Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Ibu Tega Jual Bayi, Karena Himpitan Ekonomi

Tuesday, August 27, 2024 | Tuesday, August 27, 2024 WIB Last Updated 2025-01-21T06:39:15Z

Oleh :Hj Padliyati Siregar,ST

Seorang ibu rumah tangga berinisial SS (27) ditangkap karena menjual bayinya Rp 20 juta melalui perantara di Jalan Kuningan, Kecamatan Medan Area, Kota Medan, Sumatera Utara. Wakil Kepala Satuan Reserse Kriminal Kepolisian Resor Kota Besar Medan AKP Madya Yustadi mengatakan, kejadian itu berlangsung pada Selasa (6/8/2024).

Mulanya, petugas mendapatkan informasi dari warga. Bahwa akan ada transaksi jual beli bayi di rumah sakit daerah Kecamatan Percut Sei Tuan, Kabupaten Deli Serdang. Jadi SS ini baru saja melahirkan dan infonya mau transaksi di rumah sakit. Setelah itu di lakukan penyelidikan, ternyata transaksinya di Jalan Kuningan.

Sebenarnya kasus perdagangan bayi seperti ini merupakan fenomena gunung es, masih banyak kasus serupa yang belum terungkap lantaran tidak tercium aparat berwenang.

Apa daya, hari ini kita mesti melihat kenyataan pahit. Seorang ibu tega menjual darah dagingnya sendiri. Keputusan berat ini tentunya dipengaruhi perjalanan panjang yang dialaminya. Seorang ibu tentu tidak ingin kepahitan hidup yang dirasakannya menimpa anak yang disayanginya

Menjual bayi sendiri tentunya tidak pernah terlintas dalam benak seorang ibu. Ikatan ibu dengan anak seharusnya merupakan suatu ikatan yang sangat kuat. Adalah fitrah seorang ibu untuk melindungi dan menyayangi anak-anak yang lahir dari rahimnya. Bahkan acap kali seorang ibu rela menderita demi kebahagiaan buah hatinya.

Namun,kehidupan terasa sempit ,sang ibu nekat memberikan bayinya tanpa niat menjual bayi lantaran tidak melihat peluang untuk dapat memberikan kehidupan yang baik.

Demokrasi Biang Masalah

Kemiskinan harta dan iman yang lemah banyak terjadi hari ini adalah di sebabkan buah penerapan sistem sekuler kapitalisme.

Sistem Demokrasi kapitalisme menjadikan negara tidak berperan sebagai pelindung dan penjamin kebutuhan rakyat. Bahkan perempuan harus berjuang sendiri mencari sesuap nasi karena negara tidak memiliki mekanisme pemenuhan kebutuhan pokok individu per individu. Apalagi, negara justru mengaruskan perempuan sebagai tulang punggung keluarga dan negara.

Meskipun berbagai program perlindungan sosial seperti PKH dan KIS hanyalah tambal sulam kapitalisme untuk menunjukkan seolah negara peduli pada rakyatnya.

Padahal sejatinya fakta dari program tersebut tidak mampu mengentaskan kemiskinan. Selain tidak mencakup semua rakyat yang berkategori miskin, jumlah yang tidak seberapa pun marak jadi objek korupsi berbagai pihak.

Tidak hanya itu, sekularisme membuat individu bertindak jahat. Jika pada penguasa atau pejabat tega melakukan korupsi atas bantuan untuk rakyat, individu pun tega memanfaatkan kemiskinan dan kebodohan sesama untuk memperkaya pribadi seperti yang terjadi dalam kasus perdagangan bayi .

Adapun,tindakan menghalalkan segala macam cara untuk mencapai tujuan menjadi hal yang lazim mengingat sistem hukum yang lemah dan tidak memberikan sanksi yang membuat jera.

Hari ini, seorang ibu yang miskin tidak memiliki tempat mengadu dan meminta pertolongan untuk memenuhi kebutuhan hidup bayinya. Sedangkan, pada saat yang sama, sebagian orang bergelimang harta karena menguasai sumber daya alam yang menjadi milik seluruh umat.

Islam Solusi

Islam sebagai sistem kehidupan yang sempurna memiliki sistem pemerintahan yang khas, yaitu khilafah. Khilafah akan mengambil hukum Islam sebagai aturan. Atas dasar itu, khalifah memiliki tugas me-riayah (mengurusi) kebutuhan rakyat.

Perempuan dan anak dalam pandangan Islam merupakan bagian dari masyarakat. Jadi, ketika khalifah mengambil kebijakan untuk menyejahterakan masyarakat, maka perempuan dan anak secara otomatis ikut di dalamnya. Beberapa hal yang akan ditempuh khilafah sebagai berikut:

Pertama, Khilafah memiliki cara pemilihan Khalifah yang mudah dan efisien, serta tidak memerlukan biaya yang banyak. Selain itu, Islam memiliki syarat khusus yang harus dipenuhi untuk menjadi khalifah, seperti muslim, laki-laki, balig, berakal, adil, merdeka, dan mampu. Artinya, untuk menjadi khalifah tidak butuh biaya besar, yang penting syarat wajib sudah terpenuhi. Ini sekaligus menutup celah para pemodal bermain uang.

Kedua, Islam memiliki pengelola keuangan bernama Baitulmal yang akan mengurus pendapatan dan pengeluaran secara detail. Baitulmal mendapat pemasukan dari banyak pos, seperti jizyah, fai, kharaj, ganimah, hasil pengelolaan SDA, dll. Kas itu akan dipakai baitulmal untuk membiayai pendidikan, kesehatan, layanan infrastruktur.

Ketiga, Khilafah mewajibkan laki-laki bekerja dan perempuan menjalankan peran sebagai ibu dan pengatur rumah tangga suaminya. Oleh karena itu, khilafah akan menyediakan lapangan kerja dengan membangun pabrik, memberi bantuan modal usaha tanpa riba, hingga memberikan tanah garapan kepada masyarakat yang mampu mengolahnya. Sementara itu, perempuan tidak wajib bekerja, meski demikian para perempuan tetap boleh melakukannya asalkan tidak meninggalkan kewajiban.

Keempat, bagi masyarakat yang tidak mampu, Khilafah memiliki pos sendiri untuk menjamin kebutuhan, yaitu pos zakat. Ini akan tetap diberikan oleh Khalifah sampai mereka tidak termasuk dalam delapan orang yang menerima zakat

Kelima, khalifah akan menerapkan sistem pendidikan Islam yang bertujuan membentuk muslim berkepribadian Islam, yaitu muslim yang memiliki pola pikir Islam dan pola sikap Islam.

Muslim yang berkepribadian Islam akan dapat memahami apa yang boleh dilakukan dan tidak. Mereka tidak akan mengejar dunia saja, tetapi juga memperhatikan akhirat. Dengan begitu, seorang laki-laki akan paham kewajibannya, begitu pun perempuan. Jika seluruh kaum muslim sudah memahami hak dan kewajiban, akan terbentuk masyarakat yang islami.

Ketika negara menerapkan itu semua secara totalitas, masyarakat pun akan sejahtera. Perempuan dan anak yang merupakan bagian dari masyarakat tentu juga akan ikut sejahtera. Jadi, buat apa lagi kita berharap pada demokrasi?

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update