Eksploitasi ART Membutuhkan Solusi Tuntas

 


Oleh : Yanti Irawati 


Dalam sebuah rangkaian peristiwa yang mengejutkan dan memilukan, kasus eksploitasi dan penganiayaan terhadap asisten rumah tangga (ART) kembali mencuat ke permukaan, menyoroti perlunya tindakan yang lebih tegas dan solusi fundamental dari Jatinegara, Jakarta Timur, hingga Tanjung Duren, Grogol Petamburan, Jakarta Barat, kasus-kasus penganiayaan dan penyekapan terhadap ART belakangan ini telah menggugah kesadaran publik.


Fakta-fakta yang tercatat oleh beberapa media besar di Indonesia menunjukkan betapa seriusnya masalah ini. Dikutip dari Liputan6.com dilaporkan bahwa lima orang ART yang masih di bawah umur di Jatinegara, Jakarta Timur, menjadi korban penganiayaan oleh majikannya. Sementara itu, Pusat Perlindungan Perempuan dan Anak (PPPA) DKI Jakarta terlibat dalam mendampingi ART berinisial I (23), yang menjadi korban penyekapan oleh majikannya di Tanjung Duren, Jakarta Barat, seperti dilaporkan oleh ANTARA.


Kasus serupa dilaporkan dalam berita TRIBUNNEWS.COM, menggarisbawahi betapa rentannya posisi ART dalam struktur sosial dan ekonomi saat ini, dan berita KOMPAS.com juga melaporkan bahwa lima ART di Jatinegara menjadi korban penganiayaan, dan lima lainnya kabur dari majikannya pada Senin dini hari (12/2/2024), bersembunyi di rumah seorang dokter, mencari perlindungan. Terkait dengan berita tersebut, ada dua aspek penting yang perlu diperhatikan.


Pertama, dalam konteks struktur sosial, ART sering kali berada di posisi yang rentan dan memiliki keterbatasan dalam memperjuangkan hak-haknya. Mereka seringkali berhadapan dengan kondisi kerja yang tidak adil, pelecehan, dan bahkan kekerasan fisik atau psikologis dari majikannya. Keterbatasan akses mereka terhadap perlindungan hukum dan dukungan sosial membuat mereka menjadi sasaran empuk untuk penyalahgunaan kekuasaan.


Kedua, dari segi ekonomi, ART seringkali dipekerjakan dalam kondisi yang tidak menguntungkan, dengan bayaran yang rendah dan seringkali tanpa jaminan sosial. Hal ini menunjukkan ketidaksetaraan yang serius dalam distribusi kekayaan dan akses terhadap kesempatan ekonomi. Dalam kasus lima ART di Jatinegara yang menjadi korban penganiayaan, keputusan mereka untuk melarikan diri mencari perlindungan menyoroti ketidakmampuan sistem untuk melindungi hak-hak mereka dan memberikan perlakuan yang adil.


Dengan demikian, kasus-kasus seperti ini membutuhkan perhatian serius dari pemerintah, lembaga perlindungan hak asasi manusia, dan masyarakat secara keseluruhan. Perlindungan yang lebih baik terhadap hak-hak para ART, termasuk hak atas keadilan, keselamatan, dan kesejahteraan ekonomi, harus menjadi prioritas dalam upaya membangun masyarakat yang lebih inklusif dan berkeadilan.


Kasus-kasus ini bukan hanya menunjukkan pelanggaran hak asasi manusia, namun juga mengindikasikan adanya kegagalan sistemik dalam melindungi para pekerja rentan ini. Media Muslim Center menyatakan bahwa eksploitasi terhadap ART tidak hanya memerlukan perhatian dan tindakan hukum yang tegas, namun juga membutuhkan solusi tuntas dari sistem khilafah.


Menurut pandangan ini, khilafah dianggap sebagai solusi yang dapat menjamin perlindungan hukum dan sosial bagi semua, termasuk ART. Dalam sistem khilafah, penerapan hukum Islam secara kaffah diharapkan dapat mencegah terjadinya eksploitasi dan memberikan perlindungan yang adil bagi pekerja. Keyakinan ini bersandar pada prinsip-prinsip keadilan, perlindungan hak asasi, dan kewajiban moral untuk melindungi yang lemah dalam Islam.


Peristiwa-peristiwa yang terjadi menjadi bukti nyata bahwa perlunya kembali kepada penerapan nilai-nilai dan hukum Islam secara kaffah untuk mengatasi masalah eksploitasi ART. Masyarakat dan pemerintah diajak untuk bekerja sama, mencari solusi yang bukan hanya sementara, namun tuntas dan berkelanjutan, dengan khilafah dianggap sebagai jawabannya. Melalui pendekatan ini, diharapkan semua bentuk eksploitasi dapat dihapuskan, dan keadilan serta kesejahteraan bagi setiap individu dapat terwujud.

Post a Comment

Previous Post Next Post