Oleh. Nur Ulfa Hidayah, S.Ak, M.H, C.SBCC
Pada awal musim dingin, hujan pertama yang mengguyur jalur Gaza, membawakan babak baru bagi mereka.
Telah banyak beredar gambar maupun rekaman video dari penderitaan panjang 1,5 juta warga Gaza yang terusir akibat perang pemusnahan Israel di media sosial.
Tagar #GazaTenggelam, #MusimDinginPengungsi #TendayangTerendam pun ramai seiring derasnya hujan.
Namun, Israel terus memblokir masuknya material perlindungan tersebut seperti tenda dan barang esensial lainnya. Hal ini menunjukkan pengingkaran Israel atas kewajibannya berdasarkan perjanjian gencatan senjata sejak 10 Oktober 2025 lalu.
Kini warga Gaza berhadapan langsung dengan badai musim dingin tanpa perlindungan, bantuan, dan tempat aman untuk berlindung. Sebagai bentuk kelalaian yang disengaja, untuk menelantarkan satu bangsa dalam menghadapi hujan, lapar, dan hawa beku.
Selain pemblokiran bantuan yang terus berlangsung, tambahan penderitaan ini terjadi karena warga Gaza terkurung pada area sempit di belakang garis kuning, garis yang menandai batas penempatan ulang militer Israel berdasarkan tahap pertama kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan Hamas. Warga setempat menuturkan jika berupaya mendekati atau melintasi garis tersebut akan ditembak oleh pasukan Israel.
Dilansir dari antaranews (15-11-2025) dilaporkan oleh otoritas kesehatan Gaza, sedikitnya ada 260 warga tewas dan mengalami luka-luka lebih dari 630 warga sejak dimulainya gencatan senjata.
Penderitaan dan krisis kemanusiaan warga Gaza akan terus berlangsung selama akar masalahnya berupa penjajahan Zionis tidak dicabut. Gencatan senjata yang dielu-elukan sebagai solusi, nyatanya bukanlah sebuah solusi, bahkan justru semakin memperpanjang penjajahan, perlahan tapi pasti.
Zionis kembali menampilkan watak aslinya sebagai pengkhianat dan pelanggar perjanjian. Sejak gencatan senjata, Zionis Yahudi telah melakukan 194 pelanggaran terhadap kesepakatan, menurut Kantor Media Pemerintah Gaza pada Ahad (2/11/2025).
Namun, melalui narasi yang dikontrol oleh Amerika Serikat, sering kali dunia internasional memandang bahwa pasca gencatan senjata, kondisi Gaza sudah membaik. Tidak sedikit pihak yang menganggap bahwa Gaza baik-baik saja sebagai akibat dari dominasi AS dalam membentuk opini global.
Selama puluhan tahun Barat gagal menghadirkan solusi terhadap Palestina, membuktikan bahwa sejatinya Barat tidak pernah ingin menyelesaikan penjajahan, tidak berniat sedikitpun untuk mengembalikan kondisi seperti sebelum 7 Oktober, bahkan ingin terus memperkuat penjajahan mereka.
Kendali atas lahan pertanian di bagian timur pun turut memberi Israel pengaruh terhadap sebagian pasokan pangan Gaza, menambahkan dimensi ekonomi pada pengawasan militer.
Pasukan perdamaian dari beberapa negara yang akan dikirim ke Gaza dengan tujuan mengawasi implementasi atas gencatan senjata juga telah dikangkangi Zionis. Netanyahu bersikeras, Zionis lah yang berhak menentukan pasukan mana yang diterima sebagai pasukan perdamaian.
Alih-alih menekan Zionis, Barat malah terus melanggengkan ekstensi mereka sebagai penjajah. Membantu perlindungan diplomatik, bantuan logistik, hingga dukungan persenjataan. Sebab konflik ini memberikan keuntungan ekonomi, politik, dan militer bagi Barat.
Selama dunia terus bergantung pada solusi-solusi yang ditawarkan oleh Barat, yang sejatinya adalah solusi rapuh, maka penderitaan Gaza tidak akan pernah berakhir dan akan semakin parah hingga musnah. Karena Barat ingin terus mempertahankan kekuasaan dari ideologi Kapitalisme dan keinginan ini akan terus dipaksakan.
Solusi sejati yang akan menuntaskan segala penjajahan ini hanyalah dapat diraih ketika akar penjajahan itu dicabut dan dihapuskan sepenuhnya. Untuk itu, umat Islam khususnya para pemimpin negeri-negeri Muslim membutuhkan langkah-langkah yang bersifat menyeluruh dan mendasar, sesuai jati diri umat yang seluruh kehidupannya dipandu oleh Wahyu Sang Pencipta.
Sebagaimana dalam QS. Al-Maidah: 50, sudah sepatutnya Islam menjadi pegangan utama dan tidak mengambil selainnya.
أَفَحُكْمَ ٱلْجَـٰهِلِيَّةِ يَبْغُونَ ۚ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ ٱللَّهِ حُكْمًۭا لِّقَوْمٍۢ يُوقِنُونَ
Artinya: “Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?”
Maka terhadap perebutan wilayah dan penjajahan fisik berupa pemusnahan di Gaza, akan tuntas dengan jihad fii sabilillah. Sebagaimana panduan wahyu dalam QS. Al-Baqarah: 190
وَقَٰتِلُوا۟ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ ٱلَّذِينَ يُقَٰتِلُونَكُمْ وَلَا تَعْتَدُوٓا۟ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ ٱلْمُعْتَدِينَ
Artinya: “Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.”
Namun, perlawanan tidak dapat mengantarkan pada kemenangan jika hanya dilakukan oleh penduduk Gaza semata. Sebab sejak awal pendudukan Zionis, mereka telah berusaha sekuat tenaga untuk melawan, akan tetapi kekuatan mereka tidak seimbang dengan kekuatan penjajah.
Seharusnya ini menjadi penyadaran kuat bagi umat Islam untuk menerapkan Islam secara kafah dalam sebuah Negara, yang akan menjadi perisai bagi seluruh umat Islam. Bukan sekadar struktur pemerintahan, melainkan sebuah mekanisme nyata yang akan menghapuskan segala bentuk penjajahan atas warganya.
Dengan kebijakan luar negeri independen, kekuatan militer terpusat, dan persatuan wilayah Muslim strategis, maka negara Islam akan mampu menangkis dominasi-dominasi dari kekuatan global dan melindungi kaum Muslim dimanapun.
Penting untuk disadari bahwa solusi hakiki ini hanya akan terwujud dengan terus menyuarakan secara lantang dan memperjuangkannya melalui dakwah Islam ideologis. Bahwa Islam bukan sekadar ritual namun juga sistem kehidupan yang sempurna nan lengkap, meliputi ekonomi, politik hingga hubungan internasional.
Menyeru umat Islam kepada penerapan Islam secara menyeluruh adalah tugas dari dakwah ideologis ini. Khususnya untuk Palestina, harus menyeru umat kepada solusi hakiki. Sungguh, hanya melalui kepemimpinan Islam inilah yang akan mampu membebaskan wilayah-wilayah kaum Muslim dan memulihkan kehormatannya.
Wallahu a'lam bishawab
.jpg)
No comments:
Post a Comment