*Refleksi Maulid : Keteladanan Kepemimpinan Rasulullah Membangun Peradaban*
Oleh : Illa Kusuma N
Aktivis Muslimah
Maulid nabi tidak hanya sebuah momentum perayaan yang tidak memiliki spirit didalamnya. Namun lebih dari itu. Berbicara tentang maulid Nabi Muhammad SAW adalah sebuah nikmat terbesar yang diberikan oleh Allah kepada seluruh umat manusia atas diutusnya beliau ditengah umat yang notabene hidup dalam kejahiliayahan. Ya, Allah mengutus nabi terakhir sebagai penutup dari rahim seorang ibu yang mulia yaitu Siti Aminah.
Kelahiran beliau memberikan transformasi yang sangat sempurna dalam kehidupan masyarakat Quraisy ketika itu. Transformasi akhlak maupun politik. Seperti yang kita ketahui bahwa kehidupan masyarakat Quraisy hidup dalam kebodohan, kedzaliman, dan berbagai kerusakan-kerusakan lainnya. Allah mengutus Rasulullah sebagai lentera ditengah gelap, mengubah masyarakat yang krisis moral dan hidup dalam kesyirikan beserta kerusakan lainnya menjadi masyarakat yang bermoral dan dalam keberkahan Allah SWT.
Rasulullah Muhammad diutus untuk membawa syariat Islam dan menerapkannya dalam seluruh aspek kehidupan. Maka kaum muslimin wajib untuk meneladaninya. Meneladani beliau hakikatnya adalah dengan mengamalkan seluruh isi Al Quran yang tidak hanya menyangkut aspek ibadah ritual dan akhlak saja, tapi menyangkut seluruh aspek kehidupan, baik dalam bidang pendidikan, ekonomi, politik, maupun pemerintahan.
*Meneladani Kepemimpinan Rasulullah*
Sebagaimana yang kita ketahui, selama kurang lebih 23 tahun sejak beliau diutus, periode dakwah Rasulullah saw. terbagi menjadi dua bagian. Pertama, periode Makkah. Kedua, periode Madinah.
Selama 13 tahun dakwah di Makkah, Rasulullah SAW hanya berdakwah di Mekkah. Selanjutnya, setelah hijrah ke Madinah dan mendirikan Daulah Islam disana untuk pertama kalinya, beliau menjadi penguasa (kepala negara) yang memerankan seluruh fungsi kekuasaan untuk melaksanakan dan menerapkan syariat Islam, bahkan mengemban risalah Islam ke luar negeri dengan dakwah dan jihad. Ini berlangsung sekitar sepuluh tahun hingga beliau wafat.
Oleh karena itu, di antara hal penting dari Rasulullah saw. yang wajib dan layak dicontoh adalah teladan kepemimpinan beliau sebagai penguasa, yakni sebagai kepala negara. Kepemimpinan Beliau sebagai kepala negara ini telah banyak dijelaskan dalam banyak kitab sirah Nabi Saw maupun kitab fiqh.
Rasulullah saw. mengurus dan melayani dengan baik berbagai keperluan rakyat yang beliau pimpin, baik muslim maupun nonmuslim. Beliau memimpin rakyat dengan sangat adil dan penuh kasih sayang. Ini karena hakikat kepemimpinan menurut beliau adalah
“Pemimpin suatu kaum hakikatnya adalah pelayan mereka.” (HR Abu Nu‘aim).
Sebagai kepala negara, yakni negara Islam, Nabi saw. mengadili banyak perkara di masyarakat hanya dengan syariat Islam, bukan dengan hukum-hukum yang lain. Syariat Islam pasti adil karena bersumber dari Allah Yang Maha Adil.
Sebagai kepala negara, Nabi saw. pun mengangkat para wali (gubernur) sekaligus para kadi (hakim), juga para amil. Beliau juga mengutus para utusan (duta) untuk mengajak para pemimpin di seluruh Jazirah Arab saat itu untuk masuk Islam. Beliau pun mengangkat para panglima perang. Bahkan, beliau sendiri sering secara langsung memimpin sejumlah perang (jihad).
