Investasi untuk Perempuan: Menyejahterakan ataukah Merendahkan?




Oleh Triana Amalia 

Aktivis Muslimah


Dunia menghargai adanya perempuan dengan cara memberikan hari khusus pada tanggal 8 Maret. Nama peringatan itu disebut International Women Day (IWD). UN Women Indonesia kembali mengingatkan pentingnya berinvestasi atau memberi perhatian lebih terhadap kelompok perempuan dan kesenjangan gender.

 

Tema IWD tahun ini, yaitu “Invest in women: Accelerate progress.” Artinya “Berinvestasi pada perempuan: Mempercepat Kemajuan.” Organisasi PBB untuk Kesetaraan Gender dan Pemberdayaan Perempuan (UN Women) yang mengkampanyekan hal tersebut. 


Menurut Kepala Program UN Women Indonesia Dwi Faiz menyebut bahwa menjamin pemenuhan hak-hak perempuan dan anak perempuan di seluruh aspek kehidupan adalah satu-satunya cara untuk memastikan perekonomian yang sejahtera dan adil. Planet yang sehat untuk generasi mendatang juga tercapainya Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). 


Pun berbagai permasalahan yang dihadapi kelompok perempuan dalam segi implementasi hukum, mulai dari: perkawinan dini, kekerasan seksual, hingga kesetaraan di dunia kerja. Semua itu harus mempunyai payung hukum masing-masing dan dipertegas lagi implementasinya. (media online Liputan6.com, 01/03/2024)


Kampanye hari perempuan internasional tahun 2024 mengusung investasi pada perempuan sebagai bentuk hak asasi manusia bagi perempuan. Lalu memperbaiki ekonomi pasca Covid-19 untuk mencegah lebih dari 342 juta perempuan dan anak perempuan hidup dalam kemiskinan pada tahun 2030. Permasalahan konflik yang berakibat pada harga bahan bakar dan pangan, perkiraan terbaru menyebutkan bahwa 75% negara akan membatasi belanja publik pada tahun 2025, hal ini akan berdampak negatif pada perempuan. 


Para pendukung kampanya ini mengusulkan peralihan dari ekonomi hijau dan masyarakat peduli untuk memperkuat suara perempuan. Organisasi feminis memimpin upaya agar kemiskinan dan kesenjangan perempuan dihapuskan. Akan tetapi, negara-negara anggota PBB tersebut masih kekurangan dana dan hanya menerima 0,13 persen dari total bantuan pembangunan resmi. (media online News.Detik.com, 02/02/2024)


Penjelasan kampanye dalam hari perempuan internasional ini mendorong negara agar memberikan biaya lebih untuk perempuan berkarya atau bekerja. Jika sebuah negara berhasil berinvestasi bagi perempuan untuk bekerja dan memulihkan perekonomian negara. Itulah indikator keberhasilan negara menurut UN Women. 


Seorang perempuan yang hidup di zaman  kapitalisme sungguh menyedihkan. Untuk mendapat perlindungan pun harus berusaha "mapan" dahulu secara ekonomi. Perempuan seakan wajib bekerja. Bahkan di beberapa negara angka pernikahan semakin menurun karena dituntut harus mandiri secara finansial dan  tidak membutuhkan pernikahan. 


Fitrahnya wanita adalah sebagai ibu bagi peradaban dunia namun mirisnya sistem kapitalisme menghapuskan fitrah tersebut. Seorang perempuan wajib menjadi tulang punggung bagi dirinya sendiri. Perempuan dipaksa bersaing dengan laki-laki. Mereka tidak hidup berdampingan, tetapi bersaingan dalam mengumpulkan materi. Realita ini apakah impian kehidupan ideal di dunia? 


Kesetaraan gender hanya menjadi imajinasi kemajuan perempuan dari manusia kelas dua di dunia. Akibatnya perempuan terjebak dalam pergerakan ekonomi ala kapitalisme. Dunia yang berpusat pada materi membuat perempuan jatuh ke dalam kebijakan  pemerintah yang  mengacu pada peningkatan perekonomian. 


Sebuah institusi kehidupan yang menjaga keseimbangan kehidupan yaitu Islam akan menyejahterakan perempuan tanpa menabrak fitrahnya. Berbeda dengan kapitalisme yang tidak menghargai keberadaan seorang ibu rumah tangga yang katanya "tidak punya penghasilan" atau "bergantung pada suami". 


