Sistem Islam Pemecah Belah? Tanda Islamophobia Masih Ada!


Oleh: Suci Nurani


Akademisi dari Center for Religius and Cross-Cultural Studies (CRCS) Universitas Gajah Mada, Mohammad Iqbal Ahnaf, mengingatkan pemerintah dan masyarakat untuk tetap mewaspadai narasi-narasi kebangkitan khilafah. Menurutnya narasi-narasi tersebut berpotensi untuk mendapatkan momentum pada 2024 yang bertepatan dengan 100 tahun runtuhnya Kekhilafahan Utsmaniyah.


"Potensi ancaman dari ideologi tranasional itu akan selalu ada. Gagasan khilafah yang ditawarkan menjadi semacam panacea atau obat segala macam penyakit dan mampu menyembuhkan kekecewaan, ketidakadilan, dan emosi negatif lainnya, jelas (itu) menggiurkan bagi beberapa masyarakat " kata Iqbal Ahnaf, kamis(11/1/2024). (beritasatu.com/11/1/2024)

  

Tuduhan sensitif dan mudah memprovokasi ga umat agar menolak khilafah adalah narasi keji. Mereka menuduh bahwa pejuang khilafah selama ini berpotensi menghancurkan asas persatuan bangsa yang telah terajut lama. Benarkah khilafah akan merusak persatuan dan memecah belah bangsa?


Realitanya menunjukan bahwa selama ini sudah ada perselisihan antar elemen masyarakat, bahkan sesama partai politik, padahal khilafah belum ada. Jadi pertanyaan tadi hanyalah untuk menolak khilafah. Tuduhan itupun tidak memiliki bukti dan bertolak belakang dengan fakta sejarah khilafah. Dari sini, jelas ada provokasi keji agar umat merasa terancam dengan khilafah.


Padahal khilafah adalah ajaran Islam yang diturunkan untuk seluruh umat manusia. Jejak sejarah membuktikan bahwa  pemerintahan Islam (khilafah) pernah menyatukan berbagai suku bangsa dari Maroko hingga Merauke menjadi satu wilayah kekuasaan dan semuanya diperlakukan sama.


Khilafah bukan hanya menyatukan penduduk muslim, tetapi warga negara yang bukan beragama Islam pun tetap dilindungi dan mendapatkan hak-haknya sebagai rakyat. Juga tidak boleh memaksa rakyat untuk berpindah keyakinan, namun mereka wajib tunduk dan patuh pada aturan kemasyarakatan yang khilafah terapkan.


Salah satu contoh keadilan khilafah terhadap warga negara yang bukan beragama Islam tetapi tunduk dan patuh terhadap peraturan khilafah (kafir zimmi), bisa dilihat dalam perlakuan Khalifah Umar R.A. ketika melihat kafir zimmi yang sudah tua meminta-minta, beliau berkata


"sungguh kami bertindak tidak adil jika kami memungut jizyah (pajak) ketika engkau masih muda kemudian kami biarkan engkau setelah tua renta".


Beliau R.A. kemudian mengajak orang tua itu kerumahnya dan memberikan makanan, tidak hanya membebaskan nya dari jizyah, Khalifah Umar R.A. memberinya harta dari baitul mal. Dari sini dapat kita lihat bahwa dari segi keadilan saja sangat menentramkan, apalagi dari segi lainnya.


Sebab, khilafah (sistem pemerintahan Islam) penerapannya di dukung oleh dalil-dalil syara sehingga tidak terbantahkan. Maka dari itu mendiskusikan, mendakwahkan, bahkan memperjuangkannya untuk tegak kembali adalah suatu kewajiban terutama bagi seorang muslim, sekalipun rintangan dan kesulitan terus menghalangi.


wallahualam bishshowwab.

Post a Comment

Previous Post Next Post