Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Jangan Ya Dek Ya

Friday, August 16, 2024 | Friday, August 16, 2024 WIB Last Updated 2025-01-21T06:39:40Z

Oleh Sri Rahayu Lesmanawaty (Aktivis Muslimah Peduli Generasi)

Kontroversi aturan anggota Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) wanita melepas jilbab telah berakhir. Kini Paskibraka wanita diperbolehkan memakai jilbab. Kebijakan terbaru itu disampaikan langsung oleh Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Yudian Wahyudi. Dia mengatakan BPIP mengikuti arahan Istana. Yudian merujuk pada pernyataan Kepala Sekretariat Presiden (Kasetpres) Heru Budi Hartono bahwa anggota Paskibraka wanita diperbolehkan mengenakan jilbab. Anggota Paskibraka wanita tak perlu melepas jilbab dalam upacara peringatan hari ulang tahun (HUT) ke-79 RI pada 17 Agustus nanti (detiknews.com, 15-08-2024).

Di negeri Konoha ini memang ilmu berisik cukup jitu. Akhirnya anggota Paskibraka muslimah boleh mengenakan kembali jilbabnya.

Kebenaran Harus Tegak

Subhanallah. Beberapa pelajaran tentang kehidupan bisa diambil dari peristiwa ini. Pertama, pelajaran tentang tidak boleh menanggalkan kewajiban yang sudah diperintahkan hanya karena titah manusia yang terbatas. Tidak boleh meninggalkan titah-Nya hanya karena aturan manusia lebih ditakuti daripada aturan-Nya. Kedua, pelajaran tentang pentingnya dakwah. Pentingnya untuk tidak berdiam diri menghadapi kemungkaran.

Pelajaran pertama. Secara hakiki, kebenaran merupakan sesuatu yang harus dipegang teguh. Jangan sampai dilepaskan. Rasulullah Saw. pernah bersabda dalam sebuah hadits; bahwa memegang Islam (kebenaran) itu bagai menggenggam bara api.
Dari Anas bin Malik, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يَأْتِى عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ الصَّابِرُ فِيهِمْ عَلَى دِينِهِ كَالْقَابِضِ عَلَى الْجَمْرِ

“Akan datang kepada manusia suatu zaman, orang yang berpegang teguh pada agamanya seperti orang yang menggenggam bara api.” (HR. Tirmidzi no. 2260)

Sangat panas, dan ingin melepas karena saking panasnya. Namun, sangat sepadan, bagi orang yang tetap memegang kebenaran akan mendapat berbagai keuntungan. Hidupnya menjadi tenang; tidak khawatir dalam kondisi apa pun; hidupnya bertabur berkah; keluarga menjadi sehat wal afiat; selamat di dunia dan di akhirat.

Saat ini dalam sistem kapitalis sekuler liberal, semakin lama semakin tidak jelas antara kebenaran dan kebatilan. Kadang, sesuatu yang benar bisa tampak menjadi tidak benar. Kadang, sesuatu yang salah bisa tampak menjadi benar. Sehingga, masyarakat awam menjadi bingung mana yang benar dan mana yang salah. Alhasil, yang benar bisa kalah, yang salah bisa menjadi menang.
Firman Allah Ta’ala,

اَلْحَقُّ مِنْ رَّبِّكَ فَلَا تَكُوْنَنَّ مِنَ الْمُمْتَرِيْنَࣖ

“Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu.” (QS. Al-Baqarah [2]: 147).

Bagaimanapun keadaannya, kebenaran harus dipegang teguh. Kebenaran harus dikatakan benar. Kebenaran harus dijalankan. Demikian pula kebenaran tentang wajibnya jilbab bagi muslimah.
Selama kebenaran itu datang dari Allah Swt, kita tidak perlu merasa ragu. Kita harus yakin, bahwa ketentuan itu adalah benar. Kita harus pegang teguh dan memperjuangkannya, sesuai dengan kemampuan kita masing-masing.

Tetapi jika kebenaran itu hasil kerja manusia. Atau produk manusia, bisa kita mempercayai selama mengacu kepada ketentuan Allah Swt. Sebaliknya, kalau produk itu tidak mengacu pada aturan Allah Swt, kebenaran itu bisa salah dan menyesatkan. Demikian yang terjadi pada beleid yang diputuskan BPIP terkait jilbab yang beberapa waktu yang lalu begitu kontroversial.
Firman Allah Ta’ala,

وَمَنْ لَّمْ يَحْكُمْ بِمَآ اَنْزَلَ اللّٰهُ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الظّٰلِمُوْنَ

“…dan barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim. “(QS. Al Maaidah [5]: 45).
Sabda Rasulullah Saw.,

قُلِ الْحَقَّ وَإِنْ كَانَ مُرًّا

“Katakan kebenaran itu, walau pahit.” (HR. Ibnu Hibban)

Dari nash di atas dapat dipahami bahwa yang benar adalah benar. Jangan sampai yang benar dikatakan salah. Begitu pula sebaliknya. Jangan yang salah dikatakan benar. Dan, yang benar dikatakan salah. Itu namanya memutarbalikkan fakta. Itu namanya membohongi. Itu namanya membodohi umat. Jangan mencampuradukkan antara kebenaran dengan kebatilan. Jangan ya dek ya. Firman Allah Ta’ala,

وَلَا تَلْبِسُوا الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ وَتَكْتُمُوا الْحَقَّ وَاَنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ

“Dan janganlah kamu campur adukkan yang hak dengan yang bathil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu, sedang kamu mengetahui.”(QS. Al-Baqarah [2]: 42).

