Kawasan Kumuh Dan Rumah Tak Layak Huni Ancaman Bagi Keluarga


  


Oleh. Mutmainnah

(Aktivis Muslimah Banua)


Salah satu kebutuhan pokok yang sangat sulit dipenuhi oleh keluarga adalah memiliki hunian sendiri yang aman dan nyaman jauh dari lingkungan yang kumuh dan pastinya layak huni. 


Untuk di Kalsel saja rumah yang tidak layak huni ada 43.921 unit. PR besar pemerintah daerah untuk penataan pemukiman kumuh dan rumah tak layak huni khususnya di daerah pertumbuhan yang cukup pesat.


Pemukiman kumuh diartikan sebagai lingkungan hunian yang kualitasnya sangat tidak layak huni. Ciri-ciri pemukiman kumuh antara lain berada pada lahan yang tidak sesuai dengan peruntukan tata ruang, kepadatan bangunan sangat tinggi dalam ulasan yang sangat terbatas. Hingga rawan penyakit sosial dan penyakit lingkungan, dan kualitas bangunan yang sangat rendah termasuk tidak terlayani prasarana lingkungan yang memadai dan membahayakan keberlangsungan kehidupan dan penghidupan penghuninya. Agar menciptakan kawasan yang layak huni Maka komisi III DPRD Kalsel berkunjung ke DPRD Jatim dalam rangka studi komparasi. (radarbanjarmasin, 4/12/2023) 


Beberapa program juga terus dilakukan oleh pemerintah untuk mengatasi masalah ini salah satunya dengan program bedah rumah. 


Faktor Penyebab Kawasan Kumuh dan Rumah Tak Layak Huni


Biasanya yang disebutkan ada dua faktor mengapa kawasan kumuh dan rumah yang tak layak huni masih berdiri. Pertama adalah faktor keterbatasan ekonomi khususnya di kalangan pendapatan rendah sehingga tidak  mampu membangun rumah yang layak huni karena pendapatan mereka hanya habis untuk bertahan hidup. 

Yang kedua adalah faktor keterbatasan lahan karena beralih fungsi dan sebagainya 


Jika mengacu dua faktor itu saja memang tidak salah itulah yang membuat mengapa masih banyak rumah yang tidak layak huni dan kawasan kumuh. Jika ditelaah lebih mendalam ada penyebab utama yang menciptakan hal tersebut masih terjadi walau program pemerintah terus berjalan yaitu sistem kapitalistik. 


Sistem kapitalis ini tidak mampu merealisasikan pemerataan pembangunan lalu terjadilah Ketimpangan antara perkotaan dan perdesaan. Sehingga penduduk terkonsentrasi di perkotaan saja.


Kemiskinan yang diciptakan oleh sistem kapitalis sehingga sumber daya alam yang banyak di Kalsel ini hanya dikuasai segelintir orang saja. Sehingga hasil dari SDA tidak mampu di nikmati rakyat secara menyeluruh ditambah dengan kebutuhan semakin hari semakin meningkat dan harus memenuhinya dengan harga mahal. Akhirnya terciptalah kemiskinan, untuk makan sehari- hari saja sulit apalagi ingin mendapatkan hunian yang layak dan aman. 


Sistem kapitalis juga yang  memudahkan para kapitalis lewat tangan penguasa untuk mengambil alih fungsi lahan, merampas lahan demi kepentingan mereka sehingga membuat semakin sulitnya rakyat memiliki hunian di tengah lingkungan yang nyaman. Seolah-oleh lingkungan hidup yang nyaman hanya bisa dinikmati kalangan kelas atas. 


Beginilah gambaran hidup dalam sistem kapitalis. Kebijakan agraria dan perumahan tidak menjangkau rakyat, malah hanya menguntungkan segelintir orang. Pengelolaan SDA yang tidak berpihak kepada rakyat semakin memiskinkan rakyat. 


Sistem Islam Adalah Solusi


Rakyat tidak bisa berharap pada sistem kapitalis saat ini. Sudah saatnya berganti dengan sistem islam. Sistem  yang akan mewujudkan pembangunan yang merata dan mengakomodasi kepentingan rakyat. Islam juga memberikan ruang hidup aman dan nyaman melalui  regulasi tata ruang. 


Dalam catatan Salim 2015, tentang 1001 fakta memesona tentang  peradaban Muslim, digambarkan rumah-rumah di masa itu memiliki halaman yang luas, teras, taman, dan pagar tembok yang tinggi dengan standar di atas ketinggian penunggang kuda agar aurat muslimah di dalamnya terjaga. Kota-kota juga dibangun dengan fasilitas modern yang bisa dinikmati seluruh lapisan masyarakat.


Maka agar keluarga hidup dalam kawasan yang ideal, nyaman, aman, terlindungi maka solusi satu-satunya adalah kembali kepada sistem Islam.


Wallahu a'lam bishwab

Post a Comment

Previous Post Next Post