Pandangan Islam sebagai sebuah sistem pemerintahan justru menghormati perempuan. Dalam hadis yang diriwayatkan Muslim dikatakan bahwa, “Seorang kepala negara akan diminta pertanggungjawaban perihal rakyat yang dipimpinnya.” Hadis ini menjelaskan bahwa pemimpin negara wajib bertanggung jawab untuk memenuhi hak setiap individu, baik laki-laki maupun perempuan, termasuk dalam pendidikan dan kesempatan yang sama untuk berkarya. 


Islam mempunyai ketentuan yang terperinci tentang peran perempuan dan kiprahnya di tengah masyarakat. Perempuan boleh bekerja dan aktif di masyarakat asal tidak menyalahi kewajiban utamanya, yakni sebagai ummu wa rabbatul bait (ibu dan pengurus rumah tangga suaminya). 

Sistem pemerintahan Islam sudah berinvestasi besar membangun peradaban mulia dengan cara mendidik perempuan agar memahami tugasnya. 


Jika perempuan mampu menjalankan tugas utamanya dengan baik maka akan lahir generasi-generasi andal yang akan memimpin negara dan bangsa. Negara juga menerapkan sistem perekonomian Islam yang menyejahterakan seluruh masyarakat, baik laki-laki maupun perempuan, muslim maupun nonmuslim. Berdasarkan hadis Rasulullah Saw. yang artinya: 

“Kaum muslim berserikat dalam tiga perkara, yaitu padang rumput, air, dan api.” (HR Abu Dawud dan Ahmad).


Penjelasannya mengenai membagi kepemilikan kekayaan menjadi tiga, yaitu: umum, individu, dan negara. Harta milik umum berasal dari pengolahan sumber daya alam (SDA) yang tidak diprivatisasi layaknya perusahaan swasta di sistem ekonomi kapitalis. Sedangkan harta milik negara berasal dari pemasukan fai, ganimah, kharaj, jizyah, dan sebagainya. 


Sementara harta milik individu, negara tidak memberi batasan selama cara mendapatkan harta itu tidak melanggar syariat. Negara akan memanfaatkan harta milik umum dan negara untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, seperti: penyediaan layanan pendidikan, kesehatan, transportasi, dan keamanan. 

Pendapatan lainnya berasal dari zakat bagi golongan yang berhak menerima. Jadi, fakir miskin akan terus mendapatkan bantuan dari zakat sampai mereka keluar dari kemiskinan. 


Negara yang menerapkan sistem perekonomian Islam akan membuka lapangan pekerjaan bagi laki-laki. Bekerja merupakan tugas utama seorang laki-laki sebagai pencari nafkah. Negara akan membuka industri padat karya, memberikan lahan pertanian bagi siapa saja yang mampu mengurusnya, hingga memberikan modal tanpa bunga untuk setiap penduduk yang membutuhkan. 


Sebuah bukti dari sistem Islam telah memberikan keamanan  terhadap perempuan. Terkisah seorang muslimah yang dilecehkan lelaki Romawi dengan menyentuh jilbabnya. Wanita itu pun berteriak memanggil pemimpin Daulah Islam (negara yang menganut sistem pemerintahan Islam) dan didengar oleh Khalifah Muhammad bin Harun al-Rasyid yang bergelar Al-mu’tasim Billah. Seorang pemimpin di masa Bani Abbasiyah. 


Khalifah memerintahkan tentaranya untuk membebaskan Ammuriah, tempat wanita muslimah itu dilecehkan dari jajahan Romawi. Puluhan ribu pasukan digelar dari mulai gerbang ibu kota Baghdad hingga ujung Kota Aammuriah. Dari kisah ini tergambar keamanan seorang perempuan dari kekerasan seksual jika sistem pemerintahan Islam diterapkan. 


Demikian cara pandang Islam sebagai sebuah ideologi. Perempuan dan laki-laki hidup berdampingan sesuai fitrah atau tugas yang diberikan Allah. Tidak ada lagi kampanye kesetaraan gender yang membuat perempuan frustrasi hingga bunuh diri karena dipaksa keluar dari fitrahnya. Jadi, inilah investasi mulia yang membuat masyarakat sejahtera di dunia sampai ke akhirat.


Wallahualam bissawab.

Post a Comment

Previous Post Next Post