jasa paylater adalah kalangan muda. Prinsipnya, “buy now pay later” menjadi obat penenang kala FOMO menuntut pemenuhan. Walhasil, kehidupan generasi hanya berkutat pada perkara duniawi. Mereka tumbuh dalam sistem dan masyarakat kapitalistik dan dilenakan dengan perilaku FOMO yang nirfaedah, padahal generasi memiliki peran strategis sebagai agen perubahan sekaligus tulang punggung peradaban.

Sayang, jika peran penting mereka terbajak dengan berbagai perilaku hedonis dan konsumeris dengan referensi hidup para influencer. Mereka terjebak dalam ruang hidup hedonis, yang sangat peduli dengan penampilan, tetapi hidup boros meski harus berutang. Generasi ini diiming-imingi warna-warni kehidupan yang melulu mengenai kesenangan dunia yang bersifat ilusi. Fatamorgana kebahagiaan yang diciptakan kapitalisme telah membuat mereka rabun dalam mendefinisikan makna kebahagiaan, sekaligus lupa akan peran pentingnya bagi peradaban


Generasi Harus Kritis

Sistem sekuler kapitalisme telah meletakkan standar sosial yang tidak sesuai dengan fitrah manusia. Ibarat meminum air laut, tetap saja tidak mampu menghilangkan dahaga. Seperti itulah gambaran manusia dalam mengejar kemewahan dunia. Generasi yang hari ini terlena dengan berbagai gaya hidup yang berorientasi pada kesenangan duniawi, harus kritis dan melihat fenomena ini dengan sudut pandang yang khas.

FOMO tidak lebih dari fenomena yang menunjukkan krisis jati diri di kalangan generasi. Sudut pandang kapitalisme yang memaknai kebahagiaan sebatas gemerlapnya dunia telah berdampak pada labilnya generasi dalam memaknai hidup. Sudah selayaknya, generasi memahami perannya yang selama ini dibajak sistem kapitalisme.

Generasi diposisikan hanya sebagai pasar besar para pebisnis. Melalui fenomena FOMO ini, generasi begitu mudah diarahkan untuk memenuhi keinginan-keinginan yang tidak mereka butuhkan. Hadirnya berbagai literasi keuangan tetap tidak mampu membendung konsumerisme yang tercipta secara genuine dalam masyarakat yang kapitalistik.

Prinsip hidup ala kapitalisme inilah yang harus dilihat secara mendasar oleh generasi. Tersebab prinsip hidup sekuler kapitalisme ini telah menciptakan gaya hidup minus faedah seperti FOMO, maka mengkritik fenomena ini pun harus secara mendasar. Hal ini selaras dengan peran penting generasi sebagai agen perubahan untuk melakukan perubahan mendasar yang bersifat sistemis.

Terlebih lagi, sistem kapitalisme-lah yang menciptakan ruang hingga generasi menjadi sasaran empuk berbagai tren yang tidak berfaedah. Sama saja, sistem ini pun tidak memberi perlindungan pada generasi dari gaya hidup hedonis yang liberal. Bahkan, sistem ini berkontribusi dalam menjerumuskan generasi pada lingkaran hidup yang materalistis. Miris, negara malah memfasilitasi berbagai kanal media yang menawarkan gaya hidup instan, penuh ilusi dan fatamorgana di kalangan generasi.


Persepsi Islam

Islam memandang bahwa generasi merupakan potensi besar dan kekuatan yang dibutuhkan umat sebagai agen perubahan. Berada pada usia produktif menjadikan para generasi memegang peranan penting dalam menciptakan model masyarakat yang tidak hanya sibuk dengan perkara duniawi saja. Sebaliknya, generasi memiliki kontribusi besar dalam mengarahkan masyarakat yang memahami pentingnya dimensi ukhrawi dalam menjalani kehidupan.

Peran ini tegak bukan semata atas dasar tuntutan sosial. Peran ini berpijak pada tuntutan keimanan sehingga kukuh dan menghunjam pada diri generasi. Rasulullah saw. bersabda, “Tidak akan bergeser kaki seorang hamba di hari kiamat dari sisi Rabbnya sehingga ditanya tentang lima hal: tentang umurnya dalam apa ia gunakan, tentang masa mudanya dalam apa ia habiskan, tentang hartanya dari mana ia peroleh dan dalam apa ia belanjakan, dan tentang apa yang ia amalkan dari yang ia ketahui (ilmu).” (HR. Tirmidzi). Hadis ini menegaskan bahwa Allah menuntut pertanggungjawaban tentang masa muda kita.

Jika sistem hari ini seakan memberi pemakluman pada usia muda untuk menikmati berbagai kemewahan hidup, Islam justru berbeda. Islam menegaskan bahwa usia muda adalah fase ketika manusia seharusnya memberikan amal terbaik. Negara berperan sentral untuk menumbuhkan cita-cita untuk membangun dan melanjutkan peradaban dengan mentalitas keimanan pada diri generasi. Ini adalah kekuatan besar suatu peradaban yang tiada bandingnya. Pemahaman generasi mengenai tujuan hidup semata untuk beribadah kepada Allah, akan menuntun mereka untuk melakukan perbuatan berlandaskan rida Allah. Prinsip ini, membuat pemuda mampu melejitkan potensinya dan mempersembahkan karya terbaik semata untuk meninggikan peradaban Islam.

Untuk itulah, negara berperan besar dalam mengarahkan potensi generasi. Negara bertugas melaksanakan sistem pendidikan dengan kurikulum yang berfokus pada pembentukan kepribadian Islam. Negara juga menjalankan sistem kurikulum pendidikan yang mengarahkan life skill generasi sesuai visi politik negara yakni menjadi negara yang mandiri dan terdepan di kancah internasional.

Negara Islam sangat memahami bahwa generasi adalah tulang punggung peradaban. Merekalah generasi penerus peradaban Islam yang besar. Oleh karena itu, negara tidak akan membiarkan generasi terbajak potensinya oleh ide selain visi ideologi Islam. Sebaliknya, negara berperan sebagai perisai generasi, yang melindungi mereka dari berbagai upaya yang mengalihkan potensi besar yang mereka miliki.

Kanal-kanal media yang selama ini menjadi pintu untuk merusak generasi akan negara tata ulang dengan membersihkan arus informasi dan teknologi dari upaya pembajakan potensi generasi yang melenakan. Negara akan mengaruskan proses edukasi di media yang selaras dengan tujuan pendidikan yakni membentuk kepribadian Islam yang tangguh dan mengukuhkan pemahaman generasi mengenai berbagai skill yang bermanfaat dalam mendukung kebutuhan negara akan tenaga ahli.

Versi terbaik generasi Islam inilah yang pernah menjejaki peradaban Islam di berbagai masa kejayaannya. Generasi yang mewakafan dirinya untuk kemuliaan Islam yang tidak silau dengan fatamorgana dunia, alih-alih terbawa arus fenomena FOMO. Inilah generasi yang memahami jelas makna sabda Rasulullah saw., “Ada tujuh golongan manusia yang akan dinaungi oleh Allah dalam naungan (Arsy-Nya) pada hari yang tidak ada naungan (sama sekali) kecuali naungan-Nya,…seorang pemuda yang tumbuh dalam ibadah (ketaatan) kepada Allah.” (HR Bukhari-Muslim). Wallahualam bissawab.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update