Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Sistem Ekonomi Kapitalis Membutakan Naluri Seorang Ibu

Thursday, September 05, 2024 | Thursday, September 05, 2024 WIB Last Updated 2025-01-21T06:38:48Z

Oleh Neneng Hermawati
Pendidik Generasi Cemerlang

Sungguh tega, seorang ibu rumah tangga berinisial SS (27) ditangkap karena menjual bayinya dengan harga dua puluh juta rupiah melalui perantara, di jalan Kuningan, kecamatan Medan Area, Kota Medan, Sumatera Utara.(kompas.com 14 Agustus 2024)

Himpitan ekonomi menjadi alasan utama, seorang ibu ini menjual bayinya yang baru dilahirkan. Tentu saja kasus seperti ini bukan yang pertama kali terjadi. Pada bulan Februari lalu, di Tambora, Jakarta Barat, seorang ibu berinisial T(35) menjual bayinya seharga empat juta rupiah. Bagaikan gunung es, hanya sebagian kecil saja yang terungkap kasus penjualan bayi oleh ibu kandungnya.

Entah kemana akal sehat dan hati nurani sebagai seorang ibu? Begitu mudahnya menukarkan bayi yang selama sembilan bulan dikandungnya dengan materi yang jauh tidak berharga.
Tidak dipungkiri, seseorang yang menjual bayinya terdorong berpikir pendek dan nekad karena tidak ada dukungan dari siapapun untuk menyelesaikan kesulitan ekonominya. Biaya persalinan, merawat, membesarkan anak, dan biaya pendidikan saat usia sekolah membutuhkan biaya yang tidak murah.

Miris, seharusnya seorang ibu yang baru melahirkan mendapatkan jaminan hidup dan ketenangan mentalnya sehingga dapat fokus mengurus dan membesarkan buah hatinya dengan baik, tanpa pusing memikirkan beban ekonomi yang menghimpit hidupnya. Kondisi yang dialami seorang ibu dan masyarakat lainnya yang merasakan himpitan ekonomi tidak terlepas dari penerapan sistem ekonomi kapitalis di negeri ini.

Negara lepas tangan dalam mengatur dan mengurusi urusan rakyatnya. Rakyat bekerja keras untuk bisa memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri, mulai dari pemenuhan kebutuhan pokok sehari-hari, biaya pendidikan, kesehatan, transportasi, listrik, BBM, dan gas, tidak cukup hanya itu, beban ekonomi terus bertambah berat dengan penetapan berbagai pungutan dan juga pajak.
Di sisi lain, para penguasa sibuk memperkaya diri sendiri, keluarga dan kelompoknya. Mereka tidak merasa bersalah menggunakan uang rakyat yang dipungut melalui pajak untuk kepentingan mereka dengan dalih demi kepentingan rakyat. Kekayaan alam yang melimpah ruang hanya dinikmati segelintir orang. Rakyat hanya gigit jari, tidak pernah merasakan manfaat dan kemaslahatan dari kekayaan alam tersebut. Ibarat “tikus mati di lumbung padi”. Rakyat miskin di tengah-tengah kekayaan alam yang melimpah.

Berbeda dengan sistem Islam, yang Allah Swt. turunkan untuk kemaslahatan manusia. Sistem ini telah terbukti selama 13 abad lamanya menjamin kesejahteraan rakyatnya. Hal ini karena Islam menetapkan fungsi dan peran penguasa sebagai pengurus dan pengatur urusan Rakyat. Sabda Rasulullah saw. “Ketahuilah setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawabannya atas yang dipimpinnya. Penguasa yang memimpin rakyat banyak akan dimintai pertanggung jawaban atas rakyat yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari)

Dari hadis di atas, pemimpin dalam Islam akan senantiasa melaksanakan tugas dan fungsinya sebagai pelayan rakyat. Dalam sistem Islam, rakyat dijamin pemenuhan kebutuhan dasarnya, seperti sandang, pangan, papan, pendidikan, kesehatan dan keamanan atas setiap individu masyarakat.
Demi terwujudnya pemenuhan semua kebutuhan dasar rakyat, penguasa melaksanakan beberapa mekanisme di antaranya, membuka lapangan pekerjaan yang luas, pemberian modal dan keterampilan bagi rakyat yang ingin membuka usaha, pemberian tanah agar dikelola sehingga menjadi sumber mata pencaharian, penetapan gaji/upah yang adil tanpa potongan pajak ataupun pungutan iuran lainnya, karena kesehatan dan pendidikan sudah dijamin negara.

Dalam sistem Islam, tugas dan fungsi keluarga akan berjalan sesuai perannya, ayah sebagai pemimpin dan pencari nafkah untuk keluarganya, sedangkan ibu menjadi pengatur rumah tangga, mendidik anak-anak menjadi tugas kedua orang tuanya.

Dengan demikian, sistem Islam akan menutup rapat kasus-kasus ibu menjual bayinya dengan alasan himpitan ekonomi karena masing-masing menjalankan perannya mulai dari penguasa, masyarakat dan keluarga.

Wallahu a’lam bishshawab

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update