Harga Beras Melambung Tinggi, Ekonomi Rakyat Makin Berat




Oleh Sahna Salfini Husyairoh, S.T

Aktivis Muslimah


Para warga Indonesia terutama ibu rumah tangga dipusingkan dengan kenaikan harga beras. Menurut Badan Pangan Nasional (Bapanas) menilai jika harga beras kembali turun level Rp10.000/kg untuk beras medium, maka petani akan menangis karena otomatis harga gabah tertekan ke bawah lagi. (media online ekonomi.bisnis)


Permasalahan kenaikan harga beras beras dinilai berkaitan dengan perubahan iklim yang mengakibatkan produksi beras menurun, kelangkaan beras terjadi, harga beras melambung tinggi. Padahal permasalahan beras erat kaitannya dengan kebijakan negara terhadap aspek produksi beras di hulu dan aspek distribusi di hilir.


Dalam sistem kapitalis demokrasi, negara hanya bertindak sebagai regulator yang membiarkan petani berjuang secara mandiri dalam melakukan produksi beras. Kebijakan negara yang hanya berpihak pada kepentingan para rakyat pemilik modal menjadikan petani makin terpinggirkan. Di sektor hulu, makin berkurangnya lahan pertanian akibat alih fungsi lahan dilakukan negara demi menjalankan proyek pembangunan kapitalistik.


Gagal panen makin sering terjadi adalah bencana alam akibat penggundulan hutan yang dilegalisasi, selain itu sarana prasarana pertanian tak memadai, permasalahan benih yang mahal, subsidi pupuk yang terhambat, produksi pertanian terhambat.


Atas nama liberalisasi ekonomi negara memberikan keleluasaan pada pihak swasta menguasai produksi pupuk dan benih padi. Harga pupuk dan benih ikut melambung tinggi. Mahalnya harga BBM menjadikan distribusi beras memakan biaya tinggi. Penggilingan padi kecil kalah saing dengan industri penggilingan padi dengan modal besar. 


Rantai distribusi makin rusak karena makin banyak jumlah pengusaha (ritel modern) dalam mendistribusikan beras. Ada larangan bagi petani menjual langsung hasil panennya ke konsumen. Penguasaan distribusi beras memungkinkan terjadinya permainan harga. Penahanan pasokan (monopoli) oleh pelaku usaha, yang tentu merugikan petani.


Beras adalah kebutuhan pokok rakyat, salah satu komoditas yang harus dijaga stok dan stabilitas harganya sehingga seluruh rakyat dapat mengaksesnya. Namun kebijakan pengelolaan beras di sektor hulu maupun hilir diatas landasan kapitalisme liberalisme mustahil diwujudkan. Harga beras mengalami fluktuasi dan semakin menyengsarakan rakyat.


Dalam pandangan Islam, beras sebagai kebutuhan pokok salah satu komoditas strategis dikelola negara termasuk distribusinya. Negara dalam Islam menjadikan pemenuhan kebutuhan pokok rakyat, individu per individu sebagai satu kewajiban negara. Negara akan mewujudkan ketahanan pangan ditandai dengan adanya jaminan pemenuhan kebutuhan politik pangan. Kemandirian negara mengelola pangan dan harga pangan terjangkau oleh seluruh masyarakat. Ketersediaan pangan terkait dengan kebijakan masalah pertanian dan ketersediaan infrastruktur. 


Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:


وَلَوۡ أَنَّ أَهۡلَ ٱلۡقُرَىٰٓ ءَامَنُواْ وَٱتَّقَوۡاْ لَفَتَحۡنَا عَلَيۡهِم بَرَكَٰتٍ مِّنَ ٱلسَّمَآءِ وَٱلۡأَرۡضِ وَلَٰكِن كَذَّبُواْ فَأَخَذۡنَٰهُم بِمَا كَانُواْ يَكۡسِبُونَ


"Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan."

(QS. Al-A'raf 7: Ayat 96)



Wallahualam bissawab

Post a Comment

Previous Post Next Post