Ramadan Datang Tanpa Ada Perubahan? Rugi Dong!!


Oleh. Ummu Ainyssa


Sahabat, Alhamdulillah saat ini kita masih diberikan usia untuk berjumpa dengan bulan suci Ramadan. Bulan penuh kemuliaan yang hanya datang sekali dalam setahun. Di antara kemuliaannya bahwa Ramadan merupakan bulan pengampunan dosa, bulan di mana dibukanya pintu-pintu surga dan ditutupnya pintu-pintu neraka, amalan ibadah di dalamnya akan dilipatgandakan pahalanya, di bulan ini juga ada kesempatan untuk meraih pahala lailatulqadar, yaitu satu malam yang lebih baik dari seribu bulan, di bulan Ramadan pula Allah Swt. menurunkan Al-Qur’an sebagai pedoman dan aturan hidup bagi manusia. 


Sungguh rugi jika waktu yang hanya sebulan ini kita sia-siakan. Sebab, kita tidak akan pernah tahu, tahun depan kita masih bisa menjumpainya atau tidak. Dengan melimpahnya keutamaan bulan Ramadan ini, sudah seharusnya menjadi kabar gembira bagi setiap muslim, sekaligus menjadi motivasi untuk berlomba-lomba meningkatkan ketakwaan, serta tidak menyia-nyiakan pahala di dalamnya. Sebab, ketakwaan merupakan derajat tertinggi keberhasilan seorang muslim yang berpuasa dengan ikhlas dan penuh ketaatan. 


Sebagaimana Allah Swt. mewajibkan setiap muslim untuk berpuasa penuh di bulan Ramadan ini, agar menjadi orang yang bertakwa.

 "Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertakwa". (QS. Al-Baqarah : 183)


Di bulan Ramadan inilah keimanan kita diuji sebulan penuh. Kita diwajibkan untuk mengendalikan hawa nafsu, menahan makan dan minum serta segala hal yang membatalkan puasa di siang harinya. Dengan keyakinan bahwa kewajiban berpuasa adalah perintah dari Allah, seorang muslim pun mampu menjalani sebulan puasa dengan penuh keikhlasan. 


Dengan menyadari akan kewajiban puasa ini, seharusnya menjadi renungan bagi setiap muslim. Jika meninggalkan hal-hal yang pada dasarnya dihalalkan di luar bulan Ramadan, seperti makan dan minum di siang hari saja kita mampu, maka seharusnya kita juga mampu untuk meninggalkan hal-hal lain yang jelas-jelas diharamkan oleh Allah Swt. 


Seharusnya seorang muslim tidak akan merasa keberatan saat harus meninggalkan riba, meninggalkan aktivitas yang mendekati pada zina, saat harus menutup aurat setiap kali berhadapan dengan orang yang bukan mahramnya, tidak lagi meninggalkan salat, dan lain-lain. Sebab semua itu merupakan perintah Allah Swt. yang tertulis jelas di dalam Al-Qur'an, sebagaimana perintah berpuasa. 


Terlebih di dalam surat Al-Baqarah ayat 208, Allah Swt. jelas-jelas memerintahkan kita untuk masuk ke dalam Islam secara kaffah (keseluruhan). Bukan hanya masuk ke dalam Islam sebagian saja. Mana yang kita rasa ringan kita kerjakan, sementara yang menurut kita berat dan tidak ada manfaat kita abaikan. 


Dengan begitu, sudah seharusnya kita jadikan Ramadan ini sebagai pintu bagi perubahan kita secara totalitas. Bukan hanya sekadar berpuasa mendapat lapar dan dahaga saja. Bukankah Rasulullah saw. pernah mengingatkan hal ini, “Betapa banyak orang yang puasa namun dia tidak mendapatkan apa pun dari puasanya kecuali rasa lapar dan dahaga saja.” (HR. Ath-Thabraniy dalam Al Kabir)


Hasil dari keikhlasan berpuasa dengan dorongan keimanan yang kuat, tentu akan menunjukan perubahan yang jauh lebih baik daripada keadaan sebelumnya. Jangan sampai nanti bulan Ramadan berlalu meninggalkan kita tanpa memberi perubahan yang bermakna. Bukan hanya perubahan individu, akan tetapi juga perubahan masyarakat maupun dalam bernegara.


Sayangnya, negeri kita saat ini pun belumlah menunjukkan tanda ketakwaan secara totalitas. Hukum atau solusi yang diterapkan dalam menyelesaikan segala persoalan masih berpegang pada hukum buatan manusia. Sementara solusi yang telah Allah siapkan dalam syariat-Nya masih terus diabaikan. Dalam perekonomian, sistem yang diterapkan masih sistem ekonomi kapitalisme, akibatnya praktek ribawi masih terus dilegalkan. Sumber daya alam yang seharusnya dikelola negara demi kesejahteraan rakyat, masih dikuasai swasta dan asing. Akibatnya, rakyat tidak pernah terentas dari kemiskinan. 


Padahal Allah Swt. telah mengingatkan bahwa dengan ketakwaan yang hakiki dan totalitas, maka Allah Swt. pasti akan meridai dan memberkahi suatu negeri. Sebagaimana janji-Nya di dalam Al-Qur’an surah Al-A’raf ayat 96, “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri tersebut beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya” 


Lantas seperti apa takwa yang hakiki itu? 


Jika kita tengok mengenai arti takwa, kata takwa berasal dari kata ‘waqa’ yang dalam bahasa arab berarti memelihara atau menjaga diri. Sementara di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), takwa berarti terpeliharanya diri untuk tetap taat melaksanakan perintah Allah serta menjauhi segala larangan-Nya.

Kata tersebut kemudian digunakan untuk menunjuk pada sikap dan tindakan untuk melindungi diri dari murka dan azab Allah Swt., dengan cara menjalankan semua perintah Allah Swt. dan menjauhi semua larangan-Nya. 


Sementara menurut Thalq bin Habib, seorang Tabi’in, salah satu murid Ibnu Abbas ra. dalam Tafsir Ibnu Katsir, I/2440, ia mengatakan, “Takwa adalah mengerjakan ketaatan kepada Allah Swt. berdasarkan cahaya-Nya dengan mengharap pahala-Nya dan meninggalkan kemaksiatan kepada Allah berdasarkan cahaya-Nya karena takut terhadap azab-Nya.” 


Dengan demikian ketakwaan hakiki haruslah secara totalitas. Bukan hanya sekadar melaksanakan kewajiban berpuasa Ramadan saja, tetapi juga menerapkan semua hukum Allah (syariah Islam) tanpa terkecuali dan mewujudkannya dalam segala aspek kehidupan. Bukan memperlakukan syariah seperti halnya hidangan prasmanan. Yang disuka diambil, sementara yang tidak disuka ditinggalkan. Takwa juga bukan hanya harus ada pada tataran individu saja. Tetapi juga dalam kehidupan keluarga, bermasyarakat dan bernegara. Karena ketakwaan negara adalah mahkota sekaligus benteng bagi ketakwaan individu dan masyarakat.


Negara yang bertakwa yang menerapkan syariah-Nya secara kaffah (keseluruhan) inilah yang akan mampu memberikan solusi dalam setiap permasalahan. Mengeluarkan kebijakan sesuai dengan hukum syara. Ketakwaan negara inilah yang akan mendorong ketakwaan rakyat yang dipimpinnya. Sebagaimana yang dilakukan Rasulullah saw. dan para pemimpin (khalifah) setelahnya hingga hampir 14 abad lamanya. 

Wallahua’lam bi ashshawwab

Post a Comment

Previous Post Next Post