Banjir disetiap Hujan, Sampai Kapan?


Oleh: Annisa Putri, S.Pd 
(Pendidik)

 

Menurut laporan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), selama bulan Februari 2024, telah terjadi  beberapa  bencana alam di Indonesia. Adapun bencana paling banyak terjadi adalah banjir. Setidaknya ada 16 kejadian banjir atau 59% dari total bencana pada periode tersebut. (cnbc.com)


Di Kalimantan sendiri, wilayah Kabupaten Berau beberapa hari belakangan ini selalu diguyur hujan cukup lebat, sehingga berdampak ada beberapa kampung mengalami banjir. Dampak lainnya akibat hujan terus menerus, gunung yang sedang dikeruk ataupun pasca dikeruk airnya mengalir dan mengendap di drainase. Sebab air yang mengalir ke drainase bahkan badan jalan bukanlah air semata namun lumpur.(Swarakaltim.com)


Selanjutnya itu dikutip dari laman korankaltim.com,  warga Kampung Buyung-Buyung, Kecamatan Tabalar dan Kampung Pilanjau, Kecamatan Sambaliung, Kabupaten Berau menjadi korban banjir dan tanah longsor pada Minggu (17/3/2024). Dampaknya, satu pondok nelayan rusak akibat banjir, sedangkan akses jalan masyarakat menuju tempat ibadah terputus karena jembatan kayu yang menjadi jalur utama terkena dampak longsor. 


Banjir Setiap Hujan Sampai Kapan?


Hujan lebat yang turun ditambah dengan durasinya yang lama seringkali menjadi pemicu terjadinya banjir, namun tidaklah elok menyalahkan hujan yang memang turun secara alami kedatangannya tak bisa ditolak manusia. Permasalahan banjir juga nampaknya sudah menjadi hal yang lumrah ditengah masyarakat, hampir setiap tahunnya berita banjir dibeberapa wilayah tanah air terus ada.


Setelah melihat fenomena banjir yang masih sering dijumpai dan merugikan masyarakat, seakan menandakan ketidak efektifan penguasa dalam menangani masalah banjir ini. Terbukti dengan terulangnya terus menerus bencana banjir ketika musim penghujan turun. Seharusnya masalah banjir sudah bisa dituntaskan manakala diurusi dengan tepat dan serius dari akar penyebab banjir terjadi.


Penanganan pemerintah untuk mencegah banjir sebenarnya sudah dilakukan seperti drainase dan alat penyedot lumpur namun banjir tetap terjadi. Padahal kalau dikaji lebih dalam faktor hulu atau penyebabnya adalah masifnya batu bara dan kelapa sawit yang akan gantikan batu bara nantinya. Banjir terjadi karena salah tata kelola alam dengan paradigma kapitalis bukan hujan lebat semata.


Sistem kapitalisme yang berkuasa hari ini pula, nampak dalam pengelolaan Sumber Daya Alam (SDA) bukan diberikan untuk rakyat, melainkan lebih berpihak kepada pihak swasta alias asing. Memberikan izin pada perusahaan asing  mengeruk SDA untuk meraup keuntungan pribadi. serta tidak memikirkan dampak kerusakan lingkungan dari kegiatan proyek tersebut. Penyalahgunaan lahan hutan yang berfungsi untuk menyerap air, justru dipakai untuk membangun perumahan atau perkantoran. Sehingga semakin sedikitnya lahan untuk menyerap air, menjadi salah satu pemicu munculnya banjir ketika hujan turun.


Dengan begitu, persoalan banjir tidaklah bisa dianggap hal yang remeh. Perlu penanganan yang serius dan sistemik untuk bisa mewujudkan negeri bebas banjir. Namun, tentu hal itu sulit bahkan tidak bisa didapatkan dalam naungan Kapitalisme yang asasnya hanya materi dan keuntungan belaka. Sebab solusi yang diberikan bukan untuk menyelesaikan, yang ujungnya kembali masalah banjir akan terus selalu ada tiap tahunnya bagaikan tamu rutinan pada musim penghujan.


Islam Mengatasi Banjir


Hujan merupakan berkah dari Allah SWT untuk manusia, hewan dan tumbuhan. Adapun berkah itu menjadi musibah adalah akibat ulah tangan manusia sendiri, yang tidak bisa memanfaatkan alam yang telah Allah titipkan dengan benar bahkan menyelisihi syariatnya, maka akibatnya bencana dan musibah pun datang silih berganti.


Dalam sistem Islam, negara yang memakai hukum-hukum Allah sebagai aturan dalam bernegara akan mengatasi permasalahan dari akarnya, sehingga mampu menyelesaikan masalah dengan tuntas. negara akan mengelola SDA yang merupakan kepemilikan umum dengan tepat tanpa menabrak syariat, pemanfaatannya diberikan untuk seluruh warga negara. Negara tidak akan menjualnya pada investor asing, karena negara sendiri yang akan kelola tanpa merusak lingkungan yang menyebabkan  berbagai bencana alam.


Negara juga tidak memakai lahan-lahan yang berfungsi dalam penyerapan air, jika tanah yang ada kurang untuk menampung jumlah air ketika hujan, maka negara akan membuat bendungan-bendungan yang mampu menampung air hujan. Tak lupa sistem penanggulangan sampah juga akan diperhatikan, agar tidak terjadinya penumpukkan sampah yang menimbulkan banjir.


Dalam sistem Islam pun akan membuat aturan tegas terkait kepemilikan lahan dengan memberikan syarat-syarat tertentu ketika individu hendak membangun rumah atau bangunan lainnya diatas tanah. Pun negara akan memberikan sanksi yang tegas pula apabila individu melanggar aturan yang telah ditetapkan negara.


Ketika terjadi bencana alam pun kholifah alias pemimpin dalam Islam akan cepat dan sigap untuk mengerahkan seluruh pasukan yang sudah dipersiapkan untuk mengevakuasi dan membantu korban. Selain itu negara akan menyediakan tenda, makanan, bantuan kesehatan yang layak kepada korban agar tidak menderita berbagai penyakit. 


Tak lupa kholifah juga mengirimkan para ulama untuk memberikan nasihat pada korban untuk bersabar atas apa yang mereka alami dan menjadikan sebagai ajang muhasabah yang menimpa mereka,  agar tetap bisa meningkatkan ketaqwaan kepada para Allah Ta'ala


Setelah itu negara terus mensosialisakan dan menekankan kepada seluruh warga negara untuk menjaga lingkungan yang telah Allah titipkan, dengan menanamkan pada diri mereka menjaga kebersihan merupakan bentuk ketaatan kepada Allah SWT. Dibarengi dengan penjagaan SDA oleh negara dengan baik, dan membuat berbagai kebijakan untuk menangani banjir, serta mencegah segala sesuatu hal yang dapat mendatangkan bencana banjir.


Begitulah sedikit potret detailnya pengaturan dalam sistem Islam, yang mana dalam setiap kebijakannya selalu terikat dengan hukum syara, sehingga menghasilkan solusi-solusi efisien untuk menyelesaikan permasalahan dengan tuntas. Sebab Islam berasal langsung dari sang pencipta alam semesta, tentu yang mengetahui seluk beluk umat manusia.


Dengan demikian, sudah selayaknya bagi seorang muslim hanya menoleh pada Islam sebagai solusi permasalahan dalam hidup dan tidak mengambil apapun yang tidak datang dari Islam. sebab, Islam sudah sempurna dan tidak ada yang lebih tinggi darinya. Sebagaimana Sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam: "Islam itu tinggi dan tidak ada yang mengalahkan ketinggiannya."

Post a Comment

Previous Post Next Post