Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Merindukan Kepemimpinan Ideal Sebagaimana Rasulullah saw.

Thursday, September 19, 2024 | Thursday, September 19, 2024 WIB Last Updated 2025-01-21T06:38:04Z

Oleh Ummi Nissa
Pegiat Literasi

Rabiulawal merupakan bulan yang istimewa bagi kaum muslim di seluruh dunia. Pasalnya, bulan ini adalah momentum kelahiran Nabi Muhammad saw., sebagai manusia pilihan Allah, insan agung pembawa risalah Islam yang diutus Allah Swt. untuk seluruh umat manusia dan sebagai rahmat bagi semesta alam.

Selain itu, Rasulullah saw. juga merupakan uswah hasanah (teladan terbaik) dalam beragam aspek kehidupan yang wajib untuk diikuti umatnya, termasuk menjadikannya sebagai role model dalam kepemimpinan di tengah umat. Sehingga, meneladani Rasulullah saw. secara totalitas adalah bukti kecintaan kepadanya.

Sayangnya, realitas saat ini umat Islam tengah mengalami krisis kepemimpinan. Tidak sedikit umat Islam justru meneladani dan memberikan penghormatan pada pemimpin yang non-muslim. Buktinya kunjungan pemimpin Gereja Katolik dunia ke Indonesia beberapa waktu lalu, mendapat sambutan yang luar biasa dari umat Islam. Bahkan ada salah satu pejabat yang menyampaikan kesederhanaan hidup peminpin Umat Katolik tersebut patut untuk dicontoh.

Padahal, jika kita menyimak pidatonya di istana negara, bagaimana ia menuntut komitmen para pemimpin negeri ini dalam menangani ekstrimisme (Islam) melalui narasi kerukunan, kemajemukan, dan perdamaian. Hal ini tentu semakin menguatkan penerapan moderasi beragama di negeri yang mayoritas muslim ini. Atas nama toleransi penguasa dan juga pendukung moderasi mempertontonkan ketundukkan dan penghormatan dengan berbagai seremonial yang mencampuradukan ajaran Islam dengan nonmuslim. Hal inilah yang menegaskan kedudukan Indonesia di dunia hanya sebagai negara follower (pengekor) yang mengikuti apapun titah tuannya. Negara pun kehilangan wibawa dan fungsinya sebagai penjaga akidah umat.

Selain itu, krisis kepemimpinan juga tampak dari banyaknya masalah yang membelit bangsa ini, mulai dari aspek politik, ekonomi, sosial, hukum, hankam, dan sebagainya. Munculnya fenomena politik dinasti baik di pusat maupun daerah, serta terjadinya berbagai drama politik saat pilpres dan pilkada, menunjukkan lemahnya kepemimpinan pada bidang perpolitikan.

Menguatnya cengkeraman oligarki dalam kekuasaan, menjadikan kebijakan penguasa hanya memuluskan kepentingan para kapitalis. Sumber kekayaan alam yang sejatinya milik rakyat diserahkan pengelolaannya kepada pihak swasta dan asing dengan dalih investasi. Sementara pajak yang terus meningkat membuat beban rakyat kian hari semakin berat.

Krisis kepemimpinan yang terjadi saat ini tidak lepas dari pengaruh menguatnya sistem sekulerisme di Indonesia. Terlebih dengan adanya pengarusan moderasi beragama, umat Islam menjadi semakin jauh dari pemahaman Islam secara mendalam dan menyeluruh. Sistem sekulerisme yang diterapkan saat ini telah menjadikan negeri ini kehilangan role model kepemimpinan Islam, padahal mayoritas penduduknya muslim.

Oleh karena itu, momentum Maulid Nabi saw. sudah selayaknya menjadi bahan refleksi tentang pentingnya mengembalikan kepemimpinan Islam. Sejarah menunjukkan bahwa kepemimpinan Islam yang ditunjukkan oleh Rasululah saw. yang dilanjutkan oleh para khalifah setelahnya mampu membawa umat manusia pada model kehidupan yang ideal dan didambakan setiap orang di sepanjang zaman.

Kepemimpinan Islam yang dimulai oleh Rasulullah saw. lalu dilanjutkan para Khulafaur Rasyidin telah berhasil mewujudkan kepemimpinan ideal. Rahasianya tidak lain karena menerapkan sistem Islam yang tegak di atas landasan akidah yang benar dan distandardisasi oleh syariat yang berasal dari Allah Taala.

Kepemimpinan Islam berperan sebagai raa’in (pengurus) dan junnah (penjaga) umat. Aturannya dijalankan oleh penguasa sebagai amanah yang harus siap dipertanggungjawabkan hingga akhirat kelak. Pelaksanaan syariat Islam secara konsisten oleh negaralah yang menjamin kebaikan dan keberkahan hidup umat manusia.

Rasulullah saw. dan para khalifah setelahnya mempraktikkan model kepemimpinan Islam ini dalam seluruh aspek kehidupan, mulai dari urusan pribadi, keluarga, masyarakat, hingga negara. Baik dalam aspek ibadah, akhlak, muamalah, politik, budaya, sosial, dan sistem sanksi, hingga pertahanan dan keamanan negara. Termasuk di dalamnya, mereka menunjukkan cara mengurusi warga negara Islam yang non-muslim hingga mereka merasakan kebaikan dan keadilan. Selain itu, negara menunjukkan cara bersikap dan berinteraksi dengan negara dan pemimpin non-muslim, hingga memunculkan kewibawan dihadapan mereka.

Adapun dalam konteks perlakuan pemimpin muslim terhadap negara non-muslim beserta para pemimpinnya, Rasulullah saw. dan para khalifah menetapkannya sesuai status dan sikap mereka kepada umat dan Negara Islam. Rasilullah saw. tidak pernah bermanis muka kepada pemimpin non-muslim dan negara yang bersikap memusuhi dan membawa kemudaratan bagi umat Islam. Rasul bahkan bersikap tegas kepada negara non-muslim dengan sikap waspada atau siaga berperang, semata demi melindungi umat Islam dan menjaga kedaulatan Negara Islam.

Berbeda dengan pemimpin muslim hari ini, kebanyakan dari mereka bermanis muka di hadapan para pemimpin non-muslim dan menjadi objek penjajahan tanpa sadar. Bahkan, mereka mau menundukkan diri dan patuh atas kehendak politik musuh-musuh Islam hanya demi mendapatkan rida dan dukungan atas kekuasaan. Pemimpin muslim rela menyerahkan nasib bangsanya, harta kekayaan milik rakyatnya, nyawa saudara-saudara seakidahnya, bahkan masa depan anak-cucunya kepada para penjajah hanya demi melanggengkan kepemimpinan.

Oleh karena itu, selama masih tunduk pada sistem sekulerisme kapitalis yang dipaksakan oleh penjajah pada negeri-negeri muslim, tidak ada harapan untuk dapat memunculkan kepemimpinan ideal. Untuk itu, hanya dengan mencontoh sistem aturan yang diwariskan oleh Rasulullah saw., yakni sistem Islam yang menerapkan syariat dalam seluruh aspek kehidupan, kepemimpinan Islam dapat terwujud.

Wallahualam bissawab.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update