Oleh : Hj.Padliyati Siregar ST
Peristiwa Maulid Nabi SAW adalah
momentum penting bagi umat Islam untuk mengenang kelahiran sosok manusia termulia penerang kehidupan, penerang langit dan bumi, pembawa rahmat bagi semesta.
Tentu kenangan kelahiran beliau SAW bukan sekadar nostalgia masa lalu, reuni spiritual. Justru momentum ini kita jadikan untuk memperkuat girah perjuangan, semangat jihad dalam menegakkan kalimat Allah Taala. Dengan kembali mengenang kelahiran Rasulullah SAW, kita akan terbayang jerih payah perjuangan beliau ﷺ dengan para sahabat dalam merintis
dan menata peradaban Islam.
Rasulullah , berhasil mengubah mereka menjdi masyarakat yang bertauhid, berhukum hanya pada hukum Allah Swt., berakhlak mulia, menjalankan muamalah secara jujur dan amanah, serta memiliki sistem pemerintahan yang kukuh dan sukses menciptakan keadilan dan kesejahteraan.
Jangan sampai kita seperti yang di gambaran dalam Kitab Shahih Al-Bukhari disebutkan suatu riwayat dimana pada suatu hari, Senin, Tsuwaibah datang kepada tuannya, Abu Lahab. Ia menyampaikan kabar tentang kelahiran bayi mungil bernama Muhammad, keponakan barunya. Mendengar itu, Abu Lahab pun bersukacita. Ia kegirangan seraya meneriakkan kata-kata pujian sepanjang jalan.
Sebagai bentuk luapan kegembiraan, Abu Lahab segera mengundang para tetangga dan kerabat dekatnya untuk merayakan kelahiran keponakan tercintanya ini, yakni bayi laki-laki yang mungil, lucu, dan sempurna.
Sebagai penanda sukacitanya, ia pun berkata kepada budaknya, Tsuwaibah, di hadapan khalayak ramai yang mendatangi undangan perayaan kelahiran keponakannya itu, “Tsuwaibah, sebagai tanda syukurku atas kelahiran keponakanku (Muhammad), anak dari saudara laki-lakiku, Abdullah, maka kamu menjadi manusia merdeka mulai hari ini!”
Sayangnya, siapa pun tahu, kelak Abu Lahab–yang notabene paman Nabi Muhammad saw. ini—justru tampil menjadi salah satu musuh utama beliau. Ia mengingkari risalah kenabian beliau, sekaligus menentang Al-Qur’an yang beliau bawa. Oleh karena itu, sosoknya lalu dikecam dalam satu surah tersendiri dalam Al-Qur’an, yakni surah Al-Masad.
Namun demikian, karena ekspresi kegembiraannya menyambut kelahiran Muhammad, Abu Lahab mendapatkan keringanan siksaan, yakni pada setiap hari Senin.
Imam Al-Hafizh as-Suyuthi berkata dalam Al-Hawy (I/196-197), “Saya melihat Imamul Qurra`, Al-Hafiz Syamsuddin Ibnul Jauzi, berkata dalam kitab beliau yang berjudul, ‘Urf at-Ta’rif bi al-Mawlid asy-Syarif, dengan teks sebagai berikut,
Telah diperlihatkan Abu Lahab setelah meninggalnya di dalam mimpi. Dikatakan kepadanya, “Bagaimana keadaanmu?” Ia menjawab, “(Aku) di dalam neraka. Hanya saja, diringankan atas diriku siksaan setiap malam Senin. Hal ini karena aku memerdekakan Tsuwaibah ketika ia menyampaikan kabar gembira kepadaku tentang kelahiran Muhammad dan karena Tsuwaibah telah menyusuinya.”
As-Suyuthi berkata, “Jika Abu Lahab yang kafir ini, yang telah dicela oleh Al-Qur’an, diringankan siksaannya dengan sebab kegembiraannya karena kelahiran Nabi Muhammad saw., maka bagaimana lagi keadaan seorang muslim dari kalangan umat beliau yang bertauhid, yang gembira dengan kelahiran beliau dan mengerahkan seluruh kemampuannya dalam mencintai beliau? Saya bersumpah, tidak ada balasan dari Allah Yang Maha Pemurah, kecuali Dia akan memasukkannya ke dalam surga.”
Riwayat tentang Abu Lahab ini pun dicantumkan di dalam Kitab Al-Barjanji yang terkenal (Lihat juga: Syekh Muhammad bin Alwi al-Maliki, Hawla al-Ihtifal bi al-Mawlid, hlm.8).
Riwayat ini kemudian dijadikan sebagai salah satu “dalil” oleh sebagian ulama tentang keabsahan merayakan Peringatan Maulid Nabi Muhammad ﷺ.
Tentu menarik jika riwayat ini dikaitkan dengan realitas umat Islam hari ini. Banyak dari umat ini yang begitu antusias dengan perayaan kelahiran Nabi Muhammad saw., tetapi pada saat yang sama, sebagian dari mereka—khususnya para penguasanya—sering tidak berbeda sikapnya dengan Abu Lahab. Mereka mengabaikan Al-Qur’an yang dibawa oleh Nabi saw., mencampakkan, dan menolak hukum-hukumnya dengan berbagai alasan. Bahkan mereka menentang sebagian ajaran dan syariatnya.
Bukankah demi Al-Qur’an, syariat, dan hukum-hukumnya, Nabi Muhammad saw. dilahirkan dan diutus?
Jika demikian, sekali lagi kita layak bertanya kepada diri sendiri, tuluskah kita mencintai Rasulullah ﷺ?
Di sisi lain, kita berduka sekaligus murka saat Al-Qur’an yang dibawa oleh Rasulullah saw. dinistakan.
Namun, apakah kita juga berduka dan murka saat Al-Qur’an sekian lama dicampakkan? Saat syariatnya sekian lama tidak dipedulikan? Juga saat hukum-hukumnya sekian lama tidak diterapkan?
Bukankah demi Al-Qur’an, syariat, dan hukum-hukumnya, Nabi Muhammad saw. rela mengorbankan harta, keluarga, bahkan jiwanya?
Jika demikian, kita pun layak bertanya kepada diri sendiri, tuluskah ekspresi kesedihan dan kemarahan kita saat Al-Qur’an dinistakan?
Faktanya, kita pun mungkin telah mengecewakan beliau. Bahkan kita mungkin telah benar-benar menyakiti perasaan beliau hingga beliau mengadu kepada Allah Taala. Rasul (Muhammad) berkata, “Tuhanku, sesungguhnya kaumku telah menjadikan Al-Qur’an ini sebagai perkara yang diabaikan.
وَقَالَ الرَّسُوْلُ يٰرَبِّ اِنَّ قَوْمِى اتَّخَذُوْا هٰذَا الْقُرْاٰنَ مَهْجُوْرًا ٣٠
(QS Al-Furqan [25]: 30).
Ayat di atas menceritakan pengaduan Rasulullah saw. kepada Allah Swt. tentang sikap dan perilaku kaumnya terhadap Al-Qur’an. Sebagian mufasir menjelaskan, jika Rasul telah mengadukan kaumnya kepada Allah Swt., maka Allah Swt. menghalalkan azab atas mereka.
Kendati ayat ini berkenaan dengan orang-orang musyrik dan ketakimanan mereka terhadap Al-Qur’an, susunan ayat ini juga mengancam orang yang berpaling dari Al-Qur’an secara umum, baik yang tidak mengamalkannya, maupun yang tidak mengambil adabnya (Al-Qasimi, Mahâsin at-Tawîl, VII/426).
Banyak sikap dan perilaku yang oleh para mufasir dikategori hajr Al-Qur’an (meninggalkan atau mengabaikan Al-Qur’an). Di antaranya adalah menolak untuk mengimani dan membenarkan Al-Qur’an, tidak mentadaburi dan memahami Al-Qur’an, tidak mengamalkan dan mematuhi perintah dan larangan Al-Qur’an, berpaling dari Al-Qur’an, kemudian berpaling pada selainnya (Ibn Katsir, Tafsîr Al-Qur’an Al-Azhîm, III/335).
Bahkan boleh jadi, saat kita jauh lebih sering berleha leha daripada membuka dan membaca mushaf Al-Qur’an, sesungguhnya kita pun telah mengabaikan Al-Qur’an. NastaghfirulLah al-‘Azhim.
No comments:
Post a Comment