Oleh Ummu Nasywa
Pegiat Dakwah
Polresta Bandung telah menggelar nonton bareng film pendek berjudul “Edukasi Polresta Bandung Meniadakan Geng Motor” bersama siswa-siswi SMA Al Amanah, Ciwidey, Kabupaten Bandung. Dalam acara tersebut, Polresta Bandung memberikan penyuluhan dan mengedukasi masyarakat tentang bahayanya geng motor. Acara tersebut diharapkan dapat menginspirasi juga membantu dalam menjaga keamanan kamtibmas. (Jabar.tribunnews.com, 1 Agustus 2024)
Tidak bisa dinafikan, aksi geng motor di negeri ini memang sangat meresahkan. Mereka berkelompok umumnya melakukan aksi di malam hari, sering mengganggu pengguna jalan. Sikap dan perilakunya sudah ke arah tindakan kriminal, bukan hanya mengonsumsi alkohol dan obat-obatan terlarang, juga kadang membawa senjata tajam untuk menakuti serta melukai korbannya, sehingga terjadi tawuran yang mengakibatkan kematian. Sebut saja kasus kematian Vina Dewi (16) dan kekasihnya Eki (16) warga asal Kampung Samadikun, Kecamatan Kejaksan, Kota Cirebon, Jawa Barat, yang terjadi pada 27 Agustus 2016 lalu. Berdasarkan penyelidikan kepolisian, kasus kematian Vina dan Eki ini diakibatkan oleh kebrutalan geng motor.
Sebenarnya kasus tentang geng motor ini banyak sekali terjadi, tetapi hanya beberapa kasus saja yang terkuak ke masyarakat, itu pun harus viral dulu. Kebanyakan anggotanya adalah anak-anak remaja yang masih duduk di bangku sekolahan. Mereka merasa keren dengan ikut bergabung bersama kelompok yang mempunyai hobi, minat, dan bakat sama tetapi cenderung ke hal negatif. Yakni bertentangan dengan norma dan hukum yang berlaku di masyarakat maupun negara.
Jika ditelusuri, ada beberapa penyebab maraknya geng motor antara lain: minimnya ketakwaan individu, tidak berjalannya fungsi pendidikan sebagai wadah mencetak generasi berkualitas, maraknya tontonan yang merusak, mandulnya peran keluarga/orang tua, rusaknya kehidupan di tengah masyarakat, dan tidak adanya hukum/sanksi yang membuat efek jera, akibat lemahnya peran negara.
Dengan demikian, untuk mengatasi kasus geng motor, tidaklah cukup hanya dengan melakukan nobar dan edukasi, tetapi harus ada opsi lain yang dilakukan pemerintah seperti: _Pertama_, memperbaiki sistem pendidikan berbasis akidah Islam sehingga melahirkan generasi bertakwa, unggul dan berkualitas. _Kedua_, memperkuat peran keluarga, terutama ibu. Dengan cara mengedukasi para orang tua agar menanamkan akidah yang kuat kepada anak-anaknya. Serta mengembalikan peran ibu sebagai pendidik generasi yang selama ini tereduksi karena disibukkan mencari nafkah. _Ketiga_, menciptakan lingkungan yang sehat di masyarakat berupa adanya kontrol sosial dan saling empati. _Keempat_, melakukan kontroling terhadap konten yang beredar di media, baik di media massa maupun media sosial. Sebab disadari maupun tidak, tontonanlah yang memiliki andil besar dalam kerusakan generasi rusak saat ini. _Kelima_, negara harus menerapkan sistem sanksi yang tegas dan menjerakan bagi pelaku geng motor, karena biasanya geng motor selalu berujung pada kriminalitas.
Sayangnya, hal demikian mustahil terwujud hari ini. Selama negara menerapkan sistem kapitalisme sekuler geng motor akan senantiasa ada. Karena sejatinya, maraknya remaja yang ikut menjadi anggota geng motor tidak lepas dari tertancapnya pemahaman sekuler liberal di dalam kehidupan umat. Paham sekuler telah sukses menjadikan umat tidak memahami agamanya. Karena seluruh perbuatannya bersandar pada akal semata. Asas manfaat juga menjadi tolok ukur perbuatan dan materi menjadi standar kebahagiaannya. Ditambah dengan paham kebebasan yang diembannya, semakin menjadikan manusia bebas tanpa batas.
