Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Semua Agama Sama Adalah bentuk Sinkretisme

Thursday, September 12, 2024 | Thursday, September 12, 2024 WIB Last Updated 2025-01-21T06:38:30Z

Oleh : Siti Zaitun.

Viral diberitakan berbagai media, kunjungan paus Fransiskus ke Indonesia menjadi pusat perhatian. Pemimpin tertinggi umat Katolik yang bertahta di Vatikan tersebut sedang mengadakan lawatan ke berbagai negara di Asia- Pasifik, termasuk Indonesia sebagai negara pertama yang dikunjungi. Sebelumnya, 35 tahun lalu Indonesia pernah dikunjungi Paus Yohanes Paulus II pada 1989.

Hanya saja, kunjungan paus kali ini terkesan berbeda dan disambut secara berlebihan. Salah satunya, acara keagamaan dimasjid Istiqlal terasa bernuansa gereja dan adanya larangan suara azan di televisi yang diganti dengan sekedar teks berjalan. Pasalnya, dianggap akan menggangu acara mereka. Selain itu, pemerintah melalui Menkominfo menyerukan agar televisi menayangkan acara misa secara langsung.

Sebagaimana diketahui, bahwa kunjungan Paus Fransiskus sering dijadikan momen penting untuk mempromosikan paham sinkretisme dengan dalih toleransi umat beragama dan perdamaian dunia. Oleh sebab itu, kunjungan rohaniwan Kristiani bukan sekedar kunjungan biasa yang tidak memberikan pengaruh pada kebijakan publik negara- negara sekuler, terutama berkenaan dengan penyebaran paham sinkretisme.

Dalam hal ini, paham sini adalah pencampuran atau penggabungan dua atau lebih kepercayaan, praktik, atau ideologi yang berbeda menjadi satu bentuk yang bary. Dalam konteks agama, sinkretisme sering terjadi ketika ajaran atau ritual dari agama yang berbeda digabungkan, menciptakan suatu bentuk kepercayaan yang bercampur -aduk. Meskipun mungkin terlihat seperti upaya untuk menyatukan atau menghormati perbedaan, sinkretisme dalam Islam dianggap sangat berbahaya karena dapat merusak kemurnian ajaran Islam yang murni.

Selain itu, sambutan yang berlebihan terhadap tokoh yang menjadi simbol dominasi komunitas non muslim ini sering kali menimbulkan pertanyaan tentang sikap dan prioritas negara yang mayoritas muslim dalam merespon kunjungan tokoh agama dari komunitas mereka sendiri.

Sambutan sangat luar biasa meriahnya yang diberikan kepada Paus Fransiskus bisa terlihat kontras jika dibandingkan dengan kunjungan tokoh agama muslim terkemuka, seperti Mufti Al- Azhar Mesir. Dalam beberapa kasus, meskipun Mufti Al- Azhar merupakan salah satu tokoh paling berpengaruh dalam dunia Islam dan memiliki peran yang signifikan dalam menentukan arah kebijakan dan pandangan keagamaan, kunjungan beliau sering kali dianggap sebagai peristiwa biasa saja. Ini menimbulkan sindiran bahwa ada ketimpangan dalam cara negara mayoritas muslim tersebut menghargai tokoh agama dari luar agama mereka dibandingkan dengan tokoh agama mereka sendiri.

Kemudian ada yang berpendapat bahwa sambutan berlebihan terhadap Paus Fransiskus lebih didorong oleh tekanan politik internasional atau keinginan untuk memperbaiki citra dimata dunia Barat. Ini bisa dilihat sebagai upaya untuk menunjukkan dan toleransi terhadap agama lain, yang secara strategis menguntungkan di kancah diplomasi global. Namun, di sisi lain, sikap yang lebih biasa saja terhadap kunjungan tokoh agama musim sendiri bisa menunjukkan ketidakpedulian atau bahkan ketidakpercayaan terhadap nilai-nilai yang mereka anut secara internal.

Sindiran politik ini juga mencerminkan ketegangan internal di negara-negara tersebut, dimana ada perbedaan pandangan mengenai identitas keagamaan dan nasional. Beberapa pihak mungkin merasa bahwa sambutan berlebihan terhadap Paus Fransiskus menandakan adanya ketergantungan yang tidak proporsional pada kekuatan eksternal, sementara pihak lain melihatnya sebagai langkah positif menuju perdamaian dan kerja sama antaragama.

Kunjungan Paus Fransiskus ke negara mayoritas muslim, meskipun membawa pesan perdamaian, seharusnya tidak menutupi pentingnya menghormati tokoh-tokoh agama yang juga memiliki peran besar dalam masyarakat tersebut. Dengan cara ini, dialog antaragama tidak hanya menjadi alat diplomasi, tetapi juga cerminan nyata dari dominasi sekularisme dalam memaksakan ide-idenya, sehingga wajar Paus Fransiskus mengatakan bahwa homo seksual bukan sebuah kejahatan. (Cnbcindonesia.com, 26/1/2023).

Sinkretisme dalam pandangan Islam merupakan paham yang dapat mencerminkan tauhid, yaitu keyakinan bahwa Allah adalah satu-satunya Tuhan yang harus disembah. Ketika seseorang mulai mencampurkan ajaran-ajaran dari agama lain ke dalam Islam, hal ini dapat menyebabkan penyimpangan dari ajaran- ajaran yang telah ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya.
Sinkretisme dapat berbentuk praktik- praktik ibadah yang tidak ada dasarnya dalam Al-Quran dan hadist atau kepercayaan- kepercayaan yang bertentangan dengan prinsip- prinsip Islam.

Tauhid adalah ini dari ajaran Islam, yaitu keyakinan bahwa hanya Allah yang berhak disembah. Ketika ajaran atau ritual dari agama lain dimasukkan kedalam praktik Islam, ini bisa mengarah pada syirik, yaitu menyekutukan Allah dengan yang lain. Syirik adalah dosa besar dalam Islam, dan Allah mengingatkan kita dalam Al-Quran, ” Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari syirik itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya “(QS.An-Nisa: 48).

Sinkretisme juga dapat menyebabkan kebingungan dan ambiguitas dalam memahami Islam. Ketika elemen-elemen dari kepercayaan lain dicampurkan, batas- batas antara yang benar dan yang salah menjadi kabur. Hal ini dapat membuat umat Islam kehilangan identitas keislaman mereka, karena praktik dan keyakinan yang bercampur tersebut bisa jadi tidak sesuai dengan ajaran Islam yang murni.

Dengan menggabungkan ajaran dari berbagai agama, seseorang dapat dengan mudah tersesat dari jalan yang benar. Penyimpangan akidah bisa terjadi ketika seseorang percaya bahwa semua jalan menuju Tuhan sama, padat Islam menegaskan bahwa jalan yang benar adalah Islam. Allah SWT, secara tegas menyatakan, bahwa siapa yang mencari agama selain dari Islam, maka sekali- kali tidaklah akan diterima ( agama itu) dari padanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang merugi. ( QS. Ali-Imran: 85).

Ketika umat Islam mulai mengadopsi praktik- praktik yang bukan berasal dari Islam, hal ini dapat melemahkan kekuatan dan persatuan umat. Perbedaan dalam praktik ibadah dan keyakinan dapat menyebabkan perpecahan diantara umat Islam, yang pada akhirnya merugikan mereka sendiri. Allah memerintahkan umat Islam untuk bersatu dan tidak bercerai- berai, ” Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali agama Allah, dan janganlah kamu bercerai- berai. ” ( QS. Ali- Imron: 103).

Wallahua’lam bish shawab.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update