Harga Pangan Naik Menjelang Ramadan, Sudah Tradisi?

 


Oleh. Pien Ariesma, S.T.P 

(Aktivis Muslimah) 


Kenaikan harga bahan pangan menjelang bulan Ramadan semakin dirasakan oleh masyarakat. Seolah menjadi ritual tahunan karena kasusnya selalu berulang.


Di Kota Cimahi, harga beras kualitas bagus mencapai Rp 19.000, 1 kg ayam dihargai Rp 40.000 dan cabai merah Rp 130.000 per kilogram.(detiknews, 01/03/2024) 


Seolah menjadi tradisi, kenaikan harga bahan pangan selalu terjadi. Penyebabnya karena meningkatnya permintaan kebutuhan pangan menjelang Ramadan. Hal ini yang seringkali dimafaatkan oleh beberapa pihak untuk mencari keuntungan dengan menimbun atau menaikkan harga. Semangat berbagi di bulan Ramadhan, malah ditunggangi kepentingan orang-orang yang mencari cuan. 


Kondisi ini tentunya mengganggu fokus dan kekhusyukan umat Muslim dalam beribadah. Ramadan yang seharusnya disambut dengan sukacita, seringkali jadi sebaliknya. Para ibu malah was-was dengan budget keuangan yang membengkak. Khawatir tidak bisa mencukupi kebutuhan keluarga selama Ramadan. Keinginan untuk bersedekah di bulan Ramadan pun terpaksa direm, karena terganjal kebutuhan. Padahal pahala tujuh puluh kali lipat menanti dan sayang jika dilewatkan.


Selain itu, ada kesalahpahaman dalam menyikapi ibadah shaum Ramadan. Shaum yang seharusnya merupakan ibadah untuk memuliakan jiwa, malah menjadi ibadah yang memuliakan perut. Banyak yang menganggap wajar untuk memanjakan diri dengan aneka makanan dan minuman, setelah seharian menahan lapar dan dahaga. Sehingga, pengeluaran selama Ramadan malah semakin banyak. 

Islam mendorong setiap Muslim untuk mempersiapkan diri sebaik mungkin dalam menyambut Ramadan.

 Membekali diri dengan ilmu-ilmu fiqih yang berkaitan dengan ibadah shaum dan ibadah-ibadah lainnya di bulan Ramadan, dan mulai membiasakan amal saleh jauh-jauh hari sebelum Ramadan. 


Di masa Rasul dan para sahabat, bahkan sampai di masa kekhilafahan, persiapan ini tidak hanya dilakukan oleh masing-masing individu saja. Negara pun mengambil peran dalam mengkondikan masyarakat agar bisa bersiap menyambut Ramadan dengan sebaik mungkin.


Inspeksi pasar dilakukan, stok bahan pangan dipastikan mencukupi kebutuhan masyarakat. Pemerintah memastikan harga bahan pangan terkendali dan sesuai daya beli masyarakat. Ini membuat rakyat tenang, hingga akhirnya bisa menyiapkan amal terbaik, tanpa perlu khawatir kebutuhannya tidak terpenuhi.


Pemahaman yang benar terkait ibadah shaum Ramadan pun senantiasa ditanamkan, termasuk pola konsumsinya. Sahur dan berbuka secukupnya, tidak berlebih-lebihan dalam mengonsumsi makanan yang justru bisa menimbulkan rasa malas untuk beribadah. Umat didorong untuk peduli sesamanya, berbagi dengan orang-orang yang membutuhkan. Bahkan, orang-orang kaya dan pejabat-pejabat negara membukakan pintu rumah mereka, bagi siapapun untuk sahur dan berbuka bersama.

Khilafah mendorong masyarakat untuk bersegera dalam kebaikan sesuai tuntunan Allah dan Rasul-Nya.


Negara memiliki kewajiban untuk menjamin rakyatnya agar bisa melewati Ramadan dengan sukacita dan khusyuk dengan ibadahnya. Sehingga, bisa tercapai tujuan yang ingin diraih selama shaum Ramadan, yaitu ketakwaan. Bukan hanya individu, tapi juga ketakwaan menyeluruh di masyarakat dan juga negara.


Oleh karena itu sudah semestinya negara menjaga stabilitas harga agar masyarakat bisa beribadah dengan tenang. 

Negara bisa mengambil alih proses alurnya distributor barang. Sehingga bisa menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok masyarakat. 


Wallahu a'lam bishawab

Post a Comment

Previous Post Next Post