Sistem pendidikan sekuler yang hanya berorientasi akademik juga menyebabkan para peserta didik fokus pada dirinya sendiri. Dogma atas “nilai yang bagus agar bisa bekerja di tempat _bonafide_” sudah terlalu mengakar, tanpa peduli caranya halal atau haram. Semua itu mereka lakukan hanya demi capaian materi. Itulah gambaran kebahagiaan yang terus ditanamkan pada pelajar.
Berbeda dengan sistem Islam. Islam dan aturannya akan senantiasa menjaga generasinya agar senantiasa berada dalam koridor syariat. Dalam menjaga generasinya, negara akan menerapkan sistem pendidikan yang berasaskan akidah islam dengan tujuan terwujudnya peserta didik yang memiliki sakhsiyah islamiah secara pemikiran dan perbuatan. Sehingga terbentuk pemikiran yang benar tentang alam semesta, manusia, dan kehidupan, serta apa hubungannya ketiganya dengan Sang Pencipta. Inilah yang akhirnya akan mampu mencetak generasi yang beriman, bertakwa, jauh dari perbuatan dosa.
Islam pun akan membina setiap keluarga, terutama para ibu dengan pemahaman Islam yang kuat. Islam akan mengembalikan peran ibu sebagai madrasah pertama dan utama dalam keluarga. Ia tidak akan dibebani dengan mencari nafkah sebagaimana dalam sistem kapitalisme. Sebab, Islam menetapkan mencari nafkah merupakan kewajiban para suami. Apalagi ibu merupakan orang yang sangat paham akan kondisi anak-anaknya. Dengan cara yang lemah lembut penuh kasih sayang, ibu akan dapat memahamkan pendidikan di rumah berdasarkan akidah Islam. Dari keluarga ini akan terlahir generasi kuat dalam mengarungi kehidupan. Serta mengembalikan peran ibu sebagai pendidik generasi yang selama ini tergradasi karena disibukkan mencari nafkah. Karena keluarga adalah pilar pengokoh kepribadian.
Begitu pula dengan masyarakat, negara akan menciptakan lingkungan yang sehat dengan cara menanamkan budaya _amar makruf nahi mungkar_ di tengah umat, hingga menciptakan sistem kontrol yang begitu kuat. Dengan peduli terhadap saudaranya, maka jika ada yang akan berbuat maksiat atau keburukan lain, ia akan segera mencegah dan menasihatinya.
Di sisi lain, negara juga akan menyaring konten-konten media yang bermuatan negatif dan yang akan menjerumuskan generasi kepada hal-hal yang bertentangan dengan syariat. Tontonan yang akan tayang di masyarakat, hanyalah yang positif serta dapat menambah keimanan. Negara pun akan menerapkan sistem sanksi yang tegas dan menjerakan bagi pelaku geng motor, maupun kejahatan lainnya. Sanksi ini bisa berupa takzir, denda, hingga hukuman kisas. Sebab biasanya geng motor kerap berujung pada kriminalitas hingga pembunuhan. Pentingnya peran negara/penguasa dalam pengurusan rakyatnya dan akan dimintai pertanggung jawaban kelak di akhirat. Rasululullah saw. bersabda:
_“Imam (Khalifah) adalah raa’in (pengurus rakyat) dan ia bertanggung jawab atas pengurusan rakyatnya.”_ *(HR al-Bukhari)*
Demikianlah berbagai upaya yang ditempuh sistem Islam dalam menghadapi permasalahan yang terjadi dari remaja terutama kasus geng motor. Generasi muda adalah tonggak peradaban masa depan, maka dari itu harus mendapat perhatian yang maksimal. Pemuda Islam harus bebas dari pemikiran dan prilaku yang menyimpang dari syariat. Agar terwujud harapan besar para pemuda yang bisa mencontoh Rasulullah saw. dan para sahabat/khalifah, hingga bisa menorehkan kembali sejarah kegemilangan Islam di masa depan.
Jadi bukan hanya sekedar menolak/menerima bergabung menjadi geng motor saja, upaya komprehensif juga penting dilakukan oleh negara yakni dengan menerapkan sistem Islam secara _kaffah_ dalam semua bidang kehidupan yang mana telah terbukti mampu melahirkan generasi cemerlang membangun peradaban yang gemilang.
_Wallahualam bissawab._
No comments:
Post a Comment