Oleh : Ika Wulandriati, S.Tp
Kalau memulai sesuatu lebih mudah, dari pada mempertahankan kebaikan – kebaikan tersebut. Selalu bila beraktivitas, melakukan amal, yang penting Istiqomah, Istiqomah yang bagaimana? Sepertinya mudah diucapkan tetapi sulit untuk dilakukan. Sama dengan keimanan kita, sebentar-sebentar semangat, sebentar-sebentar turun, Seperti contohnya dakwah, ketemu temannya semangat, seminggu lagi turun lagi, ini namanya tidak Istiqomah.
Istiqomah dalam kamus Bahasa Indonesia adalah konsekuen.
Istiqomah berasal dari kata qoma yaaqumu kiyaman yang artinya berdiri. Maka seorang seorang muslim harus menampilkan sikap Istiqomah, dia tidak terpengaruh dan mengambil sikap lurus ke depan apa yang dia pahami, kalau itu perintah Allah maka dia akan menjaganya, berarti dia lillah.
Memang Istiqomah ini tidak mudah dilakukan, Maka perlu dilatih, kita perlu melatih untuk melakukan sesuatu untuk Istiqomah. Contoh kalau dia menjauhi kemaksiatan dia harus lillah karena Allah, memang Allah yang melarang itu.
Karena Istiqomah ini berkaitan dengan hatinya/ niatnya maka kalau seseorang hatinya banyak penyakit seperti riya’, ujub, tazmi’ dll, bila keikhlasannya terganggu akan susah untuk Istiqomah, susah menerima nasihat kebaikan, kebenaran, jadi keras hatinya. Kita tahu ada tidaknya penyakit hati dalam diri kita, kalau kita sudah faham divinisi dari penyakit-penyakit itu, contohnya: penyakit ngilu2 dikaki, kaki berat, bengkak, itu penyakit apa ya… tidak mungkin itu penyakit perut, jadi kita identifikasi dulu penyakit itu, apa penyakit asam urat ya, asam urat kita pelajari pantangannya apa, karena Allah telah membantu kita, disuruh makan yang halal dan Thoyib, bila sudah tahu dan faham definisi maka kita pelajari penyakit hati tersebut.
Jangan sampai penyakit hati ini mendominasi diri kita, maka nikmat ibadah tak akan kita temukan, Istiqomah akan sulit, penilaian manusialah yang muncul. Kita gembira bila ada yang memuji, kalau tidak dipuji tidak semangat untuk melakukannya, tazmi’/pamer semua dipamerkan, semua aktivitas diupload pingin dapat pengakuan/pujian bahwa saya hebat selalu itu yang muncul pada pikiran dia maka sulit ini untuk Istiqomah.
Contoh yang dialami oleh Baginda Rasulullah saw. dan para Sahabat beliau. Hanya karena dakwah, Rasulullah saw., misalnya, pernah dipukul sampai pingsan (HR Muslim); dilempar dengan batu, dilempari saat melewati Pasar Dzul Majaz oleh Abu Lahab (HR Ibnu Hibban); dilempari dengan kotoran unta saat sedang sujud oleh Uqbah bin Abi Mu’ith (HR al-Bukhari); hendak diinjak lehernya oleh Abu Jahal saat beliau sedang shalat; diejek dan di-bully saat beliau berdakwah ke Thaif (HR Ibnu Hisyam); dicaci-maki bahkan diludahi (HR ath-Thabari); dituding gila, tukang sihir, pemecah-belah, dan lain-lain.
Hal yang sama dialami oleh para sahabat beliau. Ragam penyiksaan, misalnya, dialami antara lain oleh suami istri, yaitu Yasir dan Sumayah, serta putranya, Ammar. Ada juga sahabat yang diikat, seperti dialami oleh Sa’id bin Zaid bin Amr bin Nufail dan ibunya (HR al-Bukhari). Ada yang ditekan oleh Ibunya, seperti dialami oleh Saad bin Abi Waqash (HR Ibnu Hibban). Ada yang dijemur di bawah terik matahari, seperti dialami Bilal bin Rabbah (HR al-Hakim). Ada yang dilarang tampil dan menyerukan dakwah secara terbuka, seperti dialami oleh Abu Bakar (HR al-Bukhari).
Rasulullah saw. dan para sahabat juga pernah diboikot selama 3 tahun. Mereka tinggal di suatu lembah. Selama pemboikotan, banyak dari mereka yang kelaparan, terutama anak-anak (HR Ibnu Saad dan adz-Dzahabi). Beliau dan para sahabat pun dihalang-halangi untuk berhijrah, semua itu tidak sedikit pun membuat mereka mundur dan surut dari jalan dakwah, namun mereka tetap istiqomah
Kita perbaiki circle pertemanan, pergaulan dan pastikan kita hanya dekat dan bergaul dengan orang-orang saleh yang sama-sama mencintai kebaikan, menghargai kebaikan, serta senantiasa berusaha berbuat baik.
Karena lingkungan pertemanan/pergaulan kita juga mempengaruhi. Banyaklah bergaul hanya dengan orang shaleh yang bisa menjadi kawan yang menyemangati kita saat beribadah dan senantiasa menjaga kita dalam kebaikan. Sebagaimana disebutkan dalam hadis berikut ini :
Dari Abu Musa Al-Asy’ariy ra. berkata, Rasulullah saw. bersabda,
مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالسَّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيرِ ، فَحَامِلُ الْمِسْكِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ ، وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً ، وَنَافِخُ الْكِيرِ إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَة
“Permisalan teman duduk yang saleh dan buruk adalah seperti penjual minyak wangi dan tukang pandai besi. Adapun penjual minyak wangi, bisa jadi ia akan memberimu minyak wangi, atau kamu akan membeli darinya atau kamu akan mendapat bau harum darinya. Adapun tukang pandai besi, bisa jadi ia akan membuat pakaianmu terbakar, atau kamu akan mendapat bau yang tidak sedap darinya.” (HR Bukhari No. 2101, Muslim No. 2628)
Istiqomah tidak untuk dipikirkan tetapi untuk dijalani silahkan kita muhasabah diri melatih diri kita untuk senantiasa konsisten terhadap apa yang dipahami. jangan lupa berdoa kepada Allah Swt., agar menetapkan dan memudahkan kita untuk tetap istiqomah di jalan yang benar. Wallahu a’llam
No comments:
Post a Comment