Kekerasan Seksual Merajalela, Sistem Islam Solusinya

 


Oleh Maryatiningsih

Aktivis Muslimah

 

Kekerasan seksual marak terjadi di negeri ini, baik menimpa orang dewasa maupun remaja bahkan,kekerasan seksual terjadi pada anak di bawah umur, dan pelakunya adalah orang terdekat, termasuk oknum guru,  peristiwa yang serupa terjadi berulang seolah-olah menjadi hal yang biasa terjadi.

 

Beberapa hari yang lalu,ada beberapa oknum guru di Baleendah Kabupaten Bandung, Jawa Barat dilaporkan ke kepolisian karena diduga melakukan kekerasan seksual terhadap anak di bawah umur di SMP 3 Negeri Baleendah,dan korbannya ternyata lebih dari 10 anak, tetapi masih dalam penyelidikan. Diduga salah satu pelakunya adalah wakil kepala sekolah. Dan Jabar pun merupakan tertinggi ke dua terkait pelecehan seksual terhadap perempuan dan anak di Indonesia.

 

Pelecehan seksual yang terjadi adalah dampak dari sebuah sistem yang tidak dilandasi dengan akidah yang sahih. Persoalan ini adalah bagian kecil buah dari sistem saat ini karena, sesungguhnya terjadi banyak kezaliman dari berbagai aspek kehidupan bahkan tidak mampu mengatasinya hingga menjadi persoalan yang mengguning. Apabila dibiarkan tanpa ada penyelesaian maka dipastikan generasi muda akan rusak, tidak ada penerus yang bisa menjadi harapan negeri ini.

 

Hal ini akan terus terjadi jika tidak mengganti sistem saat ini yaitu sekuler kapitalis dengan sistem yang sahih yakni sistem Islam kaffah. Karena sistem sekuler kapitalis ini pengaruhnya sangat besar terhadap kelangsungan hidup manusia, mereka makin bebas dan tidak terarah, bahkan tujuan dari hidup manusia itu menjadi tidak jelas, sehingga apapun yang dilakukan tidak berlandaskan benar atau salah tetapi suka atau tidak. Dengan hidup yang bebas akan membuat manusia senang walaupun merugikan baik untuk dirinya maupun orang lain. Di tambah dengan kebijakan yang tidak tepat bahkan tidak manjadikan perubahan yang lebih baik malah justru makin meningkat terjadinya kerusakan pada manusia.

 

Masalah umat atau rakyat adalah tanggung jawab pemerintah maka sudah seharusnya bertanggung jawab dengan semua yang terjadi dengan mereka. Seperti halnya pelecehan seksual yang marak terjadi itu juga termasuk tugas pemerintah untuk menyelesaikannya. Memang tidak semudah membalikkan telapak tangan untuk menjaganya karena tidak ada batasan dalam pergaulan dan faktor kebebasan lainnya, tetapi itu adalah konsekuensinya sebagai penguasa dalam sebuah bangsa.

 

Sistem Islam memiliki seperangkat aturan khas yang mengatur sistem sosial dan pergaulan secara paripurna di setiap level komunitas masyarakat. Islam memiliki langkah preventif dan sistem sanksi yang berefek jera dan menutup celah terulangnya kasus serupa. Dari aspek preventif Islam membangun kerangka konsepnya sesuai fitrah manusia. Sesungguhnya Allah SWT. menciptakan naluri seksual pada laki-laki dan perempuan. Selanjutnya Islam memerintahkan agar laki-laki dan perempuan menutup aurat, bagi perempuan menutup aurat dengan menggunakan pakaian yang syar'i (Qur'an surat Al ahzab ayat 59) dan memakai kerudung (Qur'an surat An-Nur ayat 31), bagi laki-laki diperintahkan untuk menjaga pandangannya.

 

Islam melarang laki-laki dan perempuan berkhalwat (berduaan). Rasulullah saw. bersabda; "Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka jangan sekali -kali berpendirian dengan seorang perempuan yang bukan mahram karena yang ketiganya adalah setan." (HR.Ahmad)

 

Negara adalah bagian integral dalam sistem pendidikan yang ada, oleh karena itu negara bukan menyerukan pentingnya akadeisi untuk aware dengan potensi sexual harassement di lingkungan kampus. Maka negara berperan setrategis untuk mengontrol semua  tayangan maupun materi pemberitaan media. Karena situs-situs tidak senonoh menjadi stimulus bagi para pelaku pelecehan seksual.

 

Pelaku pelecehan wajib mendapatkan hukuman yang tepat sesuai aturan Islam sehingga ada efek jera bagi pelaku. Hukumannya bisa berupa penjara, membayar mahar, hingga kematian sesuai hasil ijtihad dalam sistem Islam. Tetapi semua ini bisa dilakukan jika sistem Islam kaffah diterapkan.

 

Wallahualam bissawab

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Post a Comment

Previous Post Next Post