Begitu kerasnya Allah memberi peringatan kepada umat manusia untuk tidak mencapuradukkan kebenaran dengan kebatilan. Tujuannya, agar umat manusia tidak menjadi zalim. Karena, dampak mencampuradukkan kebenaran dan kebatilan adalah zalim, sesat.
Allah telah menegaskan di dalam Al Qur’an,

وَلَىِٕنْ اَتَيْتَ الَّذِيْنَ اُوْتُوا الْكِتٰبَ بِكُلِّ اٰيَةٍ مَّا تَبِعُوْا قِبْلَتَكَۚ وَمَآ اَنْتَ بِتَابِعٍ قِبْلَتَهُمْۚ وَمَا بَعْضُهُمْ بِتَابِعٍ قِبْلَةَ بَعْضٍۗ وَلَىِٕنِ اتَّبَعْتَ اَهْوَاۤءَهُمْ مِّنْۢ بَعْدِ مَاجَاۤءَكَ مِنَ الْعِلْمِۙ اِنَّكَ اِذًا لَّمِنَ الظّٰلِمِيْنَۘ

“Sungguh, jika engkau (Nabi Muhammad) mendatangkan ayat-ayat (keterangan) kepada orang-orang yang diberi kitab itu, mereka tidak akan mengikuti kiblatmu. Engkau pun tidak akan mengikuti kiblat mereka. Sebagian mereka (pun) tidak akan mengikuti kiblat sebagian yang lain. Sungguh, jika engkau mengikuti keinginan mereka setelah sampai ilmu kepadamu, niscaya engkau termasuk orang-orang zalim.” (QS. Al-Baqarah: 145).

Jilbab adalah kewajiban. Melepasnya adalah kebatilan. Maka siapa pun yang mencampuradukkan keduanya, dia telah zalim. Jangan ya dek ya.
Jilbab adalah kewajiban yang pasti sebagaimana tercantum dalam Al-quran,

يٰٓاَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِّاَزْوَاجِكَ وَبَنٰتِكَ وَنِسَاۤءِ الْمُؤْمِنِيْنَ يُدْنِيْنَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيْبِهِنَّۗ ذٰلِكَ اَدْنٰىٓ اَنْ يُّعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَۗ وَكَانَ اللّٰهُ غَفُوْرًا رَّحِيْمًا

“Wahai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang mukmin, ‘Hendaklah mereka menutupkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.’ Yang demikian itu agar mereka lebih mudah untuk dikenali sehingga mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.”(QS. Al-ahzab: 59).

Pelajaran kedua. Berisiknya kita untuk suarakan kebenaran adalah karena ada perintah untuk dakwah. Ideologi kapitalisme-demokrasi telah mengakibatkan penderitaan bagi umat manusia, perempuan dan generasi.

Kasus tanggalkan jilbab muslimah Paskibraka adalah derita muslimah yang secara aqidah dijerumuskan pada pelanggaran syari’ah. Ini adakah kemungkaran. Tak bisa dibiarkan. Sabda Rasulullah Saw.,

عَنْ أَبِيْ سَعيْدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ: (مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطعْ فَبِقَلبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الإيْمَانِ) رَوَاهُ مُسْلِمٌ.

“Dari Abu Sa’id Al Khudri radhiyallahu ‘anhu dia berkata: ‘Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ”Barang siapa di antara kalian yang melihat kemungkaran, hendaknya dia ubah dengan tangannya (kekuasaannya). Kalau dia tidak mampu hendaknya dia ubah dengan lisannya dan kalau dia tidak mampu hendaknya dia ingkari dengan hatinya. Dan inilah selemah–lemahnya iman.” (HR. Muslim).

Jangan sampai kita menjadi setan bisu. Jangan ya dek ya.
Imam Abu Daqooq dan imam Nawawi mengatakan,

“Orang yang berdiam diri dari (menyampaikan) kebenaran, maka ia adalah Syaithon Akhros (yakni setan yang bisu dari jenis manusia). Dan orang yang menyampaikan kebathilan adalah setan yang berbicara” ( HR Muslim). Naudzu billaahi min dzaalik.

Atas dasar ketha’atan lah kita berisik hingga kebatilan terusik, kezaliman terhapuskan. Berganti dengan keshalihan, kembali pada keimanan dan ketakwaan, hukum syarak dijalankan.

Khatimah

Oleh karena itu, jangan biarkan kebatilan lapang, kezaliman melenggang. Jangan ya dek ya. Sistem saat ini sangat ambyar membubarkan segala ketha’atan. Sudah saatnya kembali pada aturan-Nya agar penyesalan tidak menyertai. Tanpa naungan Islam siapa pun terperdaya. Hidup kita bukan hanya di dunia, namun nasib kita ditentukan oleh apa yang kita lakukan di dunia, hingga di akhir nanti kita layak di surga atau neraka.

Wallaahu a’laam bisshawaab.

 

 

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update