Harga Pangan Melonjak di Bulan Ramadhan, Umat Perlu Solusi

 




Oleh. Nasywa Adzkiya
(Aktivis Muslimah Kalsel)

Event tahunan umat Islam yaitu bulan Ramadan telah berlangsung. Selama 1 bulan penuh umat Islam akan menjalani ibadah puasa. Sudah barang tentu kebutuhan pokok menjadi incaran masyarakat untuk menjalani bulan Ramadan ini.  Seperti pada tahun-tahun sebelumnya ketika melonjaknya permintaan akan kebutuhan pokok maka juga diikuti dengan naiknya harga-harga kebutuhan pokok tersebut. Hal ini seakan sudah menjadi hal biasa yang dialami oleh masyarakat Indonesia setiap tahunnya pada saat memasuki bulan Ramadan.

Sebelumnya, Badan Pangan Nasional (Bapanas) mencatat, per 12 Maret 2024 sejumlah harga bahan pangan masih mengalami kenaikan diawal ramadhan tahun ini. Dikutip dari Panel Harga Badan Pangan, harga beras masih di atas HET, diantaranya harga beras premium rata-rata harga nasional dikisaran RP 16.630 per kg, dan beras medium Rp 14.370 per kg. (liputan6, 12/03/2024)

Mengutip dari mediasinardunia (13/03/2024), menurut Sekretaris Jenderal Ikappi, Reynaldi Sarijowan, harga sembako telah mengalami kenaikan sejak sebelum bulan puasa. Pada awal bulan Ramadan ini, beberapa bahan pokok masih memiliki harga yang tinggi.

Beberapa contoh bahan pokok yang masih mahal adalah minyak goreng curah Rp 16.000 per kg, cabai rawit merah Rp 76.000-77.000 per kg, cabai merah besar TW Rp 100.000 per kg, cabai merah keriting Rp 80.000 per kg, dan bawang putih Rp 43.000 per kg. Harga ayam mencapai Rp 43.000 per kg, telur ayam Rp 32.000 per kg, beras premium Rp 16.500 per kg, beras medium Rp 14.500 per kg, dan daging sapi Rp 140.000 per kg.

Permasalahan kenaikan harga sembako ini tentu semakin membebani rakyat. bagaimana tidak, setiap tahun masyarakat selalu dihadapkan dengan naiknya harga kebutuhan pokok. Namun hal ini seolah dianggap wajar dan biasa. Padahal seperti yang kita ketahui bahwa semakin hari pendapatan masyarakat semakin sulit.

Kenaikan harga sembako ini bahkan dikhawatirkan akan terus mengalami lonjakan hingga menjelang idul fitri nanti. Masyarakat seolah tak ada pilihan lain selain harus membeli dengan harga yang mahal karena kebutuhan. Lantas, dimana peran negara?mengapa harus selalu berulang setiap tahunnya? Apakah pemerintah tidak memiliki solusi?

Kapitalisme Sumber Masalah

Permasalahan pangan di negeri ini menjadi momok yang belum bisa dituntaskan hingga ke akarnya. Hal ini menjadi bukti bahwa sistem yang diterapkan hari ini yaitu kapitalisme telah gagal dalam menjamin kebutuhan pangan rakyatnya.
Misalnya saja permasalahan stunting. Angka stunting di Indonesia masih cukup tinggi yaitu 21,6% berdasarkan hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2022, walaupun terjadi penurunan dari tahun sebelumnya yaitu 24,4% tahun 2021, namun masih perlu upaya besar untuk mencapai target penurunan stunting pada tahun 2024 sebesar 14%. Hasil yang cukup memprihatinkan dari survei yang sama adalah risiko terjadinya stunting meningkat sebesar 1,6 kali dari kelompok umur 6-11 bulan ke kelompok umur 12-23 bulan (13,7% ke 22,4%). (okezone, 07/02/2024)

Data di atas jelas menunjukan bahwa permasalahan pangan masih menjadi permasalahan besar di negeri ini. Sudah seharusnya negara mengambil peran untuk menuntaskannya. Sudah saatnya negeri ini membenahi tata kelola pangan baik dari tata kelola produksi hingga distribusi.
Dengan mahalnya harga kebutuhan pokok di bulan Ramadan ini, tentu menjadikan masyarakat harus lebih memutar otak. Hal ini akan berdampak pada kekhusyuan umat Islam dalam beribadah. Mereka akan disibukan dengan bagaimana memenuhi kebutuhan sehari-hari hingga ibadah pun tak fokus lagi.

Seharusnya negara memberikan kemudahan pada rakyatnya agar dapat menjalani ibadah dengan tenang tanpa dibebani dengan pikiran naiknya harga pangan.

Harus Ada Peran Negara

Tidak seharusnya permasalahan pangan di negeri ini terus-terusan menjadi masalah yang tak kunjung selesai. Sungguh miris dan ironis, negara dengan berlimpah ruahnya kekayaan alam namun rakyatnya harus menerima pil pahit mahalnya harga kebutuhan pokok, kelaparan, kemiskinan hingga stunting.
Permasalahan melonjaknya harga sembako menjelang Ramadan seharusnya bisa dituntaskan oleh negara jika pemerintah benar-benar serius memikirkan nasib rakyatnya. Namun yang terjadi sebaliknya, selama kapitalisme masih bercokol di negeri ini maka kepentingan para pemilik modal akan menjadi hal yang utama dibandingkan nasib rakyat jelata.

Demi mencari keuntungan para pemilik modal akan melakukan praktik-praktik curang seperti mengumpulkan stok dan tidak menjualnya hingga waktu tertentu. Lalu mereka akan menjual barang tersebut dengan harga mahal. Mereka tidak perduli kepada nasib rakyat selain ingin meraup keuntungan dari mereka. Praktik seperti ini wajar dalam sistem kapitalisme. Karena itu, permasalahan harga kebutuhan pokok tidak akan pernah selesai selama sistem yang digunakan adalah kapitalisme.

Hal ini sangat berbeda dengan Islam. Jika Islam diterapkan menjadi aturan kehidupan maka sudah barang tentu pemimpinnya akan berpihak kepada rakyat, negara akan memudahkan rakyatnya agar dapat beribadah terutama di bulan Ramadan. Dalam pemerintahan Islam negara akan berorientasi pada kepentingan rakyat, sehingga kesejahteraan rakyat akan menjadi prioritas utama.

Negara akan mengelola pangan sedemikian rupa murah hingga gratis dengan mudah diperoleh oleh rakyat. Negara tidak akan membiarkan rakyatnya kesusahan bahkan kelaparan. Karena kepemimpinan dalam Islam adalah kepemimpinan yang akan dipertanggung jawabkan di hadapan Allah kelak.

Wallahu a'lam bishawab.

Post a Comment

Previous Post Next Post