Investasi pada Perempuan, Benarkah Makin Memuliakan Perempuan?

 

Oleh. Aurora Ridha

 (Aktivis Muslimah Kalsel)


Lagi-lagi kesetaraan gender kembali digaungkan pada peringatan hari perempuan beberapa waktu yang lalu, tepatnya 8 Maret 2024. Kaum feminis beranggapan bahwa investasi pada perempuan akan memuliakan Perempuan. Lantas apakah dengan demikian benar bahwa dengan investasi pada perempuan itu bisa memuliakan perempuan?


Sebagaimana dilansir bahwa peringatan Hari Perempuan atau International Women’s Day jatuh pada tanggal 8 Maret. Adapun tujuan dalam peringatan hari perempuan tersebut adalah dengan tujuan untuk meningkatkan kesetaraan, menghilangkan diskriminasi, serta menjamin hak-hak bagi para kaum wanita di seluruh dunia lebih khusus lagi di Indonesia. (detiknews, 15/13/24)


Adapun tema untuk Hari Peringatan Perempuan International ini adalah “Invest in women: Accelerate progress” atau yang artinya “Berinvestasi pada Perempuan: Mempercepat Kemajuan”. Karena dengan anggapan bahwa dengan tercapainya kesetaraan gender dan kesejahteraan Perempuan dalam semua aspek kehidupan menjadi penting jika menginginkan terciptanya perekonomian yang sejahtera serta kehidupan yang sehat untuk generasi yang akan datang. (detiknews, 15/13/24)


Memang benar seperti yang kita ketahui bersama bahwa di negeri kita saat ini banyak sekali kasus atau masalah yang menimpa  kaum wanita di antaranya terkait problem kemiskinan hingga diskriminasi. Namun sangat disayangkan karena dengan problem-problem yang ada pada kaum wanita saat ini justru direspon dengan upaya dalam meningkatkan kesetaraan gender.  Ahasil perempuan dalam hal ini dilibatkan dalam menuntaskan kemiskinan. Sehingga negara memberikan kesempatan kepada setiap kaum wanita untuk belajar dan terus berkarya.


Sebenarnya dibalik kaum feminis yang menggaungkan kesetaraan gender dan mendapatkan kesejahteraan adalah agar para kaum wanita mau bekerja sehingga dapat menghasilkan pundi-pundi rupiah, dimana ini justru juga akan mendatangkan keuntungan bagi negara. Ini adalah salah satu solusi yang ditawarkan dalam sistem ekonomi kapitalis. Padahal seperti yang kita ketahui bersama bahwa sistem ekonomi yang diterapkan saat ini sebenarnya sedang tidak baik-baik saja. Namun mereka menutupi kebobrokan sistem ekonomi saat ini dengan mengupayakan kesetaraan gender sehingga kaum wanita dapat bekerja, seolah-olah permasalahannya adalah pada kaum wanita yang tidak bekerja bukan pada sistemnya.


Padahal sejatinya berbagai program pemberdayaan kaum wanita dalam hal ekonomi ini telah gagal mewujudkan janji kesejahteraan bagi para kaum wanita. Karena sistem kapitalisme saat ini yang sebenarnya hanya mencari keuntungan dalam setiap aspek termasuk dalam pemberdayaan kaum wanita, karena sejatinya yang dicari hanyalah keuntungan semata.

 Sedangkan kata “kesejahteraan” bagi kaum wanita itu hanyalah sebuah ilusi semata yang tidak akan pernah didapatkan dalam sistem saat ini. 


Hal ini menandakan bahwa negara telah berlepas tangan dalam menyejahterakan kaum wanita. Negara hanya bersikap sebagai regulator, dimana negara membuka peluang atau memberikan jalan yang mulus kepada para pemilik modal. Sejatinya perempuan dalam peradaban sistem saat ini tidak memahami hak-hak mereka yang sebenarnya. Karena sejatinya para feminis dan kesetaraan gender telah menipu kaum wanita sehingga mereka keluar dari fitrah mereka yang sesungguhnya yakni sebagai seorang ibu dan mengurus rumah tangga.


 Namun sekarang seolah-olah tugas utama dan prestasi seorang wanita adalah berpendidikan lalu kemudian bekerja untuk menghasilkan uang.

Sangat jauh berbeda dengan sistem Islam yang benar-benar memuliakan kaum wanita. Dalam Islam, negara bertanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan setiap individu termasuk bagi para kaum wanita dalam hal kesejahteraan, pendidikan dan berkarya. Namun dengan demikian negara di dalam Islam tidak akan menjauhkan kaum wanita dari peran dan tugas utamanya yakni bahwa seorang wanita adalah sosok al-umm wa rabbatul bayt (ibu dan pengatur rumah tangga).


Dalam Islam bekerja bagi seorang wanita adalah mubah sedangkan tugas utama yang menjadi kewajibannya adakah ibu dan mengatur rumah tangga dan itu adalah prestasi tertinggi bagi seorang perempuan yang sebenarnya. 


Hal demikian tidak akan mempengaruhi kesejahteraan bagi para kaum wanita karena yang bertugas dalam memenuhi kebutuhan hidup dalam keluarga adalah seorang suami atau ayah dan jaminan negara di dalam Islam juga diberikan secara langsung kepada kaum wanita yang tidak mampu seperti janda miskin.


Namun kesejahteraan yang sesungguhnya hanya akan kita temui dalam sistem Islam yang menerapkan semua aturan Islam secara kafah dalam seluruh aspek kehidupan.


Wallahu a’lam bishawab

Post a Comment

Previous Post Next Post