Oleh: Emy
(Ibu rumah tangga).
Bupati Bandung, Dadang Supriatna mengungkapkan, Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) yang dinyatakan sehat baru sekitar 5 persen dari jumlah 237 Desa. Padahal menurutnya, potensi BUMDes sangat besar, untuk dapat meningkatkan kemajuan perekonomian dan kesejahteraan masyarakat dasanya. Tadinya Dadang Supriatna, ingin menyimpan uang pinjaman bergulir, tanpa jaminan dan bunga di BUMdes. Setelah dikroscek ternyata, baru 5 persen saja BUMDes yang sehat ungkap Bupati Bandung, saat memberikan arahan di Sultan Raja Soreang. Kamis (6/9/2024).
Padahal menurut pemikirannya, dengan dibentuknya BUMDes, diharapkan Desa bisa mendapatkan penambahan pendapatan, dan mampu mengelola potensi dari masing-masing desa. Dan BUMDes juga diharapkan dapat membantu pemerintah, dalam pencapaian ekonomi dan memajukan masyarakat, serta mampu melakukan inovasi untuk kemajuan desa. Jangan hanya gayanya saja di tiap desa ada BUMdes, tapi kemampuan dalam rangka membuat kelompok Usaha Bersama ( Kube) Saja tidak mau.Bahkan kebanyakan BUMDes sekarang mengalami kerugian.
BUMDes diharapkan bisa berinovasi, membuat program kerja sama dengan BUMD milik Pemkab Bandung yang lainnya, selain BPR., dan semestinya pengurusnya mempunyai pemikiran jadi pengusaha, karena sampai saat ini BUMDes peranannya belum maksimal, kata kang DS. Jadi berikanlah BUMDes ini kepada orang yang profesional. Kedepan kita akan lihat dan memberikan reward and punisment kepada BUMDes. Dan siapa yang berprestasi akan diberikan reward, dan yang mengecewakan diberikan punisment” tandasnya.
Ekonomi merupakan aspek penting dalam tatanan suatu negara, karena jika aspek ekonomi suatu negara tidak bermasalah atau baik-baik saja, otomatis rakyatnya akan terjamin dan tidak akan ada yang kebingungan karena himpitan ekonomi. Pada dasarnya, manusia memiliki kebutuhan dasar yang wajib dipenuhi, dan jika tidak terpenuhi akan menimbulkan masalah dalam kehidupannya. Hanya saja, dalam Implementasinya, siapa dan pihak mana yang wajib menjaga dan menjamin kebutuhan dasar ini, dalam hal ini negaralah yang harus memenuhi kebutuhan rakyatnya secara adil merata.
Kita dapat melihat fakta yang sering terjadi, ketika kekayaan terkadang menumpuk pada suatu keluarga kelas tertentu, sedangkan mayoritas rakyat menengah kebawah, mengalami himpitan ekonomi. Padahal pada dasarnya, kebutuhan manusia sepanjang zaman tetap sama, yaitu hanya membutuhkan sandang, pangan dan papan yang membedakan hanya kualitasnya bukan pada jumlahnya. Inilah salah satu potret buram dari sistem kapitalis, negara yang kaya dengan sumber daya alam yang katanya “Gemah ripah loh jinawi”,tetapi pada kenyataannya banyak rakyat yang menjerit karena himpitan ekonomi. Sumber daya alam, semuanya telah diserahkan kepada swasta, yaitu kaum kapitalis dan oligarki yang memiliki banyak modal, sementara rakyat sendiri tidak bisa menikmatinya inilah yang terjadi dinegara yang mengadopsi sistem kapitalisme.
Walaupun berbagai macam solusi, telah disodorkan untuk mengubah perekonomian rakyat, seperti yang dilakukan oleh Bupati Bandung Dadang Supriatna, dengan membentuk BUMDes, namun itu tidak menjadikan suatu solusi. Karena tidak selamanya rakyat tergantung pada pinjaman saja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Dalam hal ini hanya perekonomian Islamlah yang mampu memberikan solusi, karena perekonomian Islam dibangun berdasarkan akidah Islam, seorang muslim meyakini bahwa Allah SWT menciptakan manusia, alam semesta dan kehidupan, sekarang ataupun kehidupan yang akan datang.
Perekonomian Islam diciptakan, agar umat Islam tetap melakukan kegiatan ekonomi dengan baik dan benar, juga terhindar dari hal-hal yang buruk seperti riba, dzalim atau curang. Semuanya akan diatur dalam sistem ekonomi Islam. Oleh karena itu seorang muslim meyakini segala aktivitas termasuk kebijakannya dalam bidang ekonomi akan diminta pertanggung jawaban oleh Allah SWT, diakhirat kelak.
Wallahu alam Bisshowab.
No comments:
Post a Comment