Jelas, kepemimpinan Rasulullah saw. selaku kepala negara ini layak dan wajib diteladani. Inilah pula yang dicontoh dan diteladani dengan sangat baik oleh para khalifah setelah beliau, yakni Khulafaurasyidin dengan negaranya yang disebut sebagai khilafah.
*Kehidupan setelah Keruntuhan Khilafah*
Ketika masa kejayaan kekhilafahan runtuh pada tanggal 3 Maret 1924, umat Islam seolah kembali pada masa kejahiliyahan. Umat terus mengalami kemunduran dan jauh dari aqidah Islam yang kokoh. Seperti banyak yang terjadi saat ini umat Islam diadu domba dan berpecah belah. Musuh – musuh Islam mulai berani mencaplok tanah kaum muslimin seperti yang terjadi di Palestina hingga saat ini. Zionis membabi buta melakukan penyerangan tidak hanya pada warga sipil namun juga pada wanita, anak – anak dan fasilitas umum, hingga tak terhitung berapa banyak nyawa yang gugur atas kebiadaban zionis. Sedangkan negeri – negeri muslim hanya bisa diam dan mengutuk tidak berkutik menyaksikan kebiadaban tersebut tanpa bisa melakukan apapun, sebab tidak lain penguasa negeri muslim hanya menjadi boneka dan antek dari penjajah. Disisi lain, barat dengan ideologi kapitalismenya mencengkeram erat para penguasa demi kepentingan imperialismenya, sehingga tak heran sebut saja di Indonesia banyak kekayaan alam di Indonesia yang dikuasai oleh barat, seperti tambang emas freeport di Papua, cadangan minyak di Blok Cepu, Natuna, dsb. Belum lagi kebijakan negara yang merugikan rakyat, dan masih banyak lagi.
Itulah sebagian kecil saja gambaran yang terjadi saat kita tidak meneladani kepemimpinan Rasulullah SAW. Padahal telah jelas bahwa kepemimpinan Rasulullah dalam membangun peradaban melahirkan masyarakat yang ideal dan penuh dengan kejayaan.
Namun fakta saat ini ketika Syariat Islam tidak lagi diterapkan, maka yang terjadi sebaliknya seperti anak ayam kehilangan induknya. Kaum muslim berserakan, kebingungan, dsb. Maka mata elang pun siap untuk menerkamnya.
*Wajib Bersatu*
Ibarat lidi, jika hanya satu, mudah patah, tetapi jika dipersatukan menjadi sapu, tidak akan bisa dipatahkan. Begitu pula kaum muslim, akan kuat dan tidak mudah tercerai berai jika seluruh negara muslim di dunia ini bersatu dalam naungan satu kepemimpinan.
Pemimpin adalah sebagai induk ayam dan negara muslim ibsratnya anak ayam. Jika induknya ada, mereka akan mudah diarahkan, tidak akan tersesat, dan akan senantiasa terlindungi. Oleh karenanya, sosok pemimpin ini akan berperan sebagai junnah (perisai) yang bertugas melindungi, mengayomi, dan mengarahkan seluruh negara muslim.
Gambaran persatuan itu bisa kita contoh dari Rasulullah saw. dan para sahabat yang berhasil menyatukan jazirah arab dan wilayah lainnya menjadi satu negara adidaya (negara Islam). Di bawah kepemimpinan beliau saw. dan khulafa setelahnya, Islam menjadi agama yang diperhitungkan keberadaannya. Negara Islam menjadi menjadi singa di tengah peradaban Persia dan Romawi.
Khalifah sebagai perisai bagi setiap kaum muslim. Darah mereka akan dilindungi. Namun, semua ini hanya bisa terealisasi jika pemimpin muslim mengambil Islam sebagai mabda atau dasar negara.
Wallahu a’lam bisshowab.
No comments:
Post a Comment