Ilusi Kesejahteraan, Perempuan Berdaya dalam Ekonomi di Sistem Kapitalis


Oleh : Reshi Umi Hani


Pemberdayaan Perempuan dalam kewirausahaan, telah menjadi salah satu isu penting di wilayah Kalimantan Timur yang telah menjadi fokus di banyak perangkat daerah. Tak terkecuali, bagi Dinas Kependudukan, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DKP3A) Kaltim yang tengah melaksanakan Rapat Koordinasi (Rakorda) PPPA seluruh Kabupaten/Kota se-Kaltim dengan topik bahasan tersebut.

Dalam Rakorda tersebut, ketua DKP3A Noryani Sorayalita bahwa sebagai bentuk pelaksanaan strategi Pengarusutamaan Gender (PUG), Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur berkomitmen dalam peningkatan pemberdayaan Perempuan berbasis Masyarakat, terkhusus kepada para Perempuan kepala keluarga (Pekka) melalui program Kesetaraan Gender dan Pemberdayaan Perempuan. 

Senada dengan ungkapan Sekertaris Kabupaten  PPU Tohir juga menambahkan bahwa persoalan ekonomi masyarakat yang kompleks salah satunya juga dimungkinkan karena kondisi seperti ketimpangan dan belum setaranya peluang bagi seluruh gender. Kemudian diikuti pula dengan masalah sosial, Kesehatan, dan limgkungan.

Begitu manis tawaran pada perempuan untuk dapat berdaya dan setara dengan kaum pria dalam hal pemberdayaan ekonomi. Padahal pemberdayaan ekonomi perempuan adalah racun yang bisa mematikan fitrah perempuan. Perempuan menjadi “mesin pencetak uang” demi mengentaskan kemiskinan. Pemberdayaan ekonomi perempuan dianggap menjadi solusi untuk meningkatkan ekonomi rakyat dan jalan keluar dari kebuntuan masalah ekonomi. Pemberdayaan perempuan dalam ekonomi akan memberatkan tugas perempuan. Peran mereka teralihkan pada hal yang sifatnya mubah.

Apakah betul jika perempuan berdaya, taraf ekonomi rakyat akan naik dan rakyat akan sejahtera? Ada upaya pemulihan ekonomi dengan melibatkan UMKM yang sudah dijalankan kaum perempuan. Akankah ini berhasil atau justru akan memunculkan masalah baru bagi perempuan? Ke mana seharusnya arah pemberdayaan perempuan menuju? 

Menilik ungkapan seorang pakar ekonomi Islam yang dikutip dari laman muslimahnews.net seorang pakar ekonomi Islam Nida Saadah, S.E., M.E.I., Ak. Menyatakan bahwa pemeberdayaan perempan secara ekonomi akan dikaitkan dengan ekonomi yang sulit di tengah masyarakat. Kemudian seringkali dikaitkan dengan aspek kesejahteraan dan kebutuhan keuangan dalam rumah tangga. Namun, ini adalah ilusi kesejahteraan perempuan dalam peradaban kapitalisme sekuler. 

Penting untuk memahami bahwa dorongan negara-negara untuk memberdayakan perempuan dalam ekonomi tidaklah tulus dalam rangka meningkatkan kualitas hidup para perempuan dan keluarga mereka. penting untuk memahami bahwa dorongan negara-negara untuk memberdayakan perempuan dalam ekonomi tidaklah tulus dalam rangka meningkatkan kualitas hidup para perempuan dan keluarga mereka.

Sistem kapitalisme mengeksploitasi bahasa feminisme dan kesetaraan, mempromosikan narasi pemberdayaan perempuan dalam ekonomi adalah demi keuntungan finansial murni. Narasi ini tidak ada artinya selain kebohongan kapitalis dan feminis yang telah menipu kaum perempuan.

Rusaknya perempuan dalam sistem Kapitalis saat ini tentu memunculkan spekulasi, adakah regulasi lain yang dapat memberdayakan perempuan sesuai fitrah dan dapat memuliakan posisi perempuan?

Regulasi Islam tentu memiliki pengaturan yang lengkap terkait dengan pemberdayaan perempuan. Pemberdayaan perempuan dalam Islam bukan sekadar ajang memperkaya diri dengan materi. Berdaya dalam Islam adalah memaksimalkan potensi perempuan sebagai pilar peradaban. Bukan mengeksploitasi tenaga, waktu, dan pikirannya dengan apa yang disebut sebagai pemberdayaan ekonomi perempuan.

Bila kaum perempuan sudah menjadi target pasar dalam pemberdayaan ekonomi, akan berakibat fatal terhadap keberlangsungan kualitas generasi. Pasalnya, di tangan kaum perempuanlah masa depan generasi dipertaruhkan. Apa jadinya bila kaum ibu didorong keluar rumah sebagai pelaku pembangunan ekonomi untuk dunia? Keluarga berantakan. Bangunannya mengalami kekacauan.

Pemberdayaan perempuan dalam Islam bukanlah dengan menjadikan mereka sebagai tumbal ekonomi negara, melainkan sebagai ibu pendidik generasi yang dinafkahi suami dan walinya. Tidak ada situasi yang membuat perempuan mau tidak mau harus bekerja karena regulasi penafkahan dalam peradaban Islam diwajibkan hanya kepada laki-laki. Perempuan sendiri memiliki hak finansial sejak lahir hingga meninggal.

Jika suami dan wali tidak mampu, tanggung jawab itu beralih pada negara. Islam yang memiliki sistem keuangan Baitulmal. Jika seorang perempuan tidak memiliki ayah karena ayahnya sudah wafat, dan tidak memiliki suami, misalnya, karena bercerai, juga tidak memiliki anak laki-laki yang balig dan tidak memiliki kerabat laki-laki atau memiliki dengan kondisi tidak mampu, maka perempuan tersebut akan dinafkahi negara.

Bagi muslimah, sudah seharusnya menstandarkan segala hal dan peristiwa dengan sudut pandang Islam. Dengannya, ia akan mengerti penyebab sebenarnya kondisi buruk yang menimpa dirinya, keluarga, masyarakat, dan juga bangsanya. Dengan pandangan mendalam, ia akan melihat begitu banyaknya kejadian yang bertentangan dengan syariat Islam. 

Sistem Islam akan menjadi pemimpin dunia dan model dalam penuntasan berbagai persoalan, termasuk dalam hal pemberdayaan Perempuan dan selainnya. Pada akhirnya, suasana kehidupan yang penuh penderitaan dan kesengsaraan akan berganti dengan suasana baru yang penuh kebahagiaan, kesejahteraan, dan keberkahan.

Post a Comment

Previous Post Next Post