Ayah Diberi Cuti, Mampukah Menjadi Solusi?

 


Oleh Khansa Mustaniratun Nisa

Mentor Kajian Remaja


Jika biasanya kita mendengar cuti melahirkan hanya untuk kaum wanita, kini akan ada “cuti ayah” yang turut menjadi kebijakan untuk mendampingi istrinya yang akan melahirkan. Ya, pemerintah kini sedang merancang aturan bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) pria agar bisa ikut menikmati 'cuti ayah' untuk mendampingi istrinya melahirkan dan mengasuh bayi yang baru lahir. Hal tersebut termuat di dalam Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) mengenai manajemen ASN yang saat ini sedang digodok bersama Komisi II DPR. (idntimes.com, 14/3/23)


Menurut Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Reformasi Birokrasi (PANRB) Abdullah Azwar Anas, dengan adanya pemberian hak cuti diharapkan kualitas proses kelahiran anak bisa berjalan dengan baik. Menurutnya, fase tersebut sangat penting guna menyiapkan sumber daya manusia terbaik penerus bangsa.


Bila menginginkan generasi berkualitas, sejatinya tak cukup hanya dengan mendampingi masa kelahiran saja. Masih banyak faktor lain yang perlu diperhatikan seperti membersamai dalam pengasuhan dan pendidikan di rumah, mengiringi tumbuh kembangnya saat memasuki usia remaja dan masih banyak lagi. Oleh karena itu, pembentukan generasi yang berkualitas membutuhkan supporting sistem yang kuat dan berkualitas sepanjang hidup anak, termasuk ayah berkualitas.


Mirisnya, sosok ayah saat ini kurang bila dikatakan berkualitas. Walau ada, mungkin hanya segelintir saja. Dalam banyak kasus, tak sedikit anak yang tidak lagi bangga kepada ayahnya. Entah karena ayah terlalu sibuk bekerja, sosok ayah yang mudah emosi, atau bahkan ayah yang melecehkan anak kandungnya sendiri. Banyak rumah tangga yang rusak tersebab laki-laki gagal menjadi suami dan ayah. Akibatnya, tidak sedikit anak yang hanya dibesarkan raganya oleh ayah, tetapi jiwanya telantar hingga mudah terbawa arus sekuler-liberal.


Sulitnya mencari lapangan pekerjaan pun menjadi masalah pagi para pencari nafkah. Alhasil, sosok suami atau ayah sangat tersibukkan mencari lapangan pekerjaan bahkan tak sedikit yang depresi akibat hal ini. Imbasnya, wanitalah yang kemudian maju untuk mencari nafkah karena ternyata sistem kapitalis saat ini lebih memudahkan wanita untuk bekerja dibanding para lelaki.


Kondisi seperti ini akan membaik tatkala Islam dijadikan solusi, bukan sekedar agama. Karena Islam menjadikan kualitas generasi tidak hanya menjadi tanggung jawab orang tua, namun juga disertai dengan supporting sistem, termasuk peran masyarakat dan negara dengan segala kebijakannnya dalam berbagai bidang.


Sebuah keluarga dikatakan mempunyai ketahanan tatkala seorang ayah mampu memenuhi kebutuhan anggota keluarganya. Kebutuhan di sini mencakup naluri, fisik dan akal. Terpenuhinya seluruh kebutuhan tersebut membawa pada suasana kehidupan keluarga yang harmonis, tenang, dan tenteram.


Memang benar ibu adalah sekolah pertama bagi anak-anaknya. Namun, di tangan para ayahlah kepastian berhasil atau tidaknya generasi terdidik. Artinya, suami dan istri harus saling bekerja sama dalam membina keluarga yang kokoh. Mari, kita lihat bagaimana gambaran sosok ayah yang turut andil dalam pendidikan anak-anaknya dalam firmanNya :


“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya, “‘Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.'” (TQS. Luqman [31]: 13)


Tentu tak cukup hanya pada tahap ayah dan ibu saja. Rasanya akan tetap sulit bilamana lingkungan dan negara tidak turut mengondisikan pendidikan terbaik bagi generasi. Islam sebagai ideologi yang rahmatan lil ‘alamiin berperan penuh dalam hal ini. Bagi ibu dikondisikan untuk fokus menjadi ummu wa rabbatul bait. Bagi ayah dikondisikan untuk tenang dan mudah dalam mencari nafkah berikut dengan menjalankan tanggung jawabnya yang lain. Kemudian kurikulum pendidikannya pun sejalan dengan lingkungan masyarakat.


Hal tersebut bukan angan belaka. Peradaban Islam telah berhasil membuktikannya. Hampir 14 abad lamanya sistem Islam tegak di muka bumi. Dari keluargalah lahir tokoh-tokoh besar. Siapa yang tidak tahu Abdullah bin Umar ra., Abdullah bin Zubair ra., Abdullah bin Abbas ra. (Ibnu Abbas), Usamah bin Zaid ra., hingga generasi Shalahuddin al-Ayyubi dan Muhammad al-Fatih, mereka semua tidak hanya lahir dari rahim para ibu yang dahsyat, tetapi mereka juga hasil didikan para ayah yang hebat dan didukung oleh sistem pendidikan Islam yang kuat.


Dengan demikian, bila ingin generasi berkualitas maka tak cukup hanya memberikan cuti untuk menemani selama lahiran, tetapi juga kondisi sang ayah yang harus stabil. Stabil di sini dari sisi lancar dalam mencari nafkah juga ayah yang mengetahui ilmu mendidik anak. Selain itu, sistem pendidikan dan sistem kehidupan masyarakat pun harus turut sejalan agar kondisi stabil dan mudah dalam mewujudkan generasi berkualitas.


Wallahu a’lam bish shawab.

Post a Comment

Previous Post Next Post