Tak Ada Kedamaian untuk ART di Dunia Kapitalistik



Oleh Triana Amalia 

Aktivis Muslimah


Seorang asisten rumah tangga (ART) atau lebih dikenal sebagai "pembantu" sering menjadi bahan pelampiasan emosi oleh para pemberi kerja atau majikannya. Seperti yang terjadi kepada lima orang ART di bawah umur yang bekerja di kawasan Jatinegara, Jakarta Timur. 


Mereka menjadi korban penganiayaan oleh majikannya. Kelimanya pun melarikan diri dengan bantuan warga sekitar salah satunya bernama Vina (39 tahun). Para korban ini sudah dalam rumah aman di kepolisian setempat. (media online Liputan6.com, 17/02/2024)


Lima asisten rumah tangga di Jatinegara tersebut melarikan diri lalu bersembunyi di rumah seorang dokter yang sudah meninggal. Seorang tetangga bernama Vina itu mengetahui kelima ART yang bersembunyi itu dan melihat ada yang terluka di bagian siku dan lutut kanan akibat memanjat pagar besi. 


Kelima ART tersebut mengatakan bahwa mereka ingin kabur karena dianiaya majikannya setiap melakukan kesalahan. Di antara mereka ada yang sering dipukul, kepalanya diketuk sampai bunyi, bahkan disetrika. Kini, kasus penganiayaan itu sedang dalam proses penyelidikan Polres Metro Jakarta Timur. (media online Kompas.com, 17/02/24)


Kemudian di Pusat Perlindungan Perempuan dan Anak (PPPA) Provinsi DKI Jakarta mendampingi asisten rumah tangga berinisial I (23 tahun) yang menjadi korban penyekapan majikannya di Tanjung Duren, Grogol Petamburan, Jakarta Barat. 


Kepala Suku Dinas Pemberdayaan Perlindungan Anak dan Pengendalian Penduduk berkomentar bahwa korban sudah mendapat pendampingan psikologis sekaligus pendampingan hukum dari Polres Metro Jakarta Barat. Masalah lain yang menimpa ART selalu gaji, jam kerja tidak sesuai aturan ketenagakerjaan, dan hak-hak lain yang seharusnya didapatkan korban diabaikan oleh majikannya. (media online AntaraNews.com, 17/02/2024)


Dua peristiwa tragis di atas cukup membuktikan hubungan kerja yang tidak manusiawi antara ART dan majikannya. Setiap tahun pasti ada saja laporan sejenis yang masuk ke dalam meja kepolisian. Negara Indonesia melalui wakil rakyatnya menjawab permasalahan ini melalui Rancangan Undang-Undang Perlindungan Pekerja Rumah Tangga (RUU PPRT). 


Problematikanya, RUU ini sudah diusulkan sejak 2004. Sudah sampai masuk ke Program Legislasi Nasional (Prolegnas) hingga kini. Proses legislasi RUU PPRT yang sudah hampir dua dekade dan sampai detik ini masih belum disahkan adalah bukti adanya tarik ulur RUU tersebut. Jika niatnya untuk melindungi dan memuliakan perempuan yang bekerja sebagai asisten rumah tangga khususnya harusnya tidak perlu tarik ulur. 


Begitulah kengerian negara yang menganut sistem kapitalisme, sistem yang melihat materi sebagai segalanya. Para pemilik harta ingin untung dalam segi waktu mengurus rumah dengan harga murah meriah. Seorang pekerja rumah tangga dipaksa menerima apa pun perlakuan majikannya yang penting masih digaji. Nyawa manusia, derajat ekonomi manusia, dan keinginan untuk bekerja kepada orang-orang kelas kakap dianggap remeh dan murah. 


Hal ini diakibatkan kemiskinan dan rendahnya pendidikan yang tak kunjung membaik di negara Indonesia menambah potensi kezaliman di tengah kesenjangan sosial. Kedamaian di dunia kapitalisme seperti hanya dirasakan dalam dunia dongeng. Dalam permasalahan pelik yang diciptakan sistem kapitalisme bernama kesenjangan sosial ini, solusi hakikinya hanya dimiliki Islam. 


Islam tidak hanya berperan sebagai agama, tetapi sistem dalam kehidupan, datangnya langsung dari Allah Swt. Yang Maha Menciptakan alam semesta dan seisinya. Dikutip dari buku, “Politik Ekonomi Islam” karya Syekh Abdurrahman al-Maliki, ajir (pekerja) adalah setiap orang yang bekerja dengan mendapatkan gaji, baik musta’jir (pengontrak kerja) itu individu, jamaah, atau negara. 


Gaji/upah (ujrah) bagi ajir ini bisa diperoleh ketika dirinya telah mengerahkan tenaganya untuk ditukar. Demikian pula konsep yang semestinya diterapkan dalam memperkerjakan ART. Upah seorang ajir bisa ditentukan berdasarkan kesepakatan antara ajir dan musta’jir, dengan besaran upah yang disebutkan (ajru al-musamma) sehingga keduanya terikat. Jika keduanya tidak sepakat atas suatu besaran upah maka besaran upah tersebut ditentukan menurut para ahli (khubara’) di pasar umum/bursa terhadap manfaat kerja tersebut (ajru al-mitsl).


Rasulullah saw. bersabda, “Siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka janganlah ia mempekerjakan seorang ajir sampai ia memberitahukan upahnya.” (HR An-Nasa’i)


Lebih dari itu, hubungan kerja antara ajir dan musta’jir adalah relasi profesional. Relasi ini juga harus terikat dengan hukum syarak, yakni atas landasan saling berbuat baik dan menyayangi sesama manusia. Ini sebagaimana sabda Rasulullah saw., “Sayangilah siapa yang ada di muka bumi, niscaya kamu akan disayangi oleh siapa saja yang ada di langit.” (HR At-Tirmidzi)


Indah sekali jika aturan ini dipahami dan diterapkan oleh seluruh manusia di muka bumi. Tidak akan ada lagi kasus penganiayaan ART masuk ke dalam laporan kepolisian. Tentu dalam menerapkan aturan yang mendamaikan kehidupan ART ini harus ada negara yang menerapkan syariat Islam kafah. 


Sistem Pemerintahan Islam ini memiliki andil besar dalam menjamin berlangsungnya kontrak kerja (ijarah) yang benar menurut Islam. Begitu juga hubungan yang sehat antara ajir dan musta’jir. Setelah itu, maka eksploitasi dan kezaliman bisa dihindari. Seyogianya, ART bukanlah hamba sahaya. Seorang hamba sahaya sekalipun tetap berhak mendapatkan perlakuan baik dari majikannya karena dirinya seorang manusia. 


Pembeda sejati antarmanusia semata bukanlah karena kedudukannya, melainkan semata karena ketakwaannya di hadapan Allah Taala. Allah Swt. berfirman, “Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.” (QS Al-Hujurat [49]: 13)


Perlakuan yang membuat hati ngeri terjadi pada zaman Rasulullah saw. dari seorang majikan kepada hamba sahaya mencerminkan gambaran hidup di masa jahiliah. Kejadian buruk ini dialami oleh sahabat Rasulullah saw., yaitu Bilal ra. Saat masih menjadi budak dari salah satu pembesar kafir Quraisy, Umayyah bin Khalaf. Bilal mendapat siksaan berat dari majikannya saat dirinya diketahui masuk Islam. Ini jelas perilaku yang jauh dari takwa.

 

Selanjutnya Bilal pun dibebaskan oleh Abu Bakar ra. Dengan harga mahal sejumlah permintaan majikannya. Untuk tindakan semacam ini, pemimpin negara dengan sistem pemerintahan Islam berperan mewujudkan perlindungan hakiki bagi warga negaranya dari berbagai tindak kejahatan. Pemimpin yang disebut khalifah itu akan memberikan sanksi yang tegas. 


Sistem sanksi Islam yang diterapkan sistem Islam kafah akan berfungsi sebagai zawajir (pencegah) dan jawabir (penebus). Maknanya, agar orang lain yang bukan pelanggar hukum tercegah untuk melakukan tindak kriminal yang sama dan jika sanksi itu diberlakukan kepada pelanggar hukum maka sanksi tersebut dapat menebus dosanya.

 

Wallahualam bissawab.

Post a Comment

Previous Post